God Must Be Crazy... Right?

Best Regards, Live Through This, 21 March 2020
Sebuah hal yang aneh dan secara duniawi tidak logis; ketika kita sedang masa sulit tentunya kita sedih atau marah, tetapi bersama Tuhan masa sulit pun bisa membawa kebahagiaan. So, yeah, happiness is kinda fresh joke in the midst of uncertainty and worries.

Pertama kali membaca artikel tentang virus baru yang menyerang warga China, khususnya di kota Wuhan, rasanya seperti mimpi. Letak tempat asal virus yang jauh membuat saya hanya menganggap hal ini sebagai another news from another part of the world. Tak terbayang bahwa penyebaran virus ini akan menjadi begitu cepat dan luas.

Dinyatakannya penyebaran COVID-19 sebagai sebuah pandemi tak ayal membuat banyak pihak panik dan khawatir. Apalagi, akhirnya ibukota Indonesia mendapati kasus pasien yang positif COVID-19. Orang-orang auto gelagapan, bahkan sampai terjadi panic buying. “Apa salah kami sampai tertimpa hal seperti ini?” Mungkin seperti itu pemikiran banyak orang.

Seiring angka pasien positif yang meningkat dan penyebaran yang semakin luas, tindakan pencegahan dan peringatan pun mulai digembar-gemborkan di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari cuci tangan, pakai masker, hingga ajakan untuk #dirumahaja. Well, ini adalah sebuah tindakan yang butuh komitmen tinggi untuk menahan diri agar tidak pergi ke mana-mana. Bagi Ignite people yang introvert mungkin lebih mudah, tetapi bagaimana yang dengan extroverted Ignite people yang biasanya menemukan kebahagiaan dalam berinteraksi dengan banyak orang? Hmm.. tidak semudah itu, Ferguso!

Sebelum lanjut ke perenungan yang saya dapatkan selama satu minggu #dirumahaja, saya boleh dong kepo; apa kabarnya, IGNITE People? Apa saja yang sudah kalian lakukan dan renungkan selama seminggu atau lebih #dirumahaja?



Mungkin masih banyak yang berpikir, “Ih, gila kali ya, suruh di rumah terus. Mana tahan!” “Aduh, jadwal meeting dan nongki aku berantakan nih” dan lain sebagainya. Bener, nggak?

Sebulan yang lalu saya berpikir, “Ah, nggak mungkin lah penyakitnya masuk ke Indonesia. Tenang aja.” Pemikiran ini terbukti salah dan kekhawatiran mulai merayapi diri saya. Namun, wabah ini belum terasa dekat karena pasien positif baru segelintir dan jauh dari tempat saya tinggal. Sampai akhirnya instruksi untuk work from home dikeluarkan, barulah saya tersentak: The danger is real.


God, Are You Crazy?

Ujian-ujian di sekolah yang sedang atau akan dilaksanakan harus ditunda. Guru-guru mencoba moda baru pembelajaran: kelas daring. ASN (Aparatur Sipil Negara) dan banyak pegawai swasta masuk secara irregular atau bahkan benar-benar bekerja di rumah. Tenaga medis selalu siaga. Aparat keamanan pun harus tanggap mengawasi warga yang berkeliaran tanpa alasan yang jelas. Ekonomi merayap turun. Saham anjlok. Ekspor-impor terhambat. Masyarakat umum panik diterpa berita dan informasi yang menjalar begitu cepat, entah benar atau hoax. Semua kalut, khawatir, hingga lelah untuk waspada.



Is This a Joke? 

Berkaca dari kesempatan selama #dirumahaja, saya mendapatkan suatu perenungan yang menguatkan dan membawa kebahagiaan tersendiri bagi diri saya. Sebuah hal yang aneh dan secara duniawi tidak logis; ketika kita sedang masa sulit tentunya kita sedih atau marah, tetapi bersama Tuhan masa sulit pun bisa membawa kebahagiaan. So, yeah, happiness is kinda fresh joke in the midst of uncertainty and worries.

Kebahagiaan yang pertama: Despite the frustrating need of going somewhere else and the urge to meet people, I’m actually glad to have some time for myself. Sebagai seorang introvert yang cukup sibuk dan biasa kesana-kemari, saya sadar saya membutuhkan me-time yang tidak terlalu panjang, tetapi sesering mungkin. Waktu seperti ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk me-time —walaupun sambil WFH—termasuk melakukan hal-hal yang dari lama ingin saya lakukan: Membaca buku yang sudah menggunung, menulis, hingga belajar hand-lettering.

Kebahagiaan yang kedua: knowing that we, humans, can show humanity. Meningkatnya jumlah kasus dan luasnya dampak di berbagai sektor kehidupan membuat banyak orang bergandengan tangan untuk mendukung tenaga medis, orang-orang yang terdampak secara ekonomi, dan lain lain. Para artis menggalang dana, sebagian orang tergerak membagikan masker secara gratis, dan institusi keagamaan pun berdonasi. Walaupun orang-orang sedang tidak mampu bertemu muka, tetapi pesan bela rasa tetap digaungkan lewat pesan pribadi, video call, komentar di media sosial, dan partisipasi dalam penggalangan dana. 

Ini adalah lilin di tengah kegelapan. Ini adalah sebuah keajaiban di tengah atmosfer negatif dari kepanikan akan penyebaran COVID-19. Ini adalah secuil pesan bahwa kita masih bisa bahagia di tengah derita.

Kebahagiaan selanjutnya: We learn to actually emphatize. Instruksi belajar di rumah, kerja di rumah, dan ibadah di rumah mau tidak mau membuat kebanyakan orang beradaptasi dengan kilat terhadap situasi ini. Baru 2 hari belajar di rumah, orang tua banyak yang mengeluh tidak sanggup menemani anak-anaknya belajar. Lalu, bermunculan pesan broadcast yang menyadarkan orang tua untuk menghargai dan memahami guru. 

Guru-guru dan pekerja kantor beradaptasi dengan mengatur waktu dan cara agar tetap bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Mulailah banyak digunakan aplikasi teleconference yang bisa mendukung pertemuan atau meeting jarak jauh dengan peserta yang banyak. Bahkan, gereja pun bergerak dengan melakukan live streaming ibadah atau mengunggah konten yang mendukung ibadah di rumah. Saat yang tepat untuk belajar hal baru, bukan?



Di tengah masyarakat umum banyak yang menjadi lebih peduli akan tenaga medis dan orang-orang yang ekonominya terdampak, contohnya supir ojol. Orang-orang bergantian mengirimkan makanan untuk mereka sebagai bentuk kepedulian. Banyak yang mulai sadar bahwa menjadi tenaga medis adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah apalagi di saat seperti ini, maka ada yang mengirimkan dana untuk membeli peralatan medis yang diperlukan atau sekadar memberikan semangat verbal melalui pesan. Suatu hal yang indah di tengah suasana resah.

To put ourselves in others’ shoes is never an easy task, but it’s not impossible and it’s worth the struggle.

Menemukan kebahagiaan di tengah kesulitan mencetuskan pertanyaan ini: God must be crazy… right? Di saat-saat yang mengkhawatirkan, saya merasa ‘berdosa’ untuk berkata bahwa saya bahagia. Sejujurnya, Tuhan toh bisa menggunakan banyak hal yang lebih baik agar kita bisa belajar sesuatu. Namun, ternyata kesengsaraan tetaplah cara terjitu untuk menempa diri kita, memperkukuh iman kita, dan menguatkan relasi kita. 

May we be amazed at God and His ‘crazy’ ways in giving us a lesson of happiness. Enjoy the ride!

LATEST POST

 

Seorang aktris Korea, Park Shin Hye pernah ditanya dalam suatu acara variety show yang dibintanginya...
by Monica Petra | 26 Oct 2020

Aku setuju bahwa dalam beberapa hal, lebih baik jika kita melontarkan kata tanya "bagaimana&quo...
by Lia Oozz | 26 Oct 2020

[Disclaimer: This article is based on writer experience]As an Asian that lives in the Asian continen...
by Marcella Liem | 26 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER