Dari Lembah Duka Kelam...

Best Regards, Live Through This, 19 November 2020
“Dari lembah duka kelam, yang menghimpun cahaya untuk meneranginya, Seluruh kata-kata ini dituliskan, Sebagai refleksi perihal kehilangan…”

Pandemi ini seolah membuat kita semua siap ditinggalkan dan meninggalkan, meski begitu saya yakin tiada seorang pun yang siap perihal kehilangan. Entah berapa banyak dari kita yang telah kehilangan hal berharga di tahun ini, dan saya menjadi salah satunya. Akhir bulan April lalu, saya harus pulang dari Jogja dan kembali ke Jakarta, karena pandemi semakin menjadi. Tepat 4 bulan setelahnya, mbah kakung, sosok bapak dalam kehidupan saya pun berpulang. Ya, saya kehilangan. Saya pikir saya telah mengalami kehilangan yang paling dalam bertahun yang lalu, tetapi itu semua hilang saat saya harus merelakan mbah kakung, menghantarnya, menaburkan bunga di atas tanah itu."a part of me is gone",

Dalam kalimat itulah seluruh perasaan saya dapat digambarkan. Perasaan sakit, hancur, kehilangan, marah, kecewa, dan segala perasaan yang menggerogoti tubuh dan jiwa saya. Mungkin sebagian besar orang yang pada saat itu datang dapat mengatakan,

 "sudah waktunya",

Saya paham, wajar sekali untuk seorang kakek berusia 89 tahun meninggalkan kita, sudah begitu banyak hal dan kesempatan yang telah dilalui. Tapi saya, yang dengan sudah begitu rapih menuliskan setiap rencana, dan yang dengan sudah begitu yakin menuliskan namanya dalam berbagai pencapaian besar yang ingin saya capai dikemudian hari, merasa ini belum waktunya untuk mbah kakung pergi meninggalkan saya.

Sekali lagi, tiada seorang pun yang akan pernah siap perihal kehilangan. Bahkan, sampai pada waktu dimana saya menuliskan semua ini, saya masih merasa belum siap. Ada perasaan takut menatap hari esok, ada berapa banyak hal lagi yang akan hilang dari hidup saya? Tetapi saya tidak hendak berdiam diri, mengatakan ya pada setiap perasaan dan membiarkan mereka memimpin kemana arah langkah saya akan pergi. Ada 2 hal yang telah membantu saya untuk kembali membangun pengharapan di tengah duka atas kehilangan yang terkasih dan ketidakpastian hidup serta mewujudkan kembali apa-apa yang telah saya citakan.

1. Tidak ada yang lebih pasti selain daripada ketidakpastian itu sendiri.

Kita cenderung mengharapkan kepastian akan semua hal, bukan? Tetapi, melalui pengalaman kehilangan yang begitu mendalam ini, saya menemukan bahwa satu-satunya hal yang pasti dalam hidup saya ialah ketidakpastian dan saya perlu menerima itu. Saya menyadari, seluruh perasaan kecewa saya datang saat apa yang sudah saya anggap pasti, justru tidak terjadi, apa yang kita rencanakan tidak terwujud. Namun, ketidakpastian ternyata bukan suatu hal buruk yang perlu kita perbaiki, namun ketidakpastianlah yang terus memampukan kita untuk berharap. Kalau semua hal sudah pasti, apa lagi yang kita harapkan? Toh, apapun yang kita lakukan akan berujung pada apa yang kita sebut takdir. Hidup tidak lagi memiliki gairah untuk mencapai cita dan harap. 

2. Menghidupi kembali cinta yang tak pernah benar-benar padam.

Begini sajak yang saya tulis beberapa waktu lalu,

ia tiada melangkah pergi,
ia menetap pada ruang hangatnya,
seolah masih menulis pada catatan-catatan yang kesekian

maka sungguh,
ia melerai sepi yang mengoyak aku pada hari-hari ini.


Selepas kepergiannya, ternyata saya masih mampu merasakan kehadiran, bahkan cinta dan kehangatannya. Perasaan ini seolah memberi saya daya untuk membangun kembali semangat dan pengharapan yang seolah ikut gugur pada kemarin hari. Terlebih, seorang majelis mengatakan, “Kami kehilangan sosok pelayan yang rendah hati dan senantiasa berjuang dalam setiap karya pelayanannya.”. Kalimat dan perasaan itu sungguh membangkitkan saya, kalau saya tidak lagi bisa menghidupi raganya, mengapa saya tidak menghidupkan kembali cinta yang pernah ditaburnya? Saya bisa menghidupkan kembali cinta itu dalam setiap saat hidup saya, ketika saya studi, bergereja, bermasyarakat. Saya bisa menghadirkan kembali cinta seorang kakek yang begitu peduli kepada dunia di sekitarnya.

Kiranya kita di tengah segala duka dan ketidakpastian hidup, kita tetap mampu memiliki pengharapan akan hari esok yang lebih baik.


Selamat jalan, mbah kung,

Selamat sempurna.

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER