Reconnecting Life

Best Regards, Live Through This, 16 February 2023
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa - Yohanes 15: 5



Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa - Yohanes 15: 5


Beberapa waktu yang lalu, masyarakat kembali digemparkan dengan mainan lama yang bernama latto-latto. Kita bisa melihat anak-anak ataupun orang dewasa, baik itu di depan rumah, tetangga, bahkan media sosial juga dipenuhi dengan mainan ini. Tampaknya tidak ada satu hari pun yang tidak kita lewati tanpa mendengar bunyi latto-latto.


Suatu kali saya yang penasaran dengan mainan ini lalu memutuskan untuk membeli. Setelah mencobanya, saya menyadari ternyata tidak semudah itu untuk bermain latto-latto. Dibutuhkan keseimbangan dan ritme yang pas dalam mengayunkan mainan ini supaya bisa memantulkan kedua bola kecilnya, apalagi sampai bisa melakukan teknik-teknik lainnya yang susah itu.


Jika kita memperhatikan mainan ini dengan seksama, yang membuat dua buah bola latto-latto bisa saling berpantulan secara seimbang adalah karena adanya dua tali yang saling terhubung dengan sebuah lingkaran plastik kecil. Lingkaran plastik ini menjadi pusat keseimbangan antara tali dan bola lato-lato. Karena keterhubungan dengan pusatnya, yaitu lingkaran plastik kecil inilah yang membuat latto-latto bisa memantul dengan baik.




Courtesy by Pixabay


Rasanya hal ini mirip dengan hidup kita. Seperti latto-latto yang terhubung dengan pusatnya, hidup kita juga perlu terhubung dengan pusatnya, yaitu Tuhan. Yesus mengatakan bahwa untuk memiliki kehidupan yang baik kita harus terhubung dengan Dia, bagaikan ranting yang melekat dengan pokok anggur. Dengan cara yang sama seperti tanaman menerima nutrisi dari akarnya, kita menerima air yang memberi kehidupan dari Roh Kudus dan makanan dari Firman Tuhan. Ini memberikan kekuatan yang baru bagi kita secara rohani. Di luar Yesus, hubungan ini akan terputus dan hidup kita pun tidak akan berbuah.


Ketika kita menjaga hubungan ini, saat ada masalah datang kita tidak akan menjadi goyah. Kita tetap bertahan di dalam “pantulan masalah” itu, karena kita tetap terhubung dengan sang Pencipta. Namun jika tidak, rasanya ketika pantulan masalah itu datang, kita akan mudah hancur lebur karena kita sudah tidak terhubung lagi dengan Tuhan. Itulah sebabnya, kita perlu terus menjaga hubungan itu supaya kehidupan kita dapat tetap terhubung dengan Tuhan dan berbuah banyak. Di luar Tuhan, apa yang kita lakukan menjadi sia-sia. Hubungan yang terjalin itu terus memberikan sumber air kehidupan bagi kita. Memberikan kekuatan ketika menghadapi permasalahan hidup. 


Tentunya ditengah dunia yang sibuk dan berjalan dengan sangat cepat, untuk bisa tetap menjaga hubungan intim dengan Tuhan bukanlah hal yang mudah. Orang suka mengeluh "wah, punya waktu kosong aja sudah syukur." Sebenarnya, persoalannya bukan hanya tentang kita yang sibuk hingga tidak punya waktu sama sekali untuk Tuhan, melainkan mengenai prioritas hidup. Walaupun secara teori kita (mungkin) sudah belajar bahwa Tuhan adalah pusat hidup kita, nyatanya tidak mudah untuk selalu menjadikan kehadiran-Nya sebagai alasan kita dalam bertindak, bersikap, maupun berkata-kata. Roma 3:10-12 (Terjemahan Baru 2) memberikan gambaran manusia yang berdosa, yang akhirnya tidak lagi mencari Allah:


Tidak ada seorang pun yang berakal budi,

tidak ada seorang pun yang mencari Allah.

Semua orang telah menyeleweng,

mereka semua tidak berguna,

tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.



Photo by Nong V on Unsplash  


Ya, ketika belum ditebus Allah, manusia memandang relasi dengan-Nya bukanlah hal yang utama. Bahkan keinginan untuk mencari Allah pun mungkin tidak pernah terlintas jika bukan karena intervensi-Nya yang menggelisahkan. Tidak berhenti di sana, natur dosa sudah merebak ke seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam konteks relasi kita dengan orang lain. Lalu, benarkah tidak ada harapan untuk memulihkan relasi dengan Allah dan sesama yang rusak ini?


Syukur kepada Allah! Status kita saat ini sudah berbeda, karena Dia telah menebus dan mengubah status kita menjadi manusia yang baru melalui pengurbanan Tuhan kita Yesus Kristus, seperti yang dituliskan Paulus berikut ini:


Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 2 Korintus 5:17 (Terjemahan Baru 2)


 Kita sekarang memiliki dua pilihan: tetap memiliki hidup yang lama, atau meninggalkan hidup lama itu dan menjadi manusia baru yang rindu untuk berelasi dengan Tuhan.


Jika berjuang sendirian, mungkin kita jadi lebih sering menyerah. Sekuat apa pun itu, pada akhirnya kita diperhadapkan dengan realitas bahwa kita tidak bisa berjuang seorang diri untuk mengubah sesuatu, termasuk diri kita yang dipanggil untuk menjadi murid Kristus. Memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang yang telah diselamatkan, tetapi tertanam di dalam komunitas orang percaya jugalah kita perlukan sebagai "cermin" kehidupan. Itulah sebabnya kita perlu memiliki komunitas yang baik dan sehat yang saling mendukung, saling mengingatkan, dan saling menegur (bukannya baik di depan, tetapi "menusuk" di belakang). Penulis Amsal pun pernah mengungkapkan, "Lebih baik teguran terang-terangan daripada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan melukai dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlebihan." (Amsal 27:5, Terjemahan Baru 2).


Ignite People, jika saat ini kita belum memiliki komunitas itu, mari kita mencoba mencari dan membuka diri di dalam komunitas yang sehat itu—yang bisa ada di gereja, kampus, sekolah, maupun parachurch (kita tetap perlu tergabung dalam gereja lokal, ya. Mungkin ada Ignite People yang tertarik membahas isu ini). Tidak ada komunitas yang sempurna, tetapi di dalam komunitas itu kita bisa memelihara hubungan dengan Tuhan bersama saudara-saudari seiman kita. Misalnya melalui waktu teduh bersama kita, pembacaan Firman yang dilakukan bersama, berdoa syafaat, dan saling sharing kehidupan masing-masing. Hal-hal seperti ini dapat membantu kita supaya tetap terhubung dengan Tuhan, dan apa yang kita lakukan pun menjadi lebih bermakna jika kita melakukannya di dalam Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita tetap terhubung dengan-Nya, dan menemukan komunitas yang tepat untuk bertumbuh di dalam Kristus bersama saudara-saudari seiman.

LATEST POST

 

Pemerintahan di dunia ini dilaksanakan dalam berbagai metode, namun pada intinya adalah mengatur sec...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 29 Feb 2024

Image on PexelsMarilah kita membayangkan diri kita sendiri ketika kita sudah tua nanti? Apakah kita...
by Samuel wangsa | 18 Feb 2024

Lagu Kidung Jemaat no. 249 berjudul "Serikat Persaudaraan" mungkin sudah tidak asing lagi...
by Alviedo Yuda | 14 Feb 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER