Perspektif Kristen akan People Power dan Demokrasi

Best Regards, Live Through This, 24 May 2019
Bersatulah kita, tinggalkan cebong-kampret tak berfaedah ini, bukan hanya untuk cebong-kampret yang mengaku pengikut Kristus, tapi seluruh cebong-kampret yang ada di seluruh dunia.

Sebetulnya, reaksi kita terhadap Hasil Rekapitulasi Pemilu 2019 sudah disampaikan dengan sangat baik dalam artikel Merespon Mesias-Mesias yang ditulis oleh Bro Ari Setiawan. Namun, Sang Garuda kembali menangis karena tanggal 22 Mei 2019 menjadi saksi kericuhan terkait Hasil Rekapitulasi Pemilu 2019. Lalu, apa yang harus diperbaiki di masa depan? dan bagaimana sikap kita saat ini?


Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dalam karantina sebelum dilepasliarkan di hutan lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah, 8 November 2012  | Aries Andrianto /Tempo         

Demokrasi

Menurut Abraham Lincoln, demokrasi adalah pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Artinya, rakyat berwenang untuk mengambil keputusan baik politik maupun hukum, yang dapat mengubah kehidupan mereka - khususnya, dalam bernegara. Pemilu tentu termasuk di dalamnya, sebab inilah substansi dari demokrasi. 

Jika dikaitkan dengan Hasil Rekapitulasi Pemilu, Indonesia melalui Pasal 24C UUD 1945 Amandemen IV memberikan kewenangan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum. Artinya, setiap warganegara berhak untuk menyampaikan argumen beserta bukti dan fakta apabila terdapat perselisihan terkait Pemilihan Umum. Selain itu, Indonesia juga memberikan hak melalui Pasal 28 UUD 1945 Amandemen IV dan UU No. 9 tahun 1998 untuk menyampaikan pendapat, termasuk berdemonstrasi.

Seorang demonstran yang dikutip oleh BBC, mengatakan bahwa Pemilu ini curang. Tapi ketika ditanya terkait bukti,  Dia tak menjawab langsung, kecuali mengatakan: "Sudah diplot. Sudah... masif terstruktur..."[1]

Apa yang terjadi hari ini biarlah terjadi, tetapi apabila teman-teman ingin menyatakan pendapat terkait Pemilu, lakukan dengan jalur dan koridor yang tepat. Apabila kecurangan tersebut terkait proses Pemilu, maka ajukan pada Bawaslu atau PTUN, apabila terkait hasil Pemilu maka ajukan ke MK. Demonstrasi juga dapat dilakukan sebagai wujud protes terkait kekesalan kecurangan Pemilu. Namun yang terpenting adalah ada buktinya. Berita elektronik dapat dijadikan alat bukti, tetapi harus didukung oleh foto atau video atau data elektronik lainnya. Sebab, alat bukti yang diakui menurut Pasal 27 Peraturan Bawaslu Nomor 8 tahun 2018 adalah dokumen elektronik, bukanlah berita elektronik.[1]

Apolos sebagai Rasul Kristus juga tidak hanya berkata-kata untuk menyatakan Yesus adalah Mesias di muka umum, tetapi menunjukkan dan membuktikan juga dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias. (Kisah Para Rasul 18:28) Selain itu, satu orang saksi juga bukanlah saksi (unus testis nullus testis) (Ulangan 19:15), dan janganlah menyatakan saksi dusta atau saksi palsu kepada sesamamu (Keluaran 20:16)


People Power

Kita mengenal 3 jenis kekuasaan (Three Separation of Power): Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif (Legislatif Power, Executive Power, dan Judiciary Power). Seiring berjalannya waktu, muncul istilah People Power, karena 3 jenis kekuasaan negara ini tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga rakyat perlu turun tangan untuk membenahi pemerintahnya. 

Menurut Dr Bayu Dwi Anggono People power kurang populer di negara yang telah mempraktikkan prinsip supremasi konstitusi dan pemerintahan presidensial secara kuat, Ciri-cirinya adalah masa jabatan presiden dibatasi untuk periode tertentu dan kekuasaan presiden secara limitatif dibatasi oleh konstitusi. Selain itu, presiden tidak mudah dijatuhkan atas motif politik melainkan presiden dapat diberhentikan di tengah jalan apabila melakukan pelanggaran hukum tertentu yang diatur dalam konstitusi melalui proses impeachment (pemakzulan). Tidak terjadinya people power di negara seperti Amerika Serikat sebenarnya bukan hanya soal kematangan berdemokrasi, melainkan juga didukung faktor desain ketatanegaraan mereka yang menempatkan masing-masing lembaga negara, baik executive power, judicial power, maupun legislative power, memiliki wewenang yang terpisah satu dengan lainnya dalam dalam mewujudkan checks and balances yang artinya saling mengawasi sehingga tercipta keseimbangan kekuasaan negara. Artinya, kekuasaan tidak terpusat di satu tangan yang berpeluang menciptakan otoritarian yang dapat memantik adanya people power. [3]

Alkitab menulis bahwa Anak Manusia juga sempat berhadapan dengan People Power (Matius 27:27-31). Padahal sebelumnya diceritakan bahwa Yesus dielu-elukan di Yerusalem (Matius 21:1-11). Hal ini tidak lepas dari siasat politik dari Sanhedrin (Matius 26:3-5) hingga akhirnya Yudas pun terperdaya (Matius 26:14-16).

Kristus memang harus berhadapan dengan hal itu semua, agar bisa masuk ke dalam maut dan mengalahkannya untuk bangkit dari antara orang mati yang memberikan keselamatan, tetapi keliru apabila menuduhkan orang bersalah tanpa disertai dengan kajian strategis (tidak dapat membuktikan kesalahan pemerintah). Kajian strategis perlu untuk menyampaikan dasar-dasar dan argumentasi protes dari keinginan pribadi dan bukan dipengaruhi oleh siasat politik seperti yang dilakukan Sanhedrin dalam mempengaruhi orang Yerusalem. People Power baik apabila rakyat betul-betul melihat bahwa Pemerintah dalam arti luas yaitu Eksekutif, Legislatif, Yudikatif adalah otoriter dan menyimpang dari dasar-dasar praktik bernegara. Tetapi, cilakalah apabila People Power dipengaruhi kalangan elit politik yang hanya menginginkan kepentingan sendiri.  Di masa yang akan datang, hal-hal tersebut perlu dipertimbangkan apabila rakyat ingin turun ke jalan (people power). Selain itu, pertimbangkanlah, berapa banyak darah yang harus dikorbankan? Karena, kita pun dan negara lainnya porak-poranda akibat 'people power'.[4]

Perang sipil Suriah juga semakin parah karena kemunculan ISIS pada 2014. (AFP Photo/Ahmad Al-Rubaye) 

Bukankah, Tuhan telah meninggalkan Damai Sejahtera bagi kita (Yohanes 14:27), lalu kalau dalam demonstrasi sebagai wujud dari People Power harus ada aksi anarkis dan berujung pada tindakan represif pemerintah, dimanakah damai sejahtera itu? Tirulah Mahatma Gandhi sebagai Bapak Aksi Demonstrasi Damai. Tiada satu pun kekerasan dalam mewujudkan protes terhadap Inggris sebagai cikal-bakal kemerdekaan India terjadi. Salah satu kutipan menarik Mahatma Gandhi yang dikutip dari tulisan Menjadi Lilin bagi Dunia yang Gelap Hari Ini-Mungkinkah? oleh Arya Parama W adalah ‘Ketika mata dibalas dengan mata, maka dunia menjadi buta’. Buta, tidak dapat melihat, semua menjadi gelap. Itulah gambaran bagaimana kegelapan menyelimuti dunia hari ini, oleh sikap manusia yang tidak lebih sering berbuat baik. Kedamaian yang menjadi idealisme tatanan dunia pada akhirnya hanya menjadi sebuah ‘seharusnya’, bukan realita.

Hal-hal tersebut adalah yang harus diperbaiki di masa yang akan datang oleh kita dan generasi milenial, generasi bangsa yang selanjutnya memegang tonggak pemerintahan yang akan datang. Lalu, bagaimana sikap kita? Persatuan Indonesia! Bersatulah kita, tinggalkan cebong-kampret tak berfaedah ini, bukan hanya untuk cebong-kampret yang mengaku pengikut Kristus, tapi seluruh cebong-kampret yang ada di seluruh dunia.


Persatuan Indonesia

Dalam Pidato Bung Karno yang berjudul 'Lahirnya Pantjasila' diungkapkan bahwa demokrasi kita didirikan atas sebuah dasar permusyawaratan perwakilan.

Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara "semua buat semua", "satu buat semua, semua buat satu". Saya yakin syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan perwakilan.  

Dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah wujud dari terlaksananya demokrasi atas dasar permusyawaratan perwakilan. Rakyat memutuskan secara langsung untuk memilih Joko Widodo dan K.H. Ma'aruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden melalui Pemilu. Selain itu, kita telah bermusyawarah mufakat melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk melantik beliau-beliau.  Sebab, kita juga yang memilih Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terdiri dari anggota DPR dan DPD (Pasal 2 UUD 1945 Amandemen IV) melalui Pemilihan Umum.

Sebab kita semua mendirikan bangsa Indonesia untuk tanah air Indonesia seperti yang telah diungkapkan Bung Karno dalam pidatonya yang berjudul 'Lahirnya Pantjasila'

Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan "Gemeinschaft"nya dan perasaan orangnya, "l'ame et desir" . . . Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minangkabau bukan satu kesatuaan, melainkan hanya satu bahagian kecil dari pada satu kesatuan! Penduduk Yogyapun adalah merasa "le desir d"etre ensemble", tetapi Yogyapun hanya satu bahagian kecil dari pada satu kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat merasakan "le desir d'etre ensemble", tetapi Sundapun hanya satu bahagian kecil dari pada satu kesatuan. Pendek kata, bangsa Indonesia, Natie Indonesia, bukanlah sekedar satu golongan orang yang hidup dengan "le desir d'etre ensemble" diatas daerah kecil seperti Minangkabau, atau Madura, atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia-manusia yang, menurut geopolitik yang telah ditentukan oleh s.w.t., tinggal dikesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatra sampai ke Irian! Seluruhnya!, karena antara manusia 70.000.000 ini sudah ada "le desir d'etre enemble", sudah terjadi "Charaktergemeinschaft"! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, ummat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu!  . . . Kesinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu Nationale staat, diatas kesatuan bumi Indonesia dari Ujung Sumatera sampai ke Irian

Foto: Geotime.com 

Mari kita tiru cara hidup jemaat yang pertama: dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. (Kisah Para Rasul 2:44). Semua orang yang tinggal di tanah air Indonesia tetap bersatu, Presiden yang terpilih adalah Presiden bersama, Presiden Indonesia. Bukan presiden golongan cebong dan bukan presiden golongan kampret.

Catatan kaki:

[1]BBC News Indonesia, Demo 22 Mei: Korban meninggal, dalang kerusuhan dan 'ada settingan menciptakan martir', diakses dari https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48345791

[2]Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. (Pasal 1 angka 4 UU ITE) Artinya, Tulisan, gambar, foto, peta, suara, dll termasuk dokumen elektronik, tetapi tulisan saja atau gambar saja bukanlah dokumen elektronik

[3]Andi Saputra, Mengapa Amerika Serikat tidak mengenal People Power, diakses dari https://news.detik.com/berita/d-4549816/mengapa-amerika-serikat-tidak-mengenal-people-power

[4]CNN Indonesia, Lima negara porak poranda akibat people power, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190522115148-106-397316/lima-negara-porak-poranda-akibat-people-power

Baca Juga:

Pidato tak tertulis Soekarno di depan Dokuritu Zyunbi Tyoosakai pada tanggal 1 Juni 1945 ketika sidang membicarakan "Dasar (Beginsel) Negara kita". Sumber: http://www.munindo.brd.de.. Keterangan dari situs sumber: "Disalin dari buku LAHIRNYA PANCASILA, Penerbit Guntur, Jogjakarta, Cetakan kedua, 1949 Publikasi 28/1997 LABORATORIUM STUDI SOSIAL POLITIK INDONESIA"

Ari Setiawan, Merespon Mesias-Mesias https://ignitegki.com/article/62-merespons-mesias-mesias

Arya Prama W., Menjadi Lilin bagi Dunia yang Gelap Hari Ini - Mungkinkah? https://ignitegki.com/article/119-menjadi-lilin-bagi-dunia-yang-gelap-hari-ini-mungkinkah

LATEST POST

 

Satu hari telah berlalu di tahun ke-25nya. Ya, kemarin adalah hari ulang tahunnya. Tidak lama kemudi...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Aku Agak MaluAku agak malu membaca bukuIa berbicara padaku tentang bagaimana menjadi akuMenjadi aku...
by Ester Novaria | 19 Jun 2019

Branding pada dasarnya adalah sebuah usaha yang masuk dalam strategi marketing. Banyak sumber yang m...
by Noni Elina | 19 Jun 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER