Durian di Bulan Juni

Best Regards, Fiction, 18 February 2022
Mungkin tidak seromantis hujan di bulan Juni, tetapi ada kasih seorang Bapa yang mengajak anaknya untuk mau bangkit dari kegagalan dan berjuang bersama Tuhan.

“Kamu suka duren?” tanya seorang kawan.  Tanpa ragu, aku menjawab “Jelas doyan!”. Lalu dia kembali bertanya “Duren apa yang paling enak menurutmu?” spontan kujawab, “Duren bokor atau duren petruk. 

 Dalam perjalanan pulang, dari balik kemudi aku terdiam dan pertanyaan seputar duren terlezat, terus memenuhi benakku.

Memoriku kemudian berputar mundur ke salah satu hari bersejarah, 19 Juni 1998. Hari di mana aku mendapati tulisan “TIDAK NAIK KELAS” di rapor, sebagai hasil belajarku di tahun ajaran itu.

Siang itu, setibanya di rumah, aku hanya bisa diam. Kuletakkan rapor di meja makan. Aku lari secepatnya ke kamarku dan mengunci diri di dalam sana. Takut luar biasa, sibuk memikirkan seperti apa Mama dan Papa akan marah karena kecewa. Khawatir akan memiliki masa depan yang suram. Takut akan penolakan. Sedih sekali rasanya, hati terasa sangat hancur, bingung dan kalut. Di satu sisi aku sadar bahwa aku salah dan telah gagal. Namun tetap ada perasaan menolak kenyataan yang terjadi.

 

Sekitar pukul delapan malam, Papa mengetuk pintu kamarku sambil berkata “Nak, temenin Papa cari duren yuk.” Entah mengapa, aku memutuskan untuk membuka pintu kamar, memeluk Papa, dan kemudian kami pergi berdua saja pergi mencari durian.

 Mengingat itu bulan Juni, tentu sulit mencari penjual durian. Di perjalanan, Papa menceritakan beberapa lelucon khasnya, mencoba untuk membuatku lebih ceria, tetapi dalam hati, aku semakin merasa sedih dan bersalah, karena Papa sama sekali tidak marah, padahal aku sudah gagal mengemban salah satu tanggung jawabku sebagai seorang anak saat itu. 

 

Setelah berputar-putar ke beberapa titik di area timur Jakarta, akhirnya, Papa memutuskan berhenti di daerah Pangkalan Jati. Entah mengapa, di situ ada penjual durian. Papa memintaku yang memilih durian. Masih tanpa kata, dengan takut-takut aku menunjuk beberapa durian, dan mencicipi. Tidak butuh waktu lama, aku kemudian mengangguk-angguk memberi kode bahwa aku memilih dua buah durian dengan ukuran sedang.

 

Papa bertanya “Kog ga pilih yang besar?” dengan nyaris berbisik aku menjawab singkat “Takut ga habis, Pa.” Papa tertawa sambil bercanda “Mana mungkin ga habis.” Tapi Papa tidak merevisi pilihanku, ia menerima keputusanku dan itu membuatku semakin salah tingkah.

Kami lalu duduk di bangku bambu, ketika durian tiba Papa langsung makan dengan lahap. Sementara aku kesulitan untuk menikmati, karena durian merupakan salah satu bentuk “reward” di tradisi keluarga kami. Rasa bersalah ini semakin memuncak, dan akhirnya air mataku menetes, dengan lirih aku berkata “Maaf ya Pa, aku gagal”. 

 Papa dengan tangan kirinya, menepuk-nepuk kepalaku dan berkata lembut, “Nak, Papa juga pernah gagal. Bukan hanya pernah, tapi sering. Beberapa kali Papa gagal, Papa tetap jadi anaknya Mbah Kakung. Begitu juga kamu. Sekalipun kamu gagal, kamu tetap anak Papa.”

 Tangisku semakin deras, haru bercampur sesal. Merasa diri ini jauh dari layak untuk mendapatkan kasih Papa yang tulus dan menerimaku apa adanya.

 

“Tapi Pa, nanti orang-orang akan ngomong jelek tentang Papa. Aku udah malu-maluin Papa Mama.” dengan terisak (kalau kata orang Sunda, sambil sesegukan), aku akhirnya mengungkapkan kekhawatiran dan ketakutanku.

 “Nak, dalam hidup ini kita sebagai manusia bisa saja salah mengambil keputusan, gagal mencapai tujuan, dan melukai perasaan orang lain. Tapi kamu ingat ga, apa yang Tuhan Yesus katakan ketika ada satu wanita, yang kedapatan berbuat salah dan banyak orang udah siap mau melempari dia batu?”

 Aku mengangguk. 

 “Ada yang jadi melempar batu ga ke orang itu?”

 Aku menggeleng.

 “Kenapa?”

 Aku hanya terdiam dan tertunduk.

 “Karena tidak ada satu orang pun yang tidak berdosa, kecuali Yesus. Tapi apakah Yesus melempar batu ke wanita itu?”

 Aku kembali menggeleng.

 

Pelan-pelan, durian pertama habis juga kumakan, dan Papa lanjut bercerita, tentang bagaimana dia dulu bolak-balik ga naik kelas dan pindah sekolah. Sambil tertawa Papa bilang, “Gapapa, Kakak-kakakmu kan udah ikutin Mama, selalu naik kelas. Kamu biar ikut Papa. Jadi adil dan merata.” dan kami pun tertawa bersama.

Wajahku mulai cerah, dan berani menatap Papa. Bahkan bisa tertawa terbahak-bahak, ketika Papa lanjut menceritakan lelucon lainnya. 

Papa kembali serius berbicara.

“Nak, kamu boleh gagal dalam belajar, namanya juga orang belajar, wajar kalau gagal. Nantinya, kamu akan mempelajari hal yang lebih sulit dari fisika dan geografi.” (Kebetulan, dua mata pelajaran itu yang membuatku gagal naik kelas). 

“Kamu akan belajar mencintai orang lain, dan mungkin kamu gagal lalu patah hati. Kamu juga akan belajar mengelola uang, dan mungkin kamu gagal lalu kesulitan keuangan. Kamu pasti akan akan belajar memaafkan, dan mungkin butuh waktu lama untuk bisa mempelajarinya. Dan entah berapa banyak kegagalan yang akan kamu hadapi.”

“Nak, jangan takut untuk bangkit dari kegagalan. Apapun kegagalan yang kita alami, ada Kasih Tuhan akan memampukan kita untuk bangkit dan kembali berjuang.”

Papa terdiam cukup lama, lalu Papa menatap wajahku, dan lagi-lagi menepuk ubun-ubun kepalaku dengan tangan kirinya.

“Nak, selamanya kamu adalah anak Papa, dan selama Papa masih ada, Papa akan selalu mendukungmu. Kamu boleh mencoba belajar apa saja dan menjadi salah. Tapi satu yang Papa minta, tetaplah setia dalam imanmu pada Tuhan Yesus.”

“Jangan pernah memutuskan untuk berhenti beriman pada Yesus, Nak. Minta Roh Kudus terus menguatkanmu. Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah itu seperti untuk Tuhan, kalaupun harus gagal, bangkitlah dan berjuang bersama Tuhan.”

Flashbackku selesai. 

Sambil tersenyum, aku mengetik pesan ke kawanku “Revisi Bro, duren terenak menurutku bukan duren bokor atau petruk, tapi duren di bulan Juni."

Mungkin tidak seromantis hujan di bulan Juni, namun durian di bulan Juni bukan saja durian terlezat, tetapi sebuah pengingat bagiku untuk mau bangkit dari kegagalan, terus bergerak dan berjuang bersama Tuhan.

 Durian di bulan Juni bagaikan visualisasi dari Mazmur 103:13 di dalam hidupku “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia."

LATEST POST

 

Mazmur 42:2-3“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan E...
by Valentine Ibrahim | 23 May 2022

Sebuah kalimat yang melekat, buat saya, terhadap pendeta Budi Santoso Marsudi, adalah ketika Jumat A...
by Victor Hasiholan | 23 May 2022

Fenomena anak indigo tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Apalagi akhir-akhir ini, banyak content...
by Monica Petra | 23 May 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER