Komisi Remaja: Sebuah Prototipe

Best Regards, Live Through This, 15 June 2020
Sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah, bukankah seharusnya kita mencerminkan gambar itu: KASIH?

Biasanya, anak muda itu kalau tidak underused, ya overused,” kata seorang narasumber di sebuah pembinaan yang saya ikuti. Saya pikir: ada betulnya juga, ya. Apalagi, kalau dikaitkan dengan situasi youth ministry di gereja.



Perkenalkan, artikel ini adalah sebuah curhat pembimbing remaja kemarin sore, yang harap-harap cemas akan pelayanan dalam dan kepada remajanya. Sempat kami—saya dan rekan saya—berada di titik, “Terserahlah, Tuhan, yang penting kami udah nabur, udah berusaha.” Ada beberapa hal yang membuat kami begitu merenungkan dan bergumul tentang pelayanan kami kepada adik-adik remaja ini. Mirisnya, pergumulan ini membuat kami berpikir lebih lanjut mengenai situasi kehidupan bergereja di tempat kami.


Saya berpikir: gereja ini memang butuh untuk pulih dan bangkit. Waktu yang terus bergulir dan kesempatan yang tak akan datang lagi menjadi sesuatu yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Ketika zaman bergerak dan berevolusi, saya agak heran dengan gereja yang seakan-akan masih berkubang dalam "lumpur" kenyamanannya. Saya tahu tidak mudah, tapi kita bisa mencoba, bukan?


Kalau boleh sambat, kami lelah.

Kalau boleh berbangga, kami akan bermegah.

Namun, kami senantiasa diingatkan akan kasih karunia yang terus mengalir dan melimpahi hati kami. Sebagaimana ditulis oleh Rasul Paulus,

 

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor. 12:9).

Apa sebabnya kami berlelah tapi bangga? Sebab kami bisa menggagas sebuah prototype—walaupun masih jauh dari sempurna—akan gereja sebagai suatu komunitas yang kami harapkan.


Kebaktian? Ada.

Komunitas? Jalan.

Pembinaan musik? Hajar.

Pembinaan kelompok kecil? Sikat.

Pengadaan event masa raya? Beres.


Mirip seperti rutinitas di gereja jemaat umum, kan? Sudah cocok?



Ya, rutinitas. Dengan perputaran aktivitas yang itu-itu saja tanpa memahami apa makna di baliknya. Rutinitas yang sekadar basa-basi. “Kalau aku kontak, berarti aku butuh kamu. Kalau enggak, bhaayy!” Sedih deh.


Saya dan rekan saya mencoba mencari apa yang kurang dari komunitas kami. Kami penasaran akan alasan sikap-sikap tertentu mereka dalam merespons orang lain, ataupun berinteraksi dengan orang lain. Ketika menemukan jawabannya, kami ingin tidak percaya. Duh, amit-amit, deh; nggak pengen bilang, tapi…


Kami kehilangan kasih.


Mungkin tidak sepenuhnya, hanya rasa kehilangan itu begitu dominan dalam interaksi komunitas dan segala kegiatan yang kami lakukan dan kami klaim sebagai sebuah ‘persekutuan’. Panjang lebar definisi dan karakter-karakter kasih yang bisa kita baca dalam 1 Korintus 13, seakan hanyalah rangkaian kata-kata yang tak dimaknai dan dihidupi. Kami hanya sebatas tahu apa dan bagaimana itu kasih, tanpa sadar mengapa mengasihi harus menjadi gaya hidup orang Kristen dan bagaimana bisa menghidupi kasih. Kami boleh berpelayanan: menjadi pengurus, memimpin pujian, bergabung di kepanitiaan, atau mengiringi kebaktian. Namun, kami tidak betul-betul menyadari bahwa semua itu bisa kami lakukan hanya karena anugerah-Nya


Kasih Tuhan Yesus yang tak terbatas seakan kurang bagi kami sehingga kami bertanya: “Apa imbalan kami melakukan semuanya? Akankah ada pujian dilontarkan? Adakah keuntungannya?” Segala sesuatu seakan transaksional: bisa diperjualbelikan. “Tuhan, aku kan udah kasih sekian waktuku, jadi Tuhan berkati sekolahku, ya. Kasih aku nilai bagus, dong.” “Aku udah lakuin ini nih, kamu juga lah.” “Ah, capek, udahan aja.”



Apakah ini cerminan dari jemaat umum di mana kami adalah prototipenya?


Keberadaan remaja yang kadang dianggap belum bertanggung jawab, belum bisa, dan belum "pantas", menjadikan mereka underused di dalam komunitas ini. Padahal, bila kasih dan persekutuan itu betul-betul dihidupi, mereka bisa mengembangkan potensinya lebih optimal dan bisa berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dewasa. Harapannya, soft skills, hard skills, karakter, dan spiritualitas terus terasah dan bertumbuh.


Lain halnya dengan pemuda. Walaupun kami tidak memiliki wadah khusus, tapi jemaat usia pemuda hingga dewasa muda menjadi golongan overused. Jadinya, ya 4L: Lu Lagi, Lu Lagi. Kami tahu, hanya Tuhan yang bisa kami andalkan, tetapi kami pun butuh sesama manusia untuk saling mengasah, mangasihi, dan menguatkan sebagai bagian dari tubuh Kristus. Namun, sering kali inilah yang justru tidak kami miliki dalam komunitas ini.


Allah adalah kasih.


Sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan Allah, bukankah seharusnya kita mencerminkan gambar itu: KASIH? Sebab dengan demikianlah kita bisa menikmati persekutuan dengan Allah sendiri dan sesama kita sehingga orang lain akan mengenali kita sebagai murid-murid-Nya.


Masa-masa beribadah dari rumah ini membuat saya betul-betul merenungkan, apa itu gereja yang sesungguhnya dan bagaimana gereja ini menjadi nyata kehadirannya di tengah masyarakat. Karena sesungguhnya gereja itu bukanlah gedungnya, tetapi orang-orangnya. Beribadah bukanlah hanya ketika kita bertemu dan berkumpul dalam gedung gereja serta mengikuti kebaktian, melainkan juga ketika kita belajar di sekolah atau kampus, bekerja, dan beraktivitas di masyarakat. Pelayanan bukan hanya menjadi pemimpin pujian, pemain musik, atau penyambut tamu, tetapi juga ketika kita membantu orang yang kesulitan, mendengarkan teman yang berkeluh-kesah, dan membantu mencuci piring di rumah. Semuanya itu merupakan bentuk kasih Tuhan yang harus kita hidupi dan bagikan dalam segala aspek kehidupan kita


“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (Kol. 3:14)

Sejujurnya, tidaklah mudah menuliskan hal ini. Namun, saya rindu komunitas ini bisa menjadi komunitas yang terus bertumbuh di luar rutinitas program dan kegiatan, saling mengasihi sebagai gaya hidup, dan bisa menjadi inspirasi bagi jemaat yang lain.



Kami senang kalau bisa menjadi prototipe, tapi kami malu kalau kami ternyata adalah sampel dari populasi lebih besar yang tidak saling mengasihi. Oleh karena itu, dear adik-adik remaja tersayang: 


“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yoh. 15:16-17)

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER