Ransel Kita Mau Diisi Apa Aja, Nich?

Best Regards, Live Through This, 17 January 2021
"WE DO THE BEST, GOD DO THE REST"

Mendengar istilah “ransel”, pikiran kita akan langsung tertuju pada suatu destinasi yang kita impikan. Biasanya ketika melakukan travelling, paling tidak kita akan dituntut membawa ransel yang berisikan dengan item-item yang nantinya bakal kita butuhkan disepanjang perjalanan dan atau ketika sudah tiba ditujuan. Nah yang pastinya, isi dari ransel kita adalah item-item yang akan mempermudah hidup kita selama kita melakukan perjalanan (travelling). Begitupun dengan “ransel” sepanjang hidup kita didunia ini. 

Mau kita isi dengan beban dendam amarah kah atau justru kita ingin berbagi berkat kepada sesama manusia? 

Semuanya terkembali menjadi pilihan hidup kita masing-masing. Mengingat, manusia didunia ini begitu kompleks ragamnya, baik dari segi pengenalan akan konsep dirinya sampai dengan hal kemampuan menerima yang berbeda dengan dirinya. Hal ini tidak terlepas dari perjalanan masa lalu masing-masing orang. Begitupun dengan kehidupan kita ini.


Setiap hari kita menjumpai banyak ragam karakter manusia. Ada yang kita kenal sejak lama, ada yang baru kita kenal. Beranekaragam pula latarbelakangnya. Inilah yang memungkinkan kita mengalami kejadian-kejadian yang bagi kita kurang pas, dan tidak menutup kemungkinan juga kita mengalami gesekan-gesekan dengan sesama yang pada akhirnya bisa melahirkan guratan-guratan luka dihati (scars), seperti contohnya : dipecundangi, dikhianati, dianggap tidak ada (tidak diperhitungkan), ditinggalkan, digantikan dengan yang lain, diabaikan perasaannya, dipaksa setuju, dibohongi, tidak dihargai, dan masih banyak contoh lainnya. Jika guratan-guratan luka tersebut tidak pernah diakui dan tidak pernah mengalami pemulihan, besar kemungkinannya untuk dapat mendatangkan banyak masalah baik bagi kesehatan jasmani dan atau kesehatan mental diri kita sendiri dan atau orang-orang yang berada disekeliling kita, yang bisa saja menerima imbas menjadi sasaran “kompensasi” atas guratan-guratan luka hati kita.

Didalam pengakuan atas guratan-guratan luka hati kita tersebutlah, baru kita dapat mengalami pemulihan, sekalipun memang ada beberapa jenis guratan luka hati yang “mungkin” tidak bisa sembuh 100%, namun reaksi / response dari mind set kita atas guratan luka hati masa lalu kita itu sudah berbeda. Hal ini dikarenakan kita mau mengakui terlebih dahulu bahwa kita memang memiliki scars didalam diri kita, ketika kita sudah mengakui maka sebaiknya kita mengambil rehat (me time) sejenak untuk ada waktu bagi kita berkomunikasi dengan hati / diri kita sendiri. Gunakan waktu-waktu ini juga sebagai waktu dimana kita makin peka akan isi hati-NYA. Terkadang DIA mengijinkan hal-hal yang mungkin bagi kita merupakan “pil pahit”, namun bagiNYA dipakai untuk “menyelamatkan” masa depan kita, dan kita bisa saja saat itu tidak terima karena kita saat itu belum bisa memahami / melihat rancangan-NYA bagi kita. Hal ini pun tertuang didalam kitab Yesaya 55:8-9 yang berbunyi : 

“Sebab rancangan-KU bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-KU, demikianlah Firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-KU dari jalanmu dan rancangan-KU dari rancanganmu”. 

Kemudian kembali diteguhkan dalam kitab Yeremia 29:11 

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-KU mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”

Dengan demikian, alangkah lebih indahnya jika kita berbaik sangka pada TUHAN, karena DIA adalah SANG PENCIPTA SELURUH ALAM RAYA ini, jadi DIA jauh lebih tahu mana yang terbaik bagi setiap kita. Serahkanlah seluruh luka hati, kegelisahan, kekecewaan, amarah , kecemasan, kekuatiran, kegalauan kita kedalam genggaman tangan kasih-NYA saja.

Kita merupakan IMAGO DEI (gambar diri dari ALLAH), maka bagian yang perlu kita kerjakan adalah MENGAMPUNI walau ini bukanlah PR yang mudah, tetapi mintalah padaNYA supaya DIA sendiri yang membebat guratan –guratan luka hati kita serta memulihkannya. Hal ini hanya DIA yang sanggup melakukan, BUKAN DARI USAHA KITA SEMATA. Dan JANGAN MEMBALAS DENDAM KESUMAT mu, itu bukan ranahmu!. Tertuang dalam Roma 12:19 

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka ALLAH, sebab ada tertulis : Pembalasan itu adalah hak-KU. Akulah yang akan menuntut pembalasan Firman Tuhan”

Jadi, karena kita diciptakan seturut dengan rupa dan gambar ALLAH, sudah sepantasnya bila kita mengisi “ransel rohani” kita dengan hal-hal yang berkenan dan menyukakan hati ALLAH. Sekalipun masih ada hal-hal yang membuat kita kecewa, khawatir, geram dan atau masih ada yang ingin kita capai sejak lama namun belum tercapai, serahkanlah semuanya kepada DIA. Selamat menikmati perjalanan bersama “ransel rohani” kita. Tuhan Yesus memberkati!. (AZ)

LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER