“Usik” - Feby Putri: Seni Berdamai dengan Masalah

Best Regards, Live Through This, 26 June 2023
“Tiada yang meminta seperti ini. Tapi menurutku Tuhan itu baik”

Dear Ignite People,

sudah pernah dengar lagu Feby Putri yang berjudul "Usik" ini?




Tusuk hal't gnay natagni gnajrenem

Tudusret uk' ini gnaur tagnah malad

Tural hal't gnay lah kaugnem


Tersesak beriring kabut

Menguak hal yang t'lah larut

Dalam hangat ruang ini ku tersudut

Menerjang ingatan yang t'lah kusut


Hanyut di dalam duniaku

Binasa seram kelam redup

Perlahan menjerit atas yang kut'rima

Dari orang-orang yang tak paham


Hari-hari kujalani, harap ada yang bermakna

Kembalikanlah senyumku yang pergi

Secepat s'perti di lahirkan lagi


Tiada yang meminta seperti ini

Tapi menurutku Tuhan itu baik

Merangkai ceritaku sehebat ini

Tetap menunggu dengan hati yang lapang

Bertahan dalam macamnya alur hidup

Sampai bisa tiba bertemu cahaya


Kalau Ignite People notice, akhir-akhir ini, lagu “Usik” karya Feby Putri terus bermunculan di For Your Page TikTok. Di balik sound itu, banyak netizen yang membagikan perjuangan hebat dalam hidup mereka. Beberapa ibu muda yang meninggalkan pekerjaan impian mereka demi membesarkan anak. Di saat yang bersamaan, ada juga pasangan yang bercerita tentang keinginan mereka untuk segera memiliki buah hati. Tidak hanya soal keluarga, masalah seseorang dalam menghadapi depresi juga dibahas dalam video lain. 


Aku tertegun melihat orang-orang dan juga keberanian mereka dalam menjalani kehidupan yang mereka punya. Di satu sisi, aku berpikir bahwa kita memang bertemu dengan ujian kita masing-masing. Meskipun kita menghadapi masalah yang berbeda, kita semua punya satu kesamaan: sama-sama punya masalah. Entah itu soal keluarga, percintaan, pekerjaan, dan lainnya. 


Ada perasaan tersembunyi di dalam hatiku yang kurang lebihnya mengatakan, “Oh ternyata gue nggak sendirian ya? Orang-orang lain pun sedang berusaha mengatasi masalah-masalah mereka.”



Photo by Jackson Simmer on Unsplash


Lagu “Usik” menyadarkanku akan beberapa hal:


1. Tutorial menghadapi kekecewaan


“Hanyut di dalam duniaku

Binasa seram kelam redup

Perlahan menjerit atas yang kut'rima

Dari orang-orang yang tak paham”


Mungkin kamu sedang menjalani hidup ketika komentar orang-orang yang ada di sekitarmu mulai "mengusik", seperti...


"Idih umur segini kok belum menikah?"


"Belom punya anak ya?"


"Kok makin gendut?"


Dan biasanya masih banyak ratusan pertanyaan yang tidak bisa kita kontrol. 


Mungkin kalian pernah ada di situasi dimana beberapa orang ngomong hal-hal yang gak menyenangkan soal hidup kita. Kadang omongan itu juga yang bikin kita merasa tertekan maka kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Lalu, kamu pun mulai merasa kecewa. 


Kita memang hidup di realita di mana semua hal seakan punya timeline dan standar tertentu. Seolah kamu harus lulus pada usia 22 tahun dan menikah pada umur 25 tahun. Jika kamu tidak memenuhi standar dan juga jadwal yang dimiliki manusia, kamu dinilai gagal. Padahal kenyataannya kan tidak seperti itu. Siapa lah kita untuk menentukan gagal dan suksesnya hidup orang kalau kita melulu menggunakan standar manusia?


Lalu apa yang bisa kita lakukan? Tunjukkan sikap takut akan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari (ingat Amsal 1:7). "Takut" di sini bukan berarti kita tidak berani menjalin relasi dengan-Nya secara pribadi, melainkan justru dengan hormat dan penuh ketaatan mengakui keberadaan serta otoritas-Nya sebagai Sang Tuan atas hidup kita. Sang Tuan ini mengenal kita secara pribadi, sehingga hanya kepada-Nyalah kita bisa percaya bahwa Dia peduli dan tidak lepas tangan ketika kita mengalami berbagai musim kehidupan—baik yang mudah dilalui maupun tidak. Melalui relasi pribadi dengan Tuhan inilah kita belajar percaya bahwa akan ada akhir di setiap rintangan yang kamu hadapi.  Justru sikap kecewa yang berlebihan itu tidak akan membawa kita kemana-mana. Lebih baik kita menghadapi masalah itu satu per satu.

Sama seperti dunia yang fana, tidak ada masalah yang abadi. Dunia itu hanya tempat persinggahan sementara. 



Photo by Emanuel Ekström on Unsplash


2. Hidup itu perihal menunggu


"Bertahan dalam macamnya alur hidup,

Sampai bisa bertemu cahaya."


Bukannya Tuhan tidak mendengar keluh kesah dan juga doamu, tapi hal-hal baik memang harus ditunggu. Kita tidak hidup di dunia yang bisa mengabulkan semua keinginan kita hanya dalam sekejap mata kan? 


Mungkin kamu memang sedang merasa sesak dengan masalah yang kelihatan tidak ada ujungnya. Namun ingat, segala hal itu ada waktu dan masanya (Pengkhotbah 3:1-8). Bisa jadi di sini kamu sedang menunggu hasil dari usahamu. Tenang, kamu ga akan terus-terusan menunggu, karena akan ada saatnya dimana kamu akan menerima semua hal baik yang sudah kamu tabur. Selain itu, hidup kan tidak hanya perkara menunggu, tapi tentang apa yang akan kamu lakukan selama kamu menunggu. Nah, apakah kamu sudah menghabiskan waktu penantian itu dengan bijak? 


3. Berharap itu boleh, tapi berusaha itu harus


Kalau kamu merasa "tersesat beriring kabut", kamu punya pilihan: diam saja atau mencari jalan keluar. Ingat Yakobus 2:26, “... iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Karena perbuatanmu harusnya jadi bukti bahwa kamu percaya akan apa yang Tuhan rencanakan dalam hidupmu.

Terperangkap dalam satu masalah adalah satu hal yang tidak bisa kamu kendalikan. Tapi apakah kamu mau terus-terusan membiarkan dirimu tak berdaya dan sendirian?


4. Manusia yang berencana, Tuhan yang menentukan


"Tiada yang meminta seperti ini,

Tapi menurutku Tuhan itu baik

Merangkai ceritaku sehebat ini"


Kamu boleh merencanakan masa depan, tapi Tuhan yang berkuasa untuk menulis cerita kehidupanMu (Yesaya 55:8-9). Cerita perjuangan dan juga bahagiamu yang pada akhirnya membentuk kamu hingga menjadi pribadi yang setangguh ini. Dan lagi-lagi, kamu sedang dibentuk menjadi pribadi yang akan lebih baik lagi. Karena pastinya Tuhan tau batas dan kemampuanmu. Jadi daripada membandingkan hidupmu dengan orang-orang lain, mending percaya sama sutradara hidupmu aja. 

Yang punya rencana terbaik bagi hidupmu adalah Tuhan (Amsal 16:9). 

Seperti juga tertulis pada Yakobus 4:15, “Sebenarnya kamu harus berkata:”Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Ya, kita punya akal budi dan dibekali oleh Tuhan untuk berpikir serta bertindak, tetapi Dia juga rindu agar dalam setiap perencanaan yang dilakukan, kita selalu bertanya kepada-Nya agar dimampukan melakukan apa yang Dia kehendaki. Jika hidup ini hanya sekali, mengapa tidak mengerjakan kerinduan Sang Pencipta yang beranugerah memberikan napas kehidupan?


Kesimpulannya?

Cukup lakukan apa yang kamu bisa selama Tuhan yang merangkai hidupmu menjadi lebih baik.


Memang kamu yang punya hidup, tetapi jangan abaikan Tuhan sebagai nahkoda yang mengarahkan haluan. Enggak bakal ada habisnya untuk dengerin kata-kata orang yang bahkan gak paham sama hidupmu. Nggak ada untungnya juga untuk terus-terusan membanding-bandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Mending fokus sama hidupmu sampai akhirnya kamu berhasil melewati ombak yang menerjang kapalmu. 


Ingatlah, sebenarnya kamu tidak pernah sendirian. 

LATEST POST

 

Ketika aku hidup sentosa aku pernah berkata,"Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!"TUHAN,...
by Samuel Semeion | 10 Jun 2024

Jakarta, 4 Mei 2024 – Generasi muda Indonesia, yang mencapai lebih dari separuh populasi, meru...
by Admin | 29 May 2024

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER