KESEMPATAN

Best Regards, Live Through This, 25 November 2021
Jadi tak ada kesempatan kah? Tentu ada!

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata kesempatan adalah waktu (keluasan, peluang dan sebagainya) untuk. Contoh: setelah ceramah selesai, pendengar diberi kesempatan untuk bertanya. 

Dari pengertian kesempatan dan contoh di atas kita mengerti bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya seperti kata Pengkhotbah pasal 3:1-15. Kesempatan yang telah dirangkai oleh Allah menjadikan manusia bergantung pada-Nya dan memahami bahwa segala sesuatu indah pada waktunya.

Photo by Jon Tyson on Unsplash

Namun, beratnya perjalanan hidup yang dilalui manusia dapat menjadi alasan untuk tidak menggunakan kesempatan yang ada (menyia-nyiakan peluang yang diberi Allah). Termasuk peluang untuk mengasihi. Mengasihi bukanlah perkara mudah dilakukan apalagi kalau sebelumnya pernah dilukai oleh orang yang hendak dikasihi. Menjadi lebih sulit lagi jika dilukai oleh orang terdekat seperti antara orang tua dan anak. Karena akan semakin dalam rasa sakit itu.

Di dalam sebuah keluarga seorang anak dapat terluka. Tidak hanya luka fisik tetapi luka di hati yang akhirnya menyisakan ingatan pedih pada batin yang bisa dialami sejak dari dalam kandungan maupun setelah lahir. Mungkin setiap kita yang adalah "anak" tidak memiliki cerita pedih yang sepenuhnya sama tetapi dapat sama-sama terluka oleh mereka yang memperanakkan kita. 

Photo by Kat J on Unsplash

Kenyataannya setiap anak tidak bisa memilih seperti apa wujud dan asal usul pasangan (laki-laki dan perempuan) yang akan memperanakkan diri mereka. Entah diperanakkan atas dasar cinta atau karena tuntutan lainnya bisa juga hanya karena sebuah "kecelakaan". Entah dibesarkan dengan cinta yang mendidik atau dibebankan dengan tuntutan dan harapan terbaik versi orang tua.

Sebagai anak mungkin kita pernah atau saat ini sedang merasa lelah dengan situasi di rumah terlebih dengan orang-orang yang ada didalamnya. Bagaikan celengan rasa amarah, kekecewaan, kesedihan dan semua luapan emosi terhadap orang tua telah kita tabung sampai penuh. 

Photo by Eric Ward on Unsplash

Untuk kamu yang sedang tidak baik-baik saja (benar-benar sedang tidak berdaya) menghadapi orang tua, tanyakan pada diri sendiri: "Tak ada kesempatan kah bagi dirimu sendiri untuk mengasihi mereka?"

Untuk kamu yang sedang merasa baik-baik saja (sebenarnya sedang berlaku seolah-olah semuanya baik padahal tidak) dalam menghadapi orang tua, tanyakan pada diri sendiri: "Mau berapa lama lagi kesempatan mengasihi itu disia-siakan?"

Photo by Ben White on Unsplash


Kesempatan Mengasihi

Kesempatan mengasihi orang tua sebenarnya memberi peluang untuk diri kamu sendiri. Peluang untuk melepaskan amarah dan kecewa terhadap orang tua yang telah dipendam sangat diperlukan. Terus-menerus memendam justru membawa dampak buruk bagi kamu. 

Seperti memendam rasa marah dan kecewa karena mengalami ketertolakkan dalam keluarga, rasa marah karena adanya pembandingan dari orang tua terhadap kemampuan kamu dengan kakak/adik ketika sekolah dan pembandingan penghasilan ketika kalian bekerja.Rasa sedih karena kamu tidak diberikan kesempatan untuk memilih dan berusaha akan sesuatu yang disukai, kamu terpaksa menjadi tegar sedari kecil oleh karena orang tua yang sama-sama tersakiti dan pada akhirnya membuat satu dari mereka atau keduanya "menitipkan" tanggungjawab orang tua kepada orang lain, kamu mengalami kekerasan fisik ataupun verbal, dan kamu memendam rasa sakit hati karena memiliki keluarga yang tidak utuh (broken home).

Faktor-faktor yang ada ini pun menjadi alasan untuk terus-menerus menyalahkan mereka (papa/mama). Semua peristiwa buruk yang kamu alami pun disimpulkan bahwa itu bersumber dari orang tua. 

Photo by Tingey Injury Law Firm on Unsplash

Terus-menerus menyalahkan justru tidak memberikan waktu bagi diri sendiri untuk mencerna semua yang telah terjadi. Terus-menerus menyalahkan mereka (papa/mama) justru adalah tindakan menyakiti perasaan yang akhirnya malah merugikan diri kamu sendiri. Merugikan diri sendiri diantaranya ialah:

1. Kamu merasa tertekan, punya cemas berlebih, bisa stres bahkan depresi yang akhirnya buat sekolah dan kerjaan jadi berantakan, 

2. Kamu akan membandingkan keluarga mu dengan keluarga orang lain yang akhirnya buat kamu jadi mengeluh dan kembali menyalahkan orang tua bahkan Tuhan, 

3. Kamu berusaha keluar dari zona tidak nyaman itu dengan cara yang salah sekaligus jadi cara buat memberontak (punya toxic relationship dengan pasangan, merusak diri dengan miras dan narkoba, pelampiasan ke kerjaan atau sekolah melebihi batas waktu sampai akhirnya kamu bisa jatuh sakit, dll)

4. Kamu tidak memiliki tujuan hidup dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupmu di dunia

Photo by Anh Nguyen on Unsplash

Hai kamu yang tersakiti,

Berilah kesempatan bagi diri sendiri untuk melepaskan diri dari semua keadaan yang tidak benar itu. Dalam Yesaya 43:18-19 (TB) tertulis firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara."

Jadi berhentilah tinggal di dalam ingatan akan hal-hal yang dahulu. Mengapa? Sebab rancangan hari depan dari Allah telah dirangkai bagi setiap kita anak-anakNya. Allah sanggup melakukan segala perkara, maukah kita percaya pada-Nya? 

Jadi keluarkan lah perhatian mu dari masa kepahitan itu. Mengapa? Sebab Allah sanggup memberikan damai sejahtera bagi kita yang tersakiti, maukah kita bersandar pada-Nya? 

Jadi ketahuilah dan percayalah kasih Yesus sanggup menyembuhkan luka kita sedalam apapun sakit itu. Melepas pengampunan dan tidak mengingat kepahitan hanya dapat dilakukan di dalam kepercayaan dan pengharapan pada Yesus. 

Photo by Neal E Johnson on Unsplash

Jadi tak ada kesempatan kah? Tentu ada!

Dimulai dari berdoalah untuk dirimu, bertumbuhlah dalam pengenalan akan Firman Tuhan (adanya perubahan hidup sebagai anak Tuhan), berdoalah untuk orang tuamu, bertumbuhlah dalam kasihmu kepada orang tua, berbicaralah dari hati ke hati dengan orang tuamu, dan yang terakhir tetap berdoa dan percaya semua yang terbaik dari Tuhan indah pada waktuNya.

Hai kamu yang sedang menunda-nunda kasih mu kepada mereka(papa/mama) apakah kamu yakin tidak ingin merasakan damai yang sesungguhnya?

Apakah kamu tidak ingin melihat rancangan spesial dari Allah bagi mu saat kamu telah memberi kesempatan?

Photo by Aryan Dhiman on Unsplash


Percayalah, kasih yang dari Allah akan membuat kamu menerima dirimu dan memampukan mu untuk berdamai dengan orang tua.



LATEST POST

 

Hai Ignite People!Sebagian dari kita mungkin ada yang masih belajar di sekolah atau di kampus, dan s...
by Verry Yovelin | 02 Aug 2022

Beberapa kali orang tuaku pernah bercerita waktu masih balita, aku pernah hampir kejatuhan vas belin...
by Regina Megumi | 02 Aug 2022

Doa memang cukup kita ucapkan, namun terkabul atau tidaknya kita tidak ada yang tahu. Yang jelas, da...
by Willi Bordus Bayu Setiawan | 23 Jul 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER