Silence: Ketika Hening Benar-Benar Jadi Emas

Best Regards, Live Through This, 15 April 2023
Bayangkaaaan… Kita sedang menjadi panitia acara di gereja. Lima menit jelang acara dimulai, bangku-bangku di ruangan masih kosong. Panitia mulai saling lirik panik, sambil mengecek handphone. Menanti jawab dari orang-orang yang sudah diundang secara japri. Namun hanya ada hening, baik di dalam ruangan maupun di ponsel semua panitia. Hingga jam acaranya tiba.

Kesunyian sering menjadi hantu mengerikan yang menggentayangi kita di gereja. Di tengah kehidupan yang mengagungkan angka besar sebagai prestasi, ketika influencer bisa menikmati hidup mewah berkat jutaan follower, dan megachurch membuat kita berdecak kagum, keheningan—yang identik dengan ketiadaan orang—jadi sering dihindari.


“Berapa orang yang hadir di acara kemarin?”
“Ada seratus lima puluh, Pak.”
“Bagus!”


“Berapa orang yang hadir di acara kemarin?”
“Ada sebelas, Pak.”
“Loh, loh, loh… Kapan rapat evaluasinya?”



Keheningan sering kita identikkan dengan kegagalan. Keheningan membuat kita merasa kikuk. Bahkan dari Ibu, saya sempat mengidentikkan hening dengan rasa takut—karena ibu saya paling takut jika seluruh anggota keluarga sibuk di luar rumah, dan ia harus ditinggalkan sendiri di rumah yang sepi dalam waktu lama. Apalagi jika di luar cuaca buruk, paket lengkap film horor.


Padahal... mungkin tidak ada yang salah dengan hening.


Sebagai contoh, di dalam 1 Raja-Raja 19, kita mengenal sosok Elia yang sedang berada di titik terendah hidupnya. Ia berada dalam kesendirian di Gunung Horeb, diliputi rasa takut dan putus asa di tengah keheningan sebagai orang yang sedang melarikan diri dari penguasa. Ia bahkan sempat berdoa minta mati saja. Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, Tuhan menyapa Elia. Bukan dalam angin topan yang membelah gunung, gempa dahsyat maupun kobaran api, Ia justru hadir dalam ketenangan angin sepoi-sepoi. Sebuah cara yang—mungkin—tidak dahsyat, tetapi menyadarkan Elia bahwa Tuhan hadir sangat dekat dengannya.


Mari kita kembali mengingat momen Jumat Agung yang baru saja kita peringati tiga minggu lalu. Saya membayangkan bahwa dalam keheningan yang sama memekakkannya, Yusuf dan Nikodemus menguburkan Yesus. Dalam pikiran mereka mungkin berkecamuk badai, tetapi situasi memaksa mereka untuk tidak membuat kegaduhan.


Tiga hari kemudian, dalam keheningan yang sama, Yesus yang sama bangkit dalam kesendirian kubur-Nya pada pagi-pagi buta kala itu. Jauh sebelum para murid menemukan kubur-Nya kosong, Ia telah bangkit—sendirian, dalam sepi dan gelapnya makam.



Dari mereka, saya belajar untuk merangkul keheningan yang tidak nyaman, menerimanya sebagai bagian dari kehidupan. Hening mungkin tidak nyaman, hening mungkin menjejali benak kita dengan hal yang tidak ingin kita terima. Namun ia memberikan ruang untuk merenung dan menggeser prioritas lain yang selama ini menggaduhi kepala kita. Kini keheningan pun mengejar kita dengan pertanyaan: Maukah kita memanfaatkan hadirnya hening, untuk memaknai kehadiran Ilahi di hidup kita?


Kembali ke acara gereja yang sepi tadi. Mata sang panitia menatap lekat pada sebelas orang saja yang duduk di ruangan. Mereka adalah orang-orang yang ia kenal pergumulannya. Salah satunya adalah seorang ibu yang suaminya meninggal direnggut Covid tahun lalu; semua anaknya di luar kota, sehingga keheningan rumah mungkin sudah jadi makanan sehari-harinya. Lalu ada seorang bapak yang terdiagnosa kanker—keheningan ruang kemoterapi mungkin rutin ia sambangi. Mereka adalah orang-orang yang telah mengakrabi hening; dan hari itu mereka hadir untuk momen perjumpaan dengan Tuhan, bukan untuk menghitung jumlah orang.


Dan acara hari itu dilaporkan sukses.


Karena acara gereja hari itu dihadiri oleh mereka yang memerlukannya dan memberikan mereka momen perjumpaan dengan Tuhan lewat persekutuan yang intim dan menguatkan. 


Selamat merangkul keheningan dalam hidup kita.

LATEST POST

 

Pemerintahan di dunia ini dilaksanakan dalam berbagai metode, namun pada intinya adalah mengatur sec...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 29 Feb 2024

Image on PexelsMarilah kita membayangkan diri kita sendiri ketika kita sudah tua nanti? Apakah kita...
by Samuel wangsa | 18 Feb 2024

Lagu Kidung Jemaat no. 249 berjudul "Serikat Persaudaraan" mungkin sudah tidak asing lagi...
by Alviedo Yuda | 14 Feb 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER