Natal: Yesus Sang Allah yang Berinkarnasi

Going Deeper, God's Words, 06 December 2019
Sungguhkah bayi yang lahir sekitar 2000 tahun yang lalu merupakan Allah yang berinkarnasi? Apakah dia punya ciri-ciri sebagai Allah?

Momen Natal sudah di depan mata. Tatkala tulisan ini terbit, mungkin IGNITE People sedang mempersiapkan momen Natal. Mungkin juga akan banyak tulisan di luar sana yang membahas tentang menjadikan momen Natal sebagai perayaan yang bukan hanya rutinitas semata, tapi untuk sungguh-sungguh dapat merefleksikan maknanya. Saya juga percaya bahwa dengan banyaknya tulisan yang akan membawa kita untuk memahami momen dan arti Natal sudahlah cukup untuk membawa suatu Natal yang lebih ideal di tengah keberadaan manusia. Sebagian dari kita juga mungkin telah memahami bahwa Natal merupakan pertunjukan kasih Allah yang begitu besar bagi umat manusia dengan memberikan Putra-Nya yang tunggal – Yesus Kristus – untuk menjadi protagonis utama dalam mahakarya yang telah Allah rancang untuk menebus manusia.

Image by Vickie McCarty from Pixabay 

Setelah punya pemahaman tentang makna Natal yang lebih tepat dengan tidak hanya menjadikannya sebagai rutinitas, maka pertanyaan lain yang mungkin masih seiringan dengan kehadiran Yesus yang dapat ditanyakan adalah: Sungguhkah Yesus yang lahir sekitar 2000 tahun yang lalu merupakan Allah yang berinkarnasi? Apakah Dia punya ciri-ciri sebagai Allah? Hal ini menjadi penting untuk dipertanyakan kepada mnereka yang memiliki iman Kristen, mengingat banyak pula yang sudah mengerti tentang Natal sebagai peristiwa kelahiran Juruselamat ,tapi tidak dapat sungguh-sungguh mempertanggungjawabkan imannya. Buku berjudul The Case for Christ karangan Lee Strobel membahas mengenai pertanyaan ini dan mungkin dapat membantu kita untuk mempertanggungjawabkan iman kita.

Di setiap momen Natal, pastilah kita sudah sangat sering mendengar tentang berita kelahiran seorang bayi yang merupakan Mesias dan penebus manusia. Jika kita setuju bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan manusia berdosa, maka kita juga harus setuju bahwa bayi yang kelahirannya dirayakan di momen Natal ini juga merupakan Allah itu sendiri. Biasanya, ia disebut sebagai Allah yang berinkarnasi – firman yang menjadi daging. Namun, hanya sebatas punya keyakinan tanpa bisa mempertanggungjawabkannya sepertinya hanya menjadi iman yang pasif bagi orang Kristen. Bahkan di dalam membawa berita natal nantinya pun, seharusnya kita juga bisa sekaligus mempertanggungjawabkan tentang identitas Yesus sebagai Allah yang berinkarnasi ini.

 Hal yang sama juga mengusik seorang jurnalis, Lee Strobel. Ia juga mempertanyakan tentang keilahian Kristus dalam bukunya, The Case for Christ. Meski mungkin pertanyaan ini muncul di benak Strobel tidak tepat di waktu Natal, tapi paling tidak kita bisa merefleksikannya untuk momen Natal kali ini. Perihal keilahian Yesus, ia mewawancarai seorang professor peneliti Perjanjian Baru, Donald A. Carson. Lee Strobel sendiri awalnya merupakan seorang ateis yang berusaha membuktikan kesalahan iman Kristen melalui wawancara dengan beberapa pakar, salah satunya D.A. Carson ini.

Photo by Dima Pechurin on Unsplash 

Perihal keilahian Kristus ini, Strobel datang dengan pertanyaan: sungguhkah Yesus memiliki ciri-ciri atau sifat Allah seperti kasih, kudus, bijak, dan adil? Dia datang dengan beberapa keberatan seperti Yesus tidak berada di satu tempat dan tempat lainnya di saat bersamaan ketika Dia menjadi manusia. Yesus juga mengaku tidak tahu tentang masa depan diinjil Markus. Dalam surat Kolose, Yesus dikatakan sebagai “yang sulung, lebih dari utama dari segala yang diciptakan.” Dengan beberapa keberatan-keberatan seperti ini, Strobel mendatangi D.A.Carson untuk diwawancarai.

Ada beberapa jawaban yang diberikan oleh D.A. Carson. Berkaitan dengan masalah dimana Yesus seakan-akan tidak mahatahu dan mahahadir, Carson menjelaskan bahwa ini berkaitan tentang inkarnasi Yesus yang masih menjadi misteri. Setidaknya dalam surat Filipi, Paulus menjelaskan tentang inkarnasi Yesus bahwa Ia, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus ditonjolkan melainkan telah mengosongkan diri-Nya.” Banyak tafsiran mengenai bagian ini, namun salah satu yang paling akurat adalah bahwa Yesus tidak selalu menggunakan kemampuan-Nya sebagai Allah. Lebih lanjut mengenai “yang sulung”, di mana menurut Carson kata sulung di sini tidak selalu diterjemahkan atau berkaitan dengan anak. Kata sulung bisa juga diterjemahkan sebagai ahli waris. Terjemahan sebagai ahli waris lebih tepat digunakan dalam konteks surat Kolose ini.Image by amurca from Pixabay 


Terlepas dari beberapa keberatan termasuk misteri tentang inkarnasi Yesus yang tentunya tidak bisa dijelaskan sepenuhnya oleh rasio manusia, Carson menambahkan satu poin fundamental yang buat saya pribadi menjadi dasar iman untuk meyakini Yesus sebagai Allah. Yesus di dalam masa hidup-Nya di dunia memang melakukan banyak mukjizat, namun ini tidak cukup membuktikan keilahian Yesus. Karena bahkan manusia dengan ilmu-ilmu tertentu juga dapat melakukannya. Satu hal yang paling membedakan Dia dengan manusia adalah pengampunan dosa. Ketika Yesus berkata “Aku mengampuni (dosa)mu,” ini menunjukkan bahwa Dia adalah benar-benar Allah. Bukankah hanya Allah yang sanggup mengampuni dosa manusia?

Image by reenablack from Pixabay 

Di akhir diskusi mereka, Strobel yang awalnya skeptis tentang keilahian Yesus menjadi diteguhkan imannya dan yakin sepenuhnya bahwa Yesus adalah Allah yang berinkarnasi. Mungkin juga banyak di antara kita yang pernah atau bahkan masih skeptis dan mempertanyakan keilahian Yesus. Memang, percaya kepada Yesus harus mengandalkan iman kita yang tidak melihat namun percaya. Tetapi, kita juga harus mempertanggungjawabkan iman kita. Harapannya melalui tulisan ini, kita bisa kembali menggelisahkan diri kita untuk tidak hanya memiliki iman yang pasif. Biarlah dalam momen natal yang sedang atau telah kita rayakan, kita bisa sungguh-sungguh punya keyakinan kepada bayi yang lahir sekitar 2000 tahun yang lalu dalam sebuah palungan sebagai Allah yang datang untuk menyelamatkan manusia. Terakhir tetapi bukan berarti tidak penting, buku The Case for Christ ini sangat saya anjurkan untuk bisa kita semua baca.


LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER