I Deserve to be Happy, Don't I?

Best Regards, Live Through This, 20 November 2019
Apakah bahagiaku harus selalu sama seperti bahagiamu?

Semua orang setuju kan, kalau kita berhak untuk merasa bahagia?



Terus? Apa lagi yang perlu dibahas?

Apa artikel ini akan menyuruh kita untuk tidak bahagia?



Waahhh... tentu saja tidak. Kalau saya menyuruh kalian untuk tidak bahagia, maka sudah jelas saya menggali kuburan saya dengan menjadi public enemy #lebay    

 

Anyway, artikel ini terinsipirasi dari cerita seseorang. Dia (sebut saja dia Mawar, Melati juga boleh, suka-suka kalian lah, ya   ) lahir dan besar di dalam keluarga Kristen—yang (bisa dikatakan) KRISTEN BANGET. Setiap Minggu tidak pernah absen ke gereja dan selalu bersemangat mengirimkan saat teduh setiap pagi. Well, kesannya dia adalah orang Kristen yang teguh, kan? Tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang, tepatnya ketika dia mulai berkuliah di sebuah universitas. Semua orang yang dikenalnya tampak bahagia dengan kehidupan kampus mereka, tapi berbeda dengan dirinya. Semua orang tampak happy-happy aja kalau pulang pagi dari night club maupun dengan rokok yang baru pertama kali dicoba. Semua ini menyulitkannya dalam mencari teman, sampai akhirnya ada yang berkata seperti ini:

Ya elah, lebay lo. Kan, kita ngelakuin ini buat seneng-seneng aja. Lagian Tuhan lo juga mau lo punya kenangan indah di kampus, kan? Ya udah, join aja," dan semua itu tampak masuk akal bagi dirinya.


Photo by David Jackson on Unsplash 


Serupa dengan cerita di atas, banyak orang yang nyatanya melakukan sesuatu di luar kehendak Allah demi mendapatkan kebahagiaan. Well... dan pergumulan ini bukan hanya kita saja yang mengalaminya. Let's take a closer look from the Bible:

  • Adam dan Hawa berpikir, dengan memakan buah yang dilarang Allah akan membuat mereka sama seperti Allah dan memiliki hidup yang bahagia
  • Kain berpikir membunuh Habel akan membuat persembahannya diterima, dan dia akan menjadi bahagia
  • Saudara-saudara Yusuf berpikir bahwa menjual sang tukang mimpi itu akan membuat mereka bahagia
  • Bangsa Israel berpikir bahwa lebih baik mereka kembali ke Mesir daripada di padang gurun, dan itu akan membuat mereka bahagia
  • Saul berpikir untuk membunuh Daud agar membuat dirinya dicintai kembali oleh rakyatnya dan membuatnya bahagia
  • Daud berpikir untuk mengambil istri orang lain agar hidupnya jadi bahagia
  • Para imam berpikir bahwa membunuh Yesus akan mengembalikan kepercayaan orang Israel kepada mereka dan membuat mereka bahagia
  • Ananias dan Safira merasa bahwa memberikan sebagian dari hasil penjualan ladang mereka akan membuat para rasul berdecak kagum saat mengetahui bahwa itu adalah "seluruh hasil" penjualan ladang, dan itu akan membuat suami-istri itu bahagia


Kita bisa saja mengelak dan mengatakan bahwa kita baik-baik saja saat berkompromi dengan kebenaran. Namun izinkan saya bertanya, “Permanenkah kebahagiaan yang kita dapatkan dari hal-hal tersebut? Well, disadari atau tidak, kita sering beranggapan bahwa kebahagiaan adalah sama dengan memenuhi hawa nafsu. Akibatnya, kita saling berlomba-lomba untuk mendapatkan apa yang kita mau—dan tidak jarang kita melakukan hal-hal buruk untuk mencapainya, sama seperti yang tertulis dalam Yakobus 4 :1-2a:


“Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu menginginisesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi.”


Lebih parahnya lagi, kita menjadi orang-orang yang lupa pada Allah yang adalah Sang Sumber kebahagiaan sejati:

“Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa"

- Yakobus 4: 2b



Photo by Diana Simumpande on Unsplash 


Atau mungkin kita sudah berdoa, tapi salah berdoa. Lah? Gimana, gimana?   


“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsu.” - Yakobus 4:3


Salah berdoa bukan berarti kita—yang awalnya biasa berdoa di tempat tenang—menjadi berdoa di tempat ramai, atau menggunakan bahasa roh dan menjerit-jerit. Mungkin terjemahan Bahasa Inggris (versi NIV) dari ayat ini akan menolong kita lebih memahami maksudnya:


"When you ask, you do not receive, because you 

ask with wrong motive, that you may spend what you get on your pleasure."

             

See? Saat berdoa, kita juga perlu mengevaluasi diri, "Apa yang memotivasi kita mendoakan hal ini? Demi memenuhi hawa nafsu, atau ketulusan hati untuk berubah?"


Photo by Preslie Hirsch on Unsplash 


"Waduh kalo gitu, gw harus gimana, dong, biar bisa dapet kebahagiaan sejati?"

Mazmur 1:1-3 berkata:

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."


Pemazmur memberikan kesaksian bahwa salah satu kunci memperoleh kebahagiaan sejati adalah dengan merenungkan dan melakukan Firman Tuhan setiap saat. Pemazmur juga mengibaratkan orang-orang yang melakukannya adalah seperti pohon yang ada di tepi sungai—yang akarnya terus mendapatkan air dan zat-zat hara. Dalam situasi apapun (terutama saat mengalami pergumulan), mereka tidak khawatir karena mereka percaya bahwa Tuhan mendengarkan setiap pergumulan yang terucap. Meskipun buah dari ketaatan kita dalam melakukan firman Tuhan tidak selalu langsung terlihat (karena mungkin “memang belum musimnya bagi mereka untuk berbuah”), but they're not worried... because God holds their hands and make them most satisfied in Him. Tidak berhenti di situ, Allah bahkan memberikan "bonus" bahwa segala yang mereka lakukan pasti akan berhasil... tinggal mereka taat kepada-Nya atau tidak.


Pertanyaannya, "Apakah 'kita' juga termasuk di dalam 'mereka' yang menemukan kebahagiaan sejati karena mencintai Firman Tuhan setulus hati?"


Biasanya, ketidakbahagiaan terjadi karena kita tidak mendapatkan apa yang kita mau. Mungkin itu ketika rencana-yang-sudah-kita-atur-sedemikian-rupa-justru-gagal-dalam-sekejap, atau pacar kita ditikung teman. Well, itu karena kebahagiaan yang sejati tidak berasal dari apa yang ada di dunia ini; tapi dari Tuhan sendiri    Ketika kita menyadari hal ini dan meresponinya dengan tepat, maka Tuhan tidak hanya menjamin bahwa kebahagiaan kita akan datang seperti buah pada musimnya; Dia juga akan memberkati kita agar hidup kita bisa meneruskan berkat-Nya bagi orang lain. Ibarat buah yang bisa dimakan semua orang, kebahagiaan kita bukan hanya akan kita nikmati sendiri—tetapi semua orang dapat merasakan hal yang sama.  


Jadi manakah yang akan kita pilih? Kebahagaiaan sesaat, atau kebahagiaan yang sejati?

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER