TFIOS dan Kita yang Terluka (part 1)

Best Regards, Live Through This, 04 March 2022
That’s the thing about pain; it demands to be felt. -Augustus Waters, TFIOS

Hazel Grace Lancaster merasa tidak ada manfaatnya untuk terlalu semangat menjalani hidup, apalagi bertemu dengan orang-orang baru. Baginya, kehidupan yang sedang ia jalani sekarang hanya tinggal menunggu waktu berakhirnya saja. Sel kanker yang menyebar ke paru-paru membuatnya harus bergantung pada selang dan tabung oksigen karena pernapasannya terganggu. Terkadang kesulitan bernapas itu menjadi parah sehingga ia harus dilarikan ke gawat darurat.


Hidup mulai lebih cerah ketika Hazel Grace bertemu dengan Augustus a.k.a Gus di sebuah support group. Mereka sama–sama menderita kanker, tetapi berbeda jenis; Gus menderita kanker tulang yang membuatnya harus kehilangan satu kakinya. Berbeda dengan Hazel Grace, Gus memandang kehidupannya lebih positif. Ia tahu masih banyak yang ia bisa lakukan, jadi ia berusaha make every moment counts.


Ignite People, siapa sih yang nggak pernah putus asa? Dalam hidup ini, ada aja momen yang bikin kita rasanya kehilangan harapan; sepertinya nggak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk membuat hidup kita merasa lebih menyenangkan. Namun, hidup memang nggak bisa diprediksi. Kita mungkin pernah bertemu dengan orang yang menurut kita harusnya merasa ‘menderita’ tapi bisa bersikap seolah hidupnya bahagia. Bukan, ini bukan munafik, atau merasionalisasi diri. Ini adalah seorang yang merasa content dengan dirinya.


Saya mengagumi guru seni saya waktu SMA dulu. Ia adalah seorang seniman–ya, betul-betul seniman! Karyanya saja sampai ke Eropa dan Jepang. Saya heran dengan gaya hidup beliau yang sederhana, padahal alat lukisnya mahal-mahal, hahaha. Setelah kenal lebih dekat, beliau ternyata pernah menjalani kehidupan yang seenaknya sendiri di masa mudanya. Mabuk-mabukan dan bergonta-ganti pacar adalah sesuatu yang biasa. Sampai satu titik dalam hidupnya, beliau menyadari bahwa kehidupannya ini tidak hanya merusak dirinya tapi juga tidak bermanfaat bagi orang lain. Beliau bertekad untuk memberikan dirinya untuk orang lain dengan menjadi guru dan aktivis lingkungan. Beliau bahkan membuka rumahnya untuk orang-orang yang butuh workshop seni dengan beliau.


Saya melihat bapak guru ini sebagai salah satu orang paling content yang pernah saya temui dalam kehidupan saya. Dengan keunikan pribadinya, beliau bisa memberikan manfaat kepada orang-orang di sekitarnya. Beliau tidak ragu menceritakan tentang masa mudanya kepada kami murid-muridnya, dan kami pun jadi memahami mengapa sekarang beliau hidup seperti itu. Masa lalunya memang tidak baik untuk dicontoh, tapi hati dan semangatnya di kehidupan yang sekarang menginspirasi saya. 


Ignite People, saya rasa setiap kita punya pengalaman dan bagian dari kepribadian yang tidak ingin kita tampilkan kepada orang lain. Aib, kalau kata orang-orang. Namun, disadari atau tidak, kita ini juga produk dari pengalaman tersebut. Memang tidak semua orang mengalami pengalaman buruk yang sama, merasakan sakit hati yang sama, atau menderita penyakit yang sama. Namun, kita bisa belajar dari satu sama lain untuk menjadi semakin content dengan diri kita.


Kembali kepada Hazel Grace dan Gus. Suatu ketika, Gus meminta Hazel Grace untuk membawakan eulogi dalam pemakamannya kelak. Eulogi adalah ucapan atau tulisan yang memuji atau menghormati seseorang, terutama yang sudah meninggal dunia (KBBI). Saat kondisi kesehatannya memburuk, ia meminta Hazel Grace untuk berlatih membacakan eulogi tersebut di depannya. Saya terhenyak ketika membaca bagian ini. Bagaimana bisa seorang remaja 18 tahun dengan senang hati menyambut saat kematiannya? Kita, orang kebanyakan yang bisa dibilang normal, seringkali masih takut bahkan untuk mendengarnya. Kira-kira, apa yang menyebabkan Gus berani bersikap begitu?


Abraham Lincoln mengatakan, “And in the end, it’s not the years in your life that count. It’s the life in your years.” Ini berarti, seberapa singkat atau panjangnya umur kita, makna yang kita berikan dalam kehidupan kitalah yang berarti. Bukan masalah hidup sampai berapa lama, tetapi seberapa bergunanya hidup kita. Inilah yang saya juga tangkap dari semangat hidup Augustus Waters. Ia sadar akan kekurangan yang ia miliki, tapi ia juga tahu masih banyak potensi dalam dirinya. Ia peduli dengan sahabat-sahabatnya. Ia memberikan semangat kepada teman-teman support group-nya. Ia menyayangi keluarganya. Ia bisa menularkan pengharapannya kepada Hazel Grace yang tadinya tidak ingin mengusahakan hidup yang berkesan. Singkatnya, ia merasa content dengan dirinya.


Ignite People, kita sebagai orang Kristen juga seharusnya hidup dengan self-content, yang bisa kita dapatkan ketika kita merasa cukup dalam anugerah Tuhan. Self-content berarti kita puas dengan keberadaan diri kita dan menerima segala aspek dan pengalaman yang membentuknya. Pengalaman dan keadaan yang buruk pun bisa dipakai Tuhan untuk menjadikan hidup kita bermakna karena melaluinya kuasa Tuhan dinyatakan (2 Kor. 12:9). 


Puas bukan berarti kita diam dan tidak melakukan apa-apa; puas berarti merasa cukup dengan apa yang ia miliki. Menerima berarti kita mengafirmasi bahwa ada luka yang membentuk kita dan kita tahu kita perlu menyembuhkannya. Kita dapat datang kepada Sang Tabib Ajaib karena “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” (Mzm. 147:3). Self-content yang sejati hanya bisa kita rasakan melalui anugerah Tuhan yang menyembuhkan kita dan memberi makna pada luka-luka kita. Hati yang disembuhkan akan diperbarui sehingga kita bisa hidup taat dalam pimpinan Roh Kudus. “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (Yeh. 36:26).


"The marks humans leave are too often scars. You build a hideous minimal or start a coup or try to become a rock star and you think, 'They'll remember me now,' but (a) they don't remember you, and (b) all you leave behind are more scars,” ujar Augustus Waters. Hidup dengan luka tidak berarti kita juga harus melukai orang lain agar mereka merasakan hal yang sama. Hidup dengan luka berarti menyadari, mengakui, menerima, dan memulihkan luka tersebut. Dengan menerima anugerah Tuhan, kita boleh dipulihkan sehingga merasa cukup dengan keberadaan diri kita termasuk luka yang membentuk diri kita masing-masing. Pemulihan luka bukanlah proses sekejap mata, dan karena itu kita perlu bergantung pada Sang Tabib Ajaib. Hanya dengan anugerah-Nya kita bisa menjalani pemulihan untuk luka kita dan merasakan self-content dalam hidup yang sudah diperbarui oleh-Nya.

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER