Pentingnya Menjaga Mulut

Best Regards, Live Through This, 02 May 2020
"Janganlah hendaknya kamu menyombongkan diri. Karena nanti pada saat waktu yang tidak kita ketahui, Tuhan pasti akan menegurmu."

Ada kalanya kita tidak menyadari bahwa sikap dan omongan kita bisa menyakiti hati orang lain. So well, kita harus make sure and be careful with our mouth, sama seperti kita menjaga penampilan.


Aku memiliki sebuah cerita, mengenai kenyataan yang terjadi selama aku menyombongkan diri.


Photo by Andreas Berlin on Unsplash 

Waktu itu adalah awal masa Prapaskah, dimana Rabu Abu menghantar kita ke masa Prapaskah. Selama Prapaskah, Tim Tari GKI Gunung Sahari diminta untuk membantu para pemain drama which is, para penari diminta untuk menari kontemporer di bumper in-nya pemain drama. Karena Prapaskah itu ada 6, aku dapat giliran menari di Prapaskah 1, 3, dan juga 5; selebihnya teman-temanku yang menari.

Aku mempunyai seorang teman di tim tari, kami berteman sejak awal aku masuk. Dari awal, aku melihat bahwa dia sepertinya membutuhkan teman, tapi tidak ada yang ingin mendekatinya; entah kenapa, aku tidak paham.

Lalu apa hubungannya dengan sombong? Nahh, ini akan aku ceritakan lebih lanjut.


Photo by Natasha Brazil on Unsplash 

Kembali ke masa persiapan Prapaskah, ketika Tim Tari sedang menyiapkan beberapa penari untuk tampil di bumper in-nya pemain drama. Jujur, aku merasa sangat senang mendapatkan sebuah informasi, bahwa aku dapat tampil tepat pada Jumat Agung dengan temanku, berdua menampilkan sebuah choreography. Saat itu aku terpancing menjadi manusia yang sombong. Memang, aku merasa sangat senang ketika mendengar kabar itu, sehingga aku berkata kepada orang banyak, 

"Yeay, gue nampil lagi lohh di Paskah nanti, lo harus dateng yaa... lo harus dateng dan liat penampilan gue gimana nanti hehehe.”

Saat hari itu, di siang hari ketika semua Ibadah sudah selesai, aku dan temanku janjian untuk latihan dan tentunya divideokan. Selesai latihan, aku dan temanku ingin ke WC. Namun ketika aku sudah keluar dari WC, ternyata dia pulang. Padahal dari awalnya, aku sudah suruh dia untuk tidak pulang. Aku bingung... kenapa dia pulang? Aku berkata lagi di dalam hati, "Ahh dia udah bilang kok pasti nanti dia akan balik lagi ke gereja, jadi gue ga usah khawatir…”

Malam pun tiba, Ibadah Sore pun juga sudah usai. Tapi, temanku itu tidak kunjung datang. Aku mulai panik.


Photo by Ben White on Unsplash 

 

"Ini gimana caranya rekaman, gue udah mulai stres menghadapi ini semua, kenapa dia ga kunjung datang juga? Padahal tadi siang dia udah bilang mau balik nanti sore, tapi apa? Dia ga dateng-dateng juga. Gue udah mulai keringet dingin nihh, ayoo dongg datengg buruann. Kenapa lo ditelpon ga angkat sih???"


Photo by Siavash Ghanbari on Unsplash 

Lalu, mamaku bertanya, "Van, jadi ga sih? Kok lama amat?"
"Iyaa, ini bentar lagi, sabar dongg," jawabku.  Lalu seterusnya, mamaku menanyakan hal yang sama lagi. Tentu, aku sampai bosan menjawab pertanyaan itu. Dalam hati aku berkata, "Emangnya ga ada pertanyaan lain apa selain itu?” Tidak lama kemudian, aku dan mamaku bertanya kepada pemimpin tari dan eks partner tariku. "Ini gimana nih? Jadi apa engga sih???"

"Maaf yaa Van, engga jadi. Kita jadinya pake yang lama aja. Maaf yaa. For next, kita akan pake kamu lagi kok," katanya. 


Photo by Josh Applegate on Unsplash 

Aku pulang dalam keadaan sedih. Mamaku berkata, "Coba kamu minta pertolongan Tuhan agar kamu diberi hikmat dan akal budi. Tentu jangan lupa juga, kamu terus baca renungan, kamu udah lama banget kan ga renungan?"

“Iya,” jawabku. 

Sesampainya di rumah, aku langsung membaca renungan. Saat itu pula, aku merasa lebih tenang dengan keadaan. Keesokan harinya, aku pun makin membaik perasaannya. Setiap hari aku pun melaksanakan apa yang mamaku katakan, bahkan sampai sekarang pun aku juga masih membaca renungan dengan mamaku. Yahh walaupun terkadang kalau mamaku sudah sangat lelah, aku renungan sendiri dengan dilengkapi nyanyian. 

Dari momen perenungan ini aku belajar, bahwa berbicara bukan sekedar ingin menyombongkan diri. Kadang kita bisa lupa, Sang Pencipta tahu akan segalanya yang kita lakukan. Mungkin ada hal yang kita lakukan tanpa sadar, sudah membuat Sang Pencipta sedih dan marah.

Ada kata pepatah yang mengatakan "Mulutmu Harimaumu". Aku belajar betapa pentingnya tetap menjaga omongan dan pikiran. Kiranya dapat memberkati saudara semuanya, Tuhan memberkati!


LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER