Broken Vessel: Restored

Best Regards, Live Through This, 25 November 2021
If I am still here standing you can believe me when I say that He is more than able to redeem your every pain (Blanca - Shattered)

Saya berjalan, menaiki tangga untuk kembali ke asrama selepas berkutat dengan tugas di perpustakaan. Entah kenapa, saya merasa bersyukur sekali bisa sedikit demi sedikit menyelesaikan tugas-tugas yang menghantui akhir semester ini. Walaupun masih ada beberapa tugas dan ujian menanti, saya tidak merasa cemas. Saya merasa aneh karena entah kenapa saat itu saya merasa content.



Saya merasa whole; utuh dan penuh, tanpa memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang saya dan hal-hal lain yang mungkin selama ini menjadi kecemasan saya. Pada saat yang sama, saya merasa broken. Saya seperti dilucuti dari segala sesuatu yang tadinya menjadi atribut diri saya. Saya dicabut dari segala sesuatu yang selama ini membelenggu diri saya. 


Tiba-tiba saya teringat satu adegan dalam Iron Man 3, di mana Tony Stark akhirnya memutuskan untuk mencabut arc reactor dari dadanya. Arc reactor itu selama ini membantu kerja jantungnya agar ia dapat bertahan hidup. Selain menjadi penyangga hidupnya, arc reactor itu menjadi sumber energi dari Iron Man suit yang dipakainya saat beraksi. Arc reactor sudah menjadi bagian dari identitas dirinya; benda itu mengingatkan dia pada kekuatan yang ia miliki sebagai Iron Man, sekaligus mengingatkan akan kelemahannya yaitu adanya serpihan-serpihan peluru meriam yang masih menancap di jantungnya. Stark harus mengalahkan rasa takut, khawatir, dan cemas akan kemungkinan bahwa nyawanya terancam dengan melakukan operasi tersebut.



Seperti Tony Stark yang akhirnya tidak menggantungkan identitasnya pada arc reactor untuk menunjang hidupnya, saya akhirnya bisa menyingkirkan segala hal yang membebani saya untuk menjadi diri saya yang seutuhnya. Bukanlah sebuah proses yang mudah untuk menemukan kembali bagian-bagian dari diri saya yang hilang. Saya diremukkan berkeping-keping terlebih dahulu untuk bisa memilah dan memilih kepingan mana yang sebetulnya adalah diri saya dan bisa disusun lagi menjadi utuh. 


All these pieces, broken and scattered

In mercy gathered, mended and whole

Empty-handed but not forsaken

I've been set free, I've been set free


Biasanya, pembentukan diri kita oleh Tuhan digambarkan sebagai tanah liat yang dibentuk di tangan Sang Penjunan. Namun, dalam pengalaman saya, gambaran yang lebih cocok untuk pembentukan diri saya adalah kintsugi.


Kintsugi adalah tradisi kesenian dari Jepang di mana tembikar pecah disusun kembali dan disambungkan dengan cairan yang dicampur serbuk emas, perak atau platinum. Filosofi dari kesenian ini adalah merengkuh keretakan dan menghargai ketidaksempurnaan untuk membentuk karya seni yang lebih indah dan kuat.

Tuhan mengambil kepingan-kepingan diri saya dan menyusun serta menyambungnya menjadi versi yang lebih baik dan utuh. Tuhan mengisi keretakan-keretakan yang ada dengan hal-hal yang memperindah kepingan-kepingan tersebut. Tuhan tidak menghilangkan pengalaman buruk dari ingatan saya. Tuhan mengubah pola pikir saya dan membantu saya mengelola emosi saya yang selama ini mungkin berdampak buruk kepada diri sendiri maupun orang lain. Saya juga merasa takut, cemas, dan khawatir ketika menghadapi kepingan-kepingan gelap dalam diri saya. Tidak serta-merta Tuhan menghilangkan kepingan-kepingan gelap tersebut, tetapi Tuhan memberikan makna baru ke dalamnya. Seperti yang dikatakan Paulus dalam 2 Korintus 12:9, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”


You take our failure, You take our weakness

You set Your treasure in jars of clay

So take this heart, Lord, I'll be Your vessel

The world to see, Your life in me


Tuhan menolong saya merengkuh kepingan kehidupan yang saya anggap buruk dan memberikan makna yang baru. Tuhan menyusun semua kepingan itu menjadi karya seni yang lebih kuat dan indah dari sebelumnya. Tuhan menyadarkan saya bahwa keberhargaan saya bukan terletak pada pencapaian, teman-teman, pasangan, profesi, masa lalu, ataupun status-status lain yang disematkan pada diri saya. Saya berharga bukan karena apa kata orang lain tentang saya. Hal-hal yang negatif yang seolah-olah menjadi atribut diri saya memberikan nuansa yang baru karena Tuhan membantu saya melihatnya dengan perspektif yang baru. Semua yang saya anggap buruk itu tidak lagi membuat saya merasa tidak berharga. Saya berharga karena saya bisa menjadi diri saya yang seutuhnya. 



Ignite People, menghadapi kekurangan atau keburukan dalam diri kita dapat membuat kita takut ataupun cemas. Ada banyak hal yang bisa kita anggap buruk dalam diri kita, entah itu yang kita alami atau rasakan sendiri maupun yang orang lain katakan kepada kita. Kita bisa merasa hancur, tak berharga, dan tak berdaya. Namun, ingatlah bahwa Tuhan sanggup merengkuh diri kita yang hancur, keping demi keping, dan menyusunnya kembali menjadi diri kita yang lebih indah dan kuat. Kehancuran bukanlah akhir dan keretakan bukanlah bencana; Tuhan akan menolong kita melihatnya dengan cara yang baru supaya kita dapat memaknai keindahan dari apa yang kita anggap rusak.


If you shatter

Every piece of you that's on the floor

He can restore

And after

You'll be even stronger than before

He can restore

What'd shattered

(Blanca - Shattered)

LATEST POST

 

Waktu itu, aku liat tiktok. Trus, ada satu video dialog filsafat dimana ada orang bule bicara tentan...
by Yessi Nadia Giatma Saragih | 11 Jan 2022

 Suatu ketika aku meminta mami untuk dibuatkan kue bolu pandan. Yah, aku suka sekali makan kue...
by Nuel Lubis | 11 Jan 2022

Hanya Dialah yang tahu ‘kan segala rahasia,tiada ‘ku takut ‘kan kuasa gelap.Masa y...
by Sandra Priskila | 02 Jan 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER