Manusia yang Tidak Dicipta untuk Berjuang Sendiri

Best Regards, Live Through This, 02 July 2019
If my life is broken when given to Jesus, it is because pieces will feed a multitude, while a loaf will satisfy only a little lad. – Ruth Stull

Sebuah chat dari seorang sahabat beberapa hari lalu adalah salah satu starter pack mengenai kehidupan baru yang akan aku jalani Agustus nanti.


Aku bipolar, Tabb :”)


Obrolan tersebut berlanjut pada bagaimana tanggapan keluarga sahabatku, apa saja yang sudah dilakukannya, dan aku pun jadi bertanya pada Tuhan, “Pi, kalo aku depresi pas udah jadi konselor, aku kudu piye?”

Bukannya langsung mendapat jawaban, empat hari kemudian aku bertemu dengan salah satu pembimbingku saat masih Sekolah Minggu. Pertemuan di gereja malam itu membuatku cukup gamang mengenai panggilan yang saat ini sedang kujalani. Dengan suara rendahnya, dia berkata, “Ke depannya, bakal ada lebih banyak orang yang nggak baik-baik aja, Vin. Kamu kudu siap buat ngadepin mereka. Di gereja aja ada, bahkan yang aktif pelayanan… Tapi kamu tahu apa tanggapan para hamba Tuhan?”

Nge-judge?” jawabku dengan sedikit ragu.

Dia mengangguk.

Bener, sih kalau kita harus hidup dalam kebenaran Firman Tuhan, tapi jangan sampai kita melupakan kenyataan. Sorga itu nggak cuma di atas situ, tapi ada di sini juga, kok… kalau orang-orang mau menerima tanpa menghakimi dan nggak kompromi dengan kebenaran.”


Hmm… bener, bener, batinku—mencoba untuk tidak menangis (yang ternyata gagal karena dia terus menyemangatiku, padahal itu membuat air mataku semakin ngecembeng).


Photo by John-Mark Smith on Unsplash

Sepulang dari gereja, aku merenungkan obrolanku dengan beberapa orang akhir-akhir ini. Apa ini ada hubungannya sama panggilanku, ya? Abis… kenapa semakin mendekati panggilan, rasanya ada aja yang bikin galau? 

'Panggilan' yang dimaksud adalah menjadi seorang konselor. Aku sudah menggumulkannya sejak masih jadi bocah 3 SMP, sempat terhenti ketika SMA, dan kembali memikirkannya ketika memasuki semester enam di bangku kuliah jurusan Psikologi. Aku merasa bahwa Tuhan memanggilku untuk menjadi teman bagi orang-orang yang putus asa, kehilangan arah, dan butuh dukungan agar tetap bertahan hidup.


Apakah ini karena aku pernah berada di posisi mereka?


Satu tahun yang lalu, toxic thoughts yang berkata, “Aku nggak bisa fotografi kayak si ono. Tulisanku nggak sebagus si itu. Nggambar? Bahahaha… nggak seunyu si itchu. Cen cuma remah-remah tok” kembali menyerangku—sampai akhirnya aku berpikir untuk mengakhiri hidup saja. Tapi pikiran itu dipatahkan oleh chat dari sahabatku ini:


Screenshot pribadi. 12 Juni 2018 dini hari


Sebuah pepatah mengatakan,

The most encouraging people are the most fragile ones

makanya nggak heran kalau Paulus bilang,

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

—Galatia 6:2 TB

Sebagai orang percaya, kita nggak diciptakan untuk berjuang sendirian. Well, karena kita adalah makhluk yang rapuh karena dosa, Tuhan berinisiatif hadir untuk menyelamatkan dan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya (Roma 8:14-17, Efesus 2:8-9). Sebuah anugerah yang patut disyukuri, kan? Tapi nggak berhenti di situ saja, Tuhan juga tahu adanya potensi kita berbalik lagi pada dosa. Makanya Dia mengingatkan kita untuk saling menguatkan dan mendoakan agar dimampukan menjalani kehidupan yang menguras tenaga dan air mata. Kalau udah capek njuk laper, emosi jadi naik turun, guys. Keadaan ini, kalau dibiarkan terus-menerus, akan membuat kita sulit bersyukur dan tidak berterima kasih pada orang yang memberikan dukungan kepada kita. Tanpa disadari, yang kita lakukan bisa melukai mereka—bahkan membuat mereka ilfil terhadap kita. Such a disaster, right?

Secara khusus, fakta ini menamparku dengan keras. Entah berapa kali aku self-pity (mengasihani diri sendiri) dan putus asa karena merasa jadi orang paling malang sejagad raya. Syukur pada Tuhan: Dia tidak membiarkanku demikian untuk seterusnya! Tuhan justru mengirimkan orang-orang yang menyadarkanku bahwa aku tidak seburuk yang kubayangkan—meskipun belum mendekati ideal self juga, sih. Perlahan-lahan, serpihan hati itu mulai terkumpul dan dipulihkan-Nya.


But the story doesn’t end yet.


Berkaca dari pengalaman sendiri, aku tergerak untuk menjadi teman bagi mereka yang juga bergumul dalam hal yang sama. Okay, I’m not an angel that's too holy to help, but I want to share God’s love and mercy for everyone who are broken-hearted and struggle with a messy life. Mengutip perkataan pembimbingku di atas, aku rindu agar kita—orang yang mengaku anak-anak Allah—menghadirkan Kerajaan-Nya bagi mereka yang lelah menjalani kehidupan ini. The good news is: kita tidak harus menjadi pendeta atau hamba Tuhan untuk mendengarkan keluhan orang lain. Dengan hati, telinga, dan perhatian penuh pada orang yang sedang menceritakan pergumulannya, sebenarnya kita sedang menghadirkan sorga di Bumi ini! Tentu kita tidak bisa melakukannya sendirian; that’s why we need a spiritual community to encourage and pray to each other.


Photo by Juliane Liebermann on Unsplash

Seperti quote di bagian awal artikel ini, aku berdoa agar serpihan hatimu juga Tuhan pakai untuk memberkati orang lain. Mungkin saat ini kamu belum memahami alasan di balik pergumulan yang sedang kita hadapi; namun satu hal yang pasti, “Kita perlu bersyukur karena Tuhan melakukan semuanya karena cinta, agar kita memperoleh hikmat dan jadi sempurna seperti-Nya.”[1] Percayalah, ketika kita taat dan setia kepada Tuhan, Dia akan memperlengkapi kita untuk menyatakan kasih-Nya pada orang lain.



Kepadamu yang sedang letih lesu dan berbeban berat,

berbahagialah karena sampai detik ini kamu masih bernapas,

karena itu bukti bahwa Tuhan tidak menyerah untuk membentukmu jadi seperti-Nya,

agar suatu hari nanti,

kehidupanmu memancarkan Roti Hidup

yang sanggup mengenyangkan setiap hati yang lapar Y


[1] parafrase lagu Bila Tuhan Mengujimu

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER