Memangnya Kita Ini Siapa?

Best Regards, Live Through This, 12 August 2019
Ketika mengasihiNya menjadi sebuah kewajiban -- salah satu hal yang harus kita lakukan -- kita akhirnya hanya akan lebih berfokus kepada diri sendiri. Crazy Love - Francis Chan

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah pengakuan. Ketika membaca judul Ed-Letter bulan Agustus yang berbunyi  “Gara-Gara Gereja”, intonasi di benak saya terdengar sumbang yang lalu membawa saya ke pemikiran negatif semacam “Gereja berulah yang aneh-aneh apalagi nih?” dilanjutkan dengan mencari-cari kesalahan gereja. 

Menyadari benar bahwa banyak di sekitar kita, khususnya anak muda menyalahkan gereja atas apa yang sedang dialami, saya merumuskan dua hal paling sering dikeluhkan. 

Pertama, gara-gara gereja, saya tidak punya waktu untuk diri saya sendiri, keluarga, dan teman. Waktu habis untuk pelayanan ini dan itu, bahkan sampai weekend juga akan disibukkan dengan kegiatan gereja. 

Kedua, gara-gara gereja, gara-gara kakak pembimbing rohani dan ajaran-ajaran gereja, saya jadi diasingkan dari pergaulan dan dianggap kolot. Diajak berkomplotan untuk “bahu-membahu” saat ujian berlangsung, harus menolak. Diajak minum alkohol, harus menghindar. Diajak merokok ramai-ramai, apalagi. Untuk apa jadi garam dan terang dunia jika di sekitar saya tidak ada hidup yang bisa saya garami dan terangi alias tidak punya teman?two women smoking while leaning on yellow wall

Photo by Mikail Duran on Unsplash 

Sebelum membahas ini lebih lanjut, ada baiknya kita bersama mengetahui apa definisi dari kata “gereja” sendiri. Ada dua makna, yaitu orang-orang yang dipanggil keluar (berkelompok) dan setiap orang yang telah menerima keselamatan secara pribadi melalui iman dalam Yesus (individu), tertulis dalam 1 Korintus 12: 13-14 “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.

Merujuk kepada penjabaran definisi gereja, sejatinya, ketika kita menyalahkan gereja, sebenarnya ada yang salah dengan diri kita sendiri. Wow, kaget ya, padahal niatnya mau menyalahkan yang lain, tapi diri sendiri juga kena. Mengapa demikian? Ya, karena kita adalah gereja, baik secara individu maupun berkelompok. Mari bersama-sama mengevaluasi dengan menjawab rentetan pertanyaan-pertanyaan ini. 

Apa fokus utama hidup kita? Tuhan atau diri sendiri?

Saya cukup tertampar sekaligus tergelitik dengan analogi yang digambarkan oleh Francis Chan di bukunya berjudul Crazy Love. Bayangkan saja dalam sebuah film berdurasi 2 jam, kita berperan menjadi salah satu figuran yang muncul di layar hanya selama 2,5 detik. Itu pun hanya bagian belakang kepala saja yang terlihat. Akan menjadi sangat konyol ketika kita menyewa satu gedung bioskop agar seluruh keluarga dan teman melihat adegan kita, kemudian dengan jumawa kita mengatakan, “Film ini menceritakan tentang diriku.” 

Sama seperti analogi di atas, fokus pada “film” tersebut tentu bukan kita, melainkan Tuhan sebagai pemeran utamanya. Karena Dialah yang menciptakan alam semesta ini, jauh sebelum “2,5 detik” kita muncul. Memangnya kita ini siapa? 

Tanpa disadari juga, kita sering memiliki hati ingin dilayani padahal sedang melayani. Ingin orang lain mengerti dan menyesuaikan dengan kondisi kita yang serba riweuh tanpa mengusahakan terlebih dahulu. Pertanyaan yang masih sama, siapa fokus hidup kita di saat-saat seperti itu? Memangnya kita ini siapa?

person holding camera lens






Photo by Paul Skorupskas on Unsplash 

Fokuskan hidup kepada Tuhan, dan lihatlah perbedaannya. Pelayanan tidak akan menjadi alasan kita tidak punya waktu untuk diri sendiri, keluarga dan teman. Tuhan tidak pernah mematok jumlah pelayanan yang harus kita ambil, tapi Ia ingin ketika kita melayani, hati dan pikiran kita sepenuhnya menjadi milikNya. Menyangkal diri sendiri dan memikul salib sudah Tuhan katakan ketika kita memutuskan untuk mengikut Dia (Matius 16:24). Seperti terms and conditions ketika sign up di internet, seharusnya sudah tahu, kan? Tuhan tidak ingin berhenti sampai di “tahu”, namun Ia rindu kita benar-benar mengusahakannya, tidak apa sekali-sekali jatuh karena Ia yang akan memimpin dan menopang. Melawan arus memang sulit, namun itu semua akan terbayar dengan kehidupan kekal yang Ia sudah janjikan. Jadi, masih mau menyalahkan gereja lagi?

Di akhir tulisan ini, saya berharap kita sama-sama berhasil mengubah intonasi sumbang “gara-gara gereja” menjadi intonasi yang enak didengar, alias dengan konotasi positif. 

Di bulan Agustus 2018 silam, saya teringat saya memiliki pengalaman dengan salah satu organisasi non profit yang concern dengan isu SARA. Misi terbesar mereka mengajarkan nilai-nilai Pancasila pada anak-anak SMA menggunakan metode yang bervariasi. Kebetulan ketika mereka ke Surabaya, kota saya berdomisili, metode yang dipakai yaitu Amazing Race, mengajak peserta untuk keliling kota Surabaya sambil bermain yang tentu mengandung nilai-nilai Pancasila. Tidak ada embel-embel agama di sana, sampai pada penghujung acara saya bertemu dengan salah satu pendeta GKI yang, jujur, saya kaget kok beliau bisa tahu ada acara semacam ini. Setelah ngobrol, saya baru tahu bahwa 80% pendiri organisasi ini dipelopori orang Kristen dan mereka meminta bantuan ke gereja-gereja kota setempat untuk acara ini. 

                                      group of people sitting on bench near trees duting daytime

Photo by Naassom Azevedo on Unsplash

See, gereja juga bergerak, kita juga bisa bergerak dan melakukan sesuatu di luar pelayanan gereja. Namun mungkin dengan kondisi negara kita yang belum stabil, pergerakannya belum leluasa. Saya kembali melemparkan pandangan saya kepada peserta yang hadir saat itu. Saya lalu kemudian tahu, kegiatan ini berdampak nantinya bagi mereka dan saat itulah saya berbisik kepada diri saya sendiri, gara-gara gereja, dengan bangga.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER