Apa yang dari Hati, Akhirnya Sampai ke Hati (Bagian Tiga)

Best Regards, Live Through This, 17 August 2019
Bukannya Tuhan ini Maha Kuasa sehingga Ia tidak membutuhkan pertunjukan seperti yang selama ini saya lakukan?

Menjawab pertanyaan ketiga sekaligus terakhir mengenai pelayanan saya, izinkan saya melanjutkan kisah saya dalam bergereja di gereja lokal saya.

Saya bertumbuh di GKI Ambarawa, sebuah gereja di kota kecil yang terletak di kaki Gunung Ungaran. Sebagai bagian dari kehidupan kota kecil, suasana kekeluargaan sangat terasa karena orang yang hadir dalam pertemuan ibadah tidak banyak berganti. Bisa dibilang, gereja ini dipenuhi orang-orang loyal yang memiliki ikatan kekeluargaan yang erat—meski tidak sedarah. Buruknya adalah munculnya anggapan "urusanmu jadi urusanku, urusanku jadi urusanmu".

Hal ini tidak menjadi masalah sampai kami mendapati diri kami bergereja secara tidak sehat. Kami mulai disibukkan dengan pelayanan yang distraktif dan mengaburkan pandangan kami kepada Tuhan. Latihan yang melelahkan, dekorasi yang dituntut memukau, bahkan konsumsi yang persiapannya menyita waktu mendengarkan khotbah adalah hal-hal yang membuat kami seringkali gagal bertumbuh sebagai pengikut Kristus.

Sebelumnya kita sudah membahas bahwa yang dicari Tuhan sebenarnya adalah relasi pribadi dan bukan atraksi. Kita juga sudah memahami bahwa pelayanan dilakukan bukan berdasarkan tanggung jawab, melainkan ungkapan syukur sekaligus permohonan akan pertolongan pada Tuhan. Sekarang, kita akan mencari tahu bagaimana kita mempraktikkan pelayanan kita tanpa harus mengubah tatanan gereja kita.


silhouette photo of man and woman on cliff

Photo by Alex Iby on Unsplash


Hal ini sangat berkaitan dengan poin nomor dua: Menjalin relasi. Dalam percakapan Yesus dengan orang Farisi, Yesus menjelaskan bahwa hukum yang pertama dan terutama adalah, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu,  dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Matius 22:39). Poin ini sudah kita singgung di artikel sebelumnya. Hal yang selanjutnya dilakukan adalah mengimplementasikan kasih yang kedua, yang sama dengan itu: mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Seringkali di dunia yang sudah dicampuri kebudayaan pop ini, kita sering mengkotakkan pelayanan sebagai aktivitas bermusik maupun penampilan lain di mimbar. Jika kita boleh melirik hukum yang kedua yang Yesus ajarkan, sejatinya di atas semua kesibukan dan hingar-bingar panggung pertunjukan, yang diperlukan adalah kasih kepada sesama.

Lah, bagaimana caranya?

Sederhana saja. Bukankah kita seringkali menganggap bahwa pelayanan di mimbar adalah mengajak jemaat memuji Tuhan dalam ibadah? Ini adalah sebuah pemikiran baik yang perlu dilanjutkan, dengan landasan bahwa kita memandu jemaat memuji Tuhan karena kita juga mengasihi mereka. Pemikiran sederhananya begini: Ada orang-orang yang tidak memiliki kapabilitas bermusik yang tinggi, sehingga ketika dibantu dengan alunan musik yang pas, mereka akan tertolong untuk bisa memuji Tuhan dan mendalami makna lagu yang mereka nyanyikan. Begitu juga dengan tarian, ada orang yang perlu bantuan dengan adanya gerakan visual untuk menggambarkan keagungan Tuhan, kerendahan diri manusia, atau hal-hal ekspresif lain yang bisa digambarkan melalui tarian. Sebagai contoh konkret, suatu hari paduan suara—di mana saya terlibat di dalamnya—berkesempatan melayani di ibadah gereja lokal kami. Objektifnya sederhana, mengajak jemaat ikut merasakan kebahagiaan dengan menyanyikan lagu KJ 392, Ku Berbahagia. Kami melayani jemaat dengan berusaha membuat yang mendengar ikut berbahagia.


Pada intinya, pelayanan mimbar tetap berjalan tetapi dengan motif yang berbeda.



Apakah itu saja?

Tidak. Masih ada lagi.

Mengasihi sesama juga diwujudkan dengan kepedulian terhadap orang lain. Bayangkan saja Anda memasuki ruang ibadah yang isinya orang-orang yang tidak memedulikan satu sama lain. Mungkin sekali atau dua kali beribadah di sana bisa saja terasa nyaman; tapi harus diakui, untuk bisa bertumbuh, kita tetap membutuhkan komunitas—di mana ada kebutuhan akan kebersamaan dan saling mengasihi.

Jika Anda sadari, dalam foto di atas judul tulisan ini ada segerombolan anak muda. Bukan tanpa alasan kalau foto tersebut saya pilih menghiasi laman artikel ini. Foto tersebut ada ceritanya.

Tahun 2016 lalu, kami dipercaya untuk menuntaskan program kerja terbesar komisi remaja yang kami jalani saat itu: Camp Remaja. Bukan suatu hal yang mudah bagi kami untuk membagi waktu antara keluarga, studi, pelayanan, persiapan camp, dan pertemanan kami. Untuk memudahkan koordinasi, kami mengkhususkan waktu setiap hari Rabu malam untuk melakukan doa bersama, sekaligus koordinasi tim. Meski tidak jarang anggota kami ada yang izin, tetapi rutinitas bersama-sama sedikit banyak memengaruhi penerimaan kami satu sama yang lain. Muncul sense of belonging bahwa "dia adalah saudaraku" di antara kami. Kami mulai memberanikan diri membagi diri, membuka pergumulan kami yang bisa kami doakan bersama. Kami sadar kami sama-sama remuk dan sama-sama butuh pertolongan Tuhan.

Ternyata benar, penerimaan dan kebersamaan di antara kami sangat berpengaruh terhadap kehidupan bergereja. Semakin sering kami berdoa bersama, membuka diri, dan menyadari kami saling membutuhkan, akhirnya timbul pertumbuhan rohani yang tidak bisa saya dapatkan jika saya seorang diri saja.

Hari ini, setiap orang di foto ini sudah terpencar. Hanya saja, setiap pulang ke Ambarawa, penerimaan itu tetap kembali. Rasanya memang tidak bisa sama seperti dulu ketika kami masih remaja, tetapi kasih yang Tuhan taruh itu tetap. Sambutan hangat dari setiap teman segereja sangat menolong saya merasakan kasih Tuhan. Setidaknya, kalau dilagukan, saya bisa bilang inilah cara Tuhan mengasihiku.

Kami akhirnya tidak berhenti menjadi grup eksklusif anak-anak alim aktivis gereja. Kami sadar bahwa itu tidak akan membawa kami pada apapun selain sakit hati satu sama lain. Hal yang ada hanyalah kami saling mendukung dan mendoakan satu sama lain sebagai tubuh Kristus, tanpa harus memisahkan diri dari orang-orang lain. Kami tetap berteman dengan orang-orang di luar gereja kami, tetap bersahabat dengan mereka yang berbeda, tetap membuka diri pada setiap hal di luar lingkaran ini.

Persahabatan di dalam gereja yang dilakukan dari hati pada akhirnya sampai juga di hati yang lain. Selain dikasihi dan mengasihi Tuhan, Tuhan juga mengundang kita untuk menggunakan hati kita untuk mengasihi sesama. Hanya dengan inilah Gereja bisa dikenal oleh dunia: They will know we are Christian by our love.



Catatan:

Klik foto ini untuk lagu yang akan menolong Anda mendalami artikel ini.

Untuk mengetahui apakah pelayanan kita pantas dilakukan (atau justru kita perlu berhenti melakukannya) silakan klik tautan berikut ini.

Untuk membaca refleksi berpelayanan saya, silakan klik tautan berikut ini.

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER