Surat Untuk Mahasiswa

Best Regards, Live Through This, 23 May 2019
"...inilah ragam dinamika kita sebagai mahasiswa. Kadang terasa enak karena adanya kebebasan, kadang juga terasa tidak enak karena adanya tuntutan."

Yogyakarta, 23 Mei 2019

Kepada seluruh mahasiswa di tanah air,
Di depan laptop ataupun gadget kalian.


Salam Mahasiswa!

Senang rasanya ketika awalnya kita memiliki status yang bukan sekadar ‘siswa’, tetapi ‘mahasiswa’. Kita lebih ‘maha’ daripada mereka yang berseragam putih abu-abu. Entah kata ‘maha’ tersebut memberikan dampak positif atau negatif dalam hidup kita.

Tak banyak yang bisa dideskripsikan dari kata ‘maha’ oleh KBBI, hanya diartikan sebagai sangat, amat atau teramat. Mungkin akan lebih baik kalau kita bisa mengingat pengalaman personal kita.

Dipersilakan bagi teman-teman sambil menyeruput minuman hangat atau memantik rokok sebatang terlebih dahulu (bagi yang merayakan).Salah satu hal yang awalnya kita bisa rayakan dari ke-mahasiswa-an kita adalah jadwal yang lebih fleksibel daripada masa bersekolah. Bagi kita yang nggak biasa bangun pagi, bisa memilih kuliah pada siang hari; atau bagi yang ingin berkuliah santai pun bisa mengambil mata kuliah dengan jumlah relatif lebih sedikit. Fleksibilitas tersebut juga bisa terjadi pada perencanaan kuliah yang kita ambil. Jika kita ingin bekerja sambil kuliah, maka kita bisa mengambil kelas pekerja yang ada di sore malam hari atau akhir pekan. Yap, hal-hal tersebut tidak bisa didapatkan pada sekolah reguler dan itulah sedikit kebanggaan kita sebagai mahasiswa.

Hal yang patut dirayakan oleh sebagian mahasiswa adalah kebebasan. Mahasiswa bebas untuk menggunakan jatah bolos tanpa harus membuat surat kepada tenaga pengajar dengan alasan yang mereka anggap penting, mulai dari kegiatan keluarga, nonton konser boyband Korea di Jakarta, liburan dengan pacar, dll. Bebas juga untuk berekspresi dengan penampilan mereka, mulai dari pilihan baju yang fancy maupun oldies, alas kaki yang sporty atau memperlihatkan jari-jemari, bahkan rambut yang gondrong ala artis era 90-an. Kita pun juga bebas untuk menyampaikan aspirasi kita, entah lewat aktif dalam organisasi mahasiswa, bergabung dalam komunitas bakat minat di dalam atau lintas kampus,bahkan unjuk rasa untuk menyampaikan idealisme kita.

Mungkin masih banyak hal-hal ‘maha’ asyik lainnya yang bisa kita rasakan dari status mahasiswa kita. Namun hidup manusia itu ibarat koin yang punya dua sisi bro-sis, ada yang dirasa enak dan ada pula yang dirasa tidak enak, yaitu tuntutan. Tentu status kita yang lebih dari siswa memberikan kita tuntutan yang ‘maha’ daripada saat kita berada di bangku sekolah.

Juliette Leufke on Unsplash

Sebagai pelajar yang ‘maha’, tuntutan dalam kaitan belajar pun lebih tinggi. Dalam kebebasan jadwal, kita dituntut secara tidak langsung untuk menggali ilmu dan pengetahuan secara mandiri melalui beragam literatur dan pengalaman empiris. Dalam kebebasan waktu untuk mengerjakan tugas, kita tetap dituntut untuk menghasilkan buah pemikiran yang berkualitas, otentik dan bertanggung jawab, salah satunya menggunakan sumber yang jelas dalam mencari referensi.

Selain dalam kaitan proses belajar-mengajar, kita sebagai mahasiswa pun memiliki tuntutan dalam pergaulan. Mahasiswa sangat bebas untuk bergaul dengan siapapun, dengan mereka yang berada di luar jurusan, yang berbeda suku, agama, ras, bahkan tanpa batasan apapun. Kebebasan untuk menjalin relasi tersebut secara tidak langsung menuntut kita, pergaulan dengan siapakah dan bagaimana pergaulan tersebut dilaksanakan, sehingga diri kita mampu jauh lebih berkembang. Tentu tidak ada larangan untuk menjalin pertemanan dengan mereka yang hobi gibah (membicarakan keburukan orang lain) tentang teman sekelas dan dosen ataupun bermain Mobile Legend sambil menghirup asap rokok. Tetapi rasanya kita butuh sesekali melakukan hal-hal yang bersifat lebih produktif dan esensial dalam pengembangan diri pada masa muda, entah yang dapat kita lakukan sendiri maupun bersama komunitas kita.

Selain beragam tuntutan di atas, manusia pun kadang hidup diselingi ragam tuntutan kehidupan dari orang lain. Sebagai mahasiswa, kita perlu sadar biaya kuliah tidaklah murah, entah yang melakukan pembayaran dari kantong orang tua, beasiswa, terlebih yang menggunakan biaya pribadi. Sebagian orang tua tentu ingin anaknya menuntaskan pendidikannya, namun mereka juga perlu menikmati uang hasil kerja mereka untuk masa tua mereka sendiri. Begitu pula dengan pihak pemberi beasiswa yang juga memberikan syarat ketentuan bagi kita, seperti IPK minimal maupun durasi studi kita. Tuntutan dunia kerja yang sudah masuk era industri 4.0 pun menanti kita setelah lulus, sehingga sekadar lulus kuliah pun belum tentu menentukan kesuksesan kita.

Agak ngeri ya gaes, yuk relaks dulu diteguk lagi minumannya, atau disulut lagi rokoknya (bagi yang merayakan saja).

Aku pun sekarang juga sedang berusaha melepaskan diriku dari status mahasiswa dan mengenal banyak adik tingkat S1 yang juga bergulat dengan ‘Tugas Akhir’. Oh God, kata yang mengerikan! Menyandang status mahasiswa tingkat akhir yang berharap segera lolos (kata ganti untuk kata ‘lulus’, hehe) kerap berada dalam kondisi stagnan. Salah satu teman mengalami stagnasi karena menyadari kuliah yang ia jalani tidak sesuai dengan bakat minatnya; ada juga yang terganggu karena berbagai problematika keluarga yang menyita waktu dan perhatiannya; ada juga karena depresi masalah cinta. Problematika yang aku alami pun juga sama sejak S1, rasa idealis dan perfeksionis yang justru membuang waktu dan tenagaku sendiri.

Well, inilah ragam dinamika kita sebagai mahasiswa. Kadang terasa enak karena adanya kebebasan, kadang juga terasa tidak enak karena adanya tuntutan.

Jordan Encarnacao on Unsplash

Mengutip ayat Alkitab yang tertera pada Editor's Letter bulan Mei, dikatakan dalam Kolose 3:23 bahwa. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia.”

Sekilas ayat di atas memberikan tuntutan lebih bagi mahasiswa. Tetapi ayat ini seharusnya menyadarkan kita bahwa segala perbuatan yang kita lakukan kepada Tuhan, adalah ungkapan syukur karena Ia telah lebih dulu baik kepada kita. Yap, kita perlu bersyukur diberikan kesempatan menempuh pendidikan yang belum tentu dapat diambil oleh semua orang.

Rasa syukur akan kebaikan Tuhan seharusnya menjadi daya pacu kita menghidupi masa kuliah dengan bahagia dan menghasilkan buah kebahagiaan bagi yang lain. Yap, ketika kita menghidupi kehidupan mahasiswa dengan bahagia, kita bisa membuahkan kebahagian dalam hasil perkuliahan, dalam relasi pertemanan masa kuliah maupun setiap perbuatan kita sebagai mahasiswa.

Aku pun berusaha untuk menghayati dan menghidupi buah pikiranku di atas gaes. Aku juga berusaha memotivasi teman-teman sekelilingku yang juga mengalami pergumulan masa kuliah.

Helena Lopes on Unsplash

Aku meyakini kebebasan dan tuntutan yang kita alami belum tentu sama satu sama lain. Namun, kita perlu meyakini bahwa dalam dinamika kehidupan mahasiswa, Tuhan menyertai kita sehingga kita dapat bersyukur dan menghidupi masa yang ‘maha’ ini dengan ‘maha’ bijak dan ‘maha’ bertanggung jawab.

Semangat ya mahasiswa.

Sesama mahasiswa,
Ari Setiawan

LATEST POST

 

Satu hari telah berlalu di tahun ke-25nya. Ya, kemarin adalah hari ulang tahunnya. Tidak lama kemudi...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Aku Agak MaluAku agak malu membaca bukuIa berbicara padaku tentang bagaimana menjadi akuMenjadi aku...
by Ester Novaria | 19 Jun 2019

Branding pada dasarnya adalah sebuah usaha yang masuk dalam strategi marketing. Banyak sumber yang m...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER