Free Will vs. Kehendak Bapa?

Best Regards, Live Through This, 22 February 2022
Kehendak bebas yang digunakan dengan salah justru membawa pada kehancuran, baik bagi diri sendiri, orang lain, bahkan lingkungan di sekitarnya. Betul bahwa kita—manusia—dapat bertindak melawan kehendak Tuhan, tetapi itu pun tidak terlepas dari kedaulatan-Nya, karena dosa merusak tatanan apa yang telah diciptakan-Nya dengan sempurna. Pertanyaannya, jika kita mengaku percaya dan mengenal Tuhan, keputusan seperti apa yang akan kita pilih?

"Ah, kebetulan banget bisa ketemu di sini, ya!"

"Hahaha... takdir, takdir... Semesta suka bercanda gitu abisnya."


Benarkah kebetulan itu ada, atau mungkinkah kitanya yang cocoklogi?


Dengan berat hati, kita perlu mengakui bahwa tidak ada satu pun hal yang terjadi secara kebetulan. Mengapa demikian? Karena apa yang disebut dengan "kebetulan" atau "takdir" itu ada di dalam rencana Tuhan yang berdaulat. Jika demikian, apakah Tuhan mengatur segala sesuatu, atau kita memiliki kehendak bebas (free will)? Jawabannya adalah... keduanya.

Ya, Tuhan menciptakan kita segambar dan serupa dengan-Nya, yang artinya kita juga dibekali dengan kehendak bebas. Kita bisa memilih ini dan itu, karena Tuhan juga memberikan akal budi dan pengambilan risiko di dalam setiap keputusan yang dibuat. Namun, rancangan yang baik itu rusak karena kehendak bebas sangat rentan untuk membawa kitamanusiajatuh ke dalam dosa, yang artinya kita melenceng dari kehendak Tuhan yang semula: memiliki relasi yang intim dengan-Nya dan menikmati ciptaan-Nya untuk memuliakan-Nya. Buktinya saja adalah peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa yang pertama (Kejadian 3). Ironisnya, bukannya segera mengakui kesalahan mereka, Adam dan Hawa justru menyalahkan satu sama lain, dan berujung pada pengusiran mereka dari Taman Eden yang seharusnya menjadi "firdaus" bagi mereka bersama Tuhan.

Sorry to say, tapi sebenarnya kita tidak memiliki hak untuk menyalahkan Tuhan atas konsekuensi yang terjadi karena keputusan kita sendiri. Misalnya, ketika kita hamil di luar nikah karena free sex, bahkan ditinggalkan oleh "dia" yang seharusnya bertanggung jawab. Meskipun memiliki kehendak bebas, kalau mau jujur, sebenarnya Tuhan juga sudah mengingatkan agar kita tetap berada di track-Nya, bukannya melenceng demi memenuhi hawa nafsu atau kebutuhan dengan cara yang kita anggap benar. Bagaimana mau berjalan di dalam rencana Tuhan kalau standar kehidupan yang kita pakai saat ini berdasarkan pada pengertian kita sendiri, bukan pada diri-Nya?


Di satu sisi, kita telah sering belajar bahwa hal-hal yang Tuhan sudah atur itu pasti baik, meskipun ada kalanya kita tidak bisa langsung melihatnya dengan jelas. Jika tidak berakhir baik, well most of the time itu karena kita menyalahgunakan kehendak bebas yang Tuhan percayakan pada kita. Dosa juga sudah merusak cara pandang kita terhadap kehendak Tuhan, tetapi itu tidak berarti kita ada di luar kedaulatan-Nya. Kehendak Tuhan dan kedaulatan-Nya adalah dua hal yang berbeda: kita bisa saja menentang kehendak Tuhan melalui pilihan yang diambil (namanya juga kehendak bebas, kita bisa memilih apa pun, kan?), tetapi pilihan kita tidaklah terluput dari kuasa kedaulatan-Nya. Artinya, jika kita bertobat dari pilihan yang bertentangan dari kehendak-Nya, pasti ada konsekuensi yang akan tetap mengikutinya, tetapi Tuhan tidak meninggalkan kita seorang diri untuk melalui akibat dari keputusan tersebut. Tuhan masih tetap beserta dengan setia di dalam kondisi yang sulit itu, dan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran berharga. Karena jika terus melenceng dari jalan Tuhan dan tidak bertobat, kita akan berakhir di dalam kegelapan yang benar-benar gelap dan hati kita degil terhadap kebenaran.


Photo by Letizia Bordoni on Unsplash


"Inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sudah sungguh sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." —1 Yohanes 2:3-6


Sebagai orang Kristen, kita tidak bisa hanya menjadi orang yang percaya kepada KristusTuhan dan Juru selamat kita sajamelainkan juga harus menghidupi iman kita setiap hari (Yakobus 2:17). Karena dosa, kita tidak akan sanggup memenuhi kehendak Tuhan dengan kekuatan diri sendiri, meskipun kita memiliki kehendak bebas untuk memilih taat kepada-Nya. Bukan berarti Tuhan tidak berkuasa mencegah kita berdosa, melainkan karena kehendak bebas adalah privilege sekaligus pembawa konsekuensi besar. Lihat saja Iblis, yang memberontak terhadap Tuhan sehingga Dia diusir dari kerajaan-Nya (bersama para malaikat lain yang juga memberontak). Namun, syukur pada Allah, penyertaan Bapa juga nyata melalui intervensi-Nya agar kita tidak melenceng terlalu jauh dari tujuan yang telah ditetapkan-Nya. Beberapa contoh berikut mungkin bisa menggambarkan secara sederhana konsep ini.


Photo by Caleb Jones on Unsplash 


Bayangkan jika kita mengalami kecelakaan saat ke kantor dan menyebabkan kelumpuhan seumur hidup. Namun, ketika dari peristiwa itu kita justru menjadi berkat buat banyak orang, itu semua adalah kehendak Bapa. Ketika yang bisa kita lakukan hanya memuji Tuhan di tengah-tengah keterbatasan dan kelemahan, just do it. Mungkin tidak mudah untuk melihat kenyataan seperti ini secara langsung, apalagi kalau kita yang dirugikan (misalnya memang ada pengendara yang ceroboh dan menyebabkan kita jadi lumpuh). Yang perlu disadari adalah melalui kehendak bebas, setelah tahu bahwa kita lumpuh, kita memiliki pilihan untuk hidup setiap hari dengan penyesalan dan menyalahkan Tuhan, atau berserah dan dipakai seturut kehendak-Nya.

Contoh lainnya adalah ketika kita ingin sukses dalam karier, tetapi kita menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan promosi jabatan. Tentu itu adalah contoh kehendak bebas yang disalahgunakan. Kita perlu juga mengingat bahwa walaupun Dia memberikan kehendak bebas, Tuhan tidak ingin kita berbuat dosa. Jadi, ketika ingin naik karier, kita harus tetap mengusahakannya dan berdoa agar kehendak-Nya saja yang terjadi (dan kita dimampukan untuk melalui setiap proses yang ada). Mungkin saja kita terbentur pada pikiran seperti, "Wah, nggak mungkin banget naik karier di sini kalo pake jalan halal, soalnya semua pake cara haram." Dalam situasi demikian, kita harus bertanya lagi pada Tuhan apa yang Dia mau ketika Dia menempatkan kita di tempat kerja tersebut. Apakah Dia mau kita hidup dengan karier yang biasa saja ini jadi berkat di sana, atau Tuhan ingin kita tetap bertahan karena nantinya akan ada promosi yang diberikan, atau Dia ingin agar kita bekerja di tempat lain? Kita perlu bergaul dengan Tuhan secara pribadi tipa hari untuk tahu apa yang Dia mau, khususnya ketika ada hal-hal yang tidak tertulis dengan terang-terangan di Alkitab (ya, kan, di Alkitab tidak tertulis dengan jelas si A akan bekerja di perusahaan X?) Yang terpenting adalah kita memegang prinsip kebenaran Firman Tuhan itu dan menjalankannya dengan pertolongan Roh Kudus.

Contoh terakhir adalah dalam pemilihan pasangan. Dari awal pacaran hingga menikah, kita sudah mengenal pasangan sebagai sosok yang baik. Oke, apa yang terlihat bisa saja belum menunjukkan dirinya yang sebenarnya, sih. Namun, siapa sangka, ketika sudah menikah dia berubah 180 derajat? Hal semacam itu bisa terjadi. Padahal kita yakin Tuhan yang tuntun dari proses pengenalan hingga pernikahan. Dalam keadaan seperti itu, kita diperhadapkan dengan pilihan mau cerai atau tidak (atau bahkan bisa saja dia yang ingin menceraikan kita). Banyak hal yang bisa terjadi di luar kendali kita walau kita sudah merasa hidup benar. Pertanyaanya, sekalipun iman kita diuji, apakah kita tetap mau memercayai-Nya? Maukah kita berinisiatif memperbaiki diri sebagai bentuk tanggung jawab kita di dalam pernikahan tersebut, karena mungkin saja kita ada andil hingga akhirnya pasangan tidak ingin lagi menjadi "orang baik" seperti yang kita kenal sebelumnya?

Free will yang salah digunakan atau mengintervensi kehendak Bapa adalah jika result nya berujung kehancuran. Menghancurkan hidupnya, diri sendiri, orang lain. Maupun dalam prosesnya banyak hal salah dilakukan maka itu adalah 

Kehendak bebas yang digunakan dengan salah justru membawa pada kehancuran, baik bagi diri sendiri, orang lain, bahkan lingkungan di sekitarnya. Betul bahwa kita—manusia—dapat bertindak melawan kehendak Tuhan, tetapi itu pun tidak terlepas dari kedaulatan-Nya, karena dosa merusak tatanan apa yang telah diciptakan-Nya dengan sempurna. Pertanyaannya, jika kita mengaku percaya dan mengenal Tuhan, keputusan seperti apa yang akan kita pilih?

Selamat memilih dengan biijak. Percayalah bahwa Tuhan yang menuntun kita hingga detik ini, Dia juga yang akan selalu beserta dengan kita hingga akhir nanti. 

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER