Hubungan Toxic? Putus!

Best Regards, Live Through This, 25 December 2020
"dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" Matius 6:12

Di dalam kehidupan, pertengkaran seringkali tidak terhindarkan. Setiap kita pasti pernah bertengkar dengan seseorang, entah itu keluarga, teman, rekan pelayanan, pasangan hidup, atau siapapun itu. Ketika hubungan terasa berat sekali untuk dipertahankan, biasanya hanya ada satu solusi makjleb, cepat, dan straight to the point: Putuskan!

"Buat apa hubungan ini dipertahankan? Orang itu bahkan tidak pernah meminta maaf ataupun menyadari kesalahannya!"

Betapa mudahnya bukan untuk memutuskan hubungan dengan seseorang? Hanya karena kita merasa hubungannya menjadi "toxic", pikiran kita menutup perjalanan yang telah dilalui sebelumnya. Kita juga sering melihat artis-artis yang gemar memajang foto harmonis hubungan mereka dengan seseorang di media sosial. Dari mereka kita terinspirasi dan bahagia. Naas, beberapa bulan kemudian hubungan mereka ada yang kandas karena berbagai hal, dari yang rumit, hingga yang sepele tetapi berkelanjutan hingga menimbulkan ketidakpercayaan, dll. Dengan adanya tren seperti ini, kita sebagai anak-anak Tuhan perlu untuk mawas diri dan peka. Kita perlu menyadari bahwa terkadang apa yang kita ukur sebagai hubungan "toxic" itu tidak selalu demikian. Pasalnya kita perlu menimbang:

  • Apa yang mendasari kita dapat menyatakan hubungan "toxic"?
  • Apakah hubungan "toxic" ini dirasakan oleh kedua pihak?
  • Mengapa hubungan tersebut dapat menjadi "toxic"?

Tentu saja banyak pertimbangan lain ketika seseorang menyatakan hubungan dengan sesama tidak dapat dilanjutkan. Itulah keunikan kita sebagai ciptaan Tuhan; dengan berbagai karakter yang dimiliki pribadi lepas pribadi, ketidakcocokan emosional merupakan hal yang biasa.

Uhhh, berat sekali untuk menerima hal demikian terus terjadi. Apa boleh buat? Aku berhak dong bahagia :) 

Ya, pasti! Kita semua berhak bahagia. Tapi kita perlu sadar, kalau kita mengikuti semangat seperti ini terus-menerus kita tidak akan berkembang dalam Tuhan dengan baik. Mengapa?


1. Kita akan memiliki cara pandang yang keliru terhadap sesama

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."
-2 Korintus 5 : 17

Pengudusan adalah proses di mana Allah mengembangkan natur yang baru, yang memampukan kita untuk semakin hidup dalam kekudusan, seiring berjalannya waktu. Proses ini tentu saja tidak instan, pasti melibatkan jatuh-bangun karena kita berperang melawan "kemah" yang berdiam dalam diri kita (2 Kor 5 : 4), yaitu natur kedagingan kita yang lama. Dengan demikian, kita seharusnya melihat hubungan dengan sesama sebagai teman yang saling menolong, karena kita sama-sama berjuang dengan tujuan yang sama. Kita tidak anti dengan segala konflik dan ketidakcocokan emosional yang terjadi, tetapi bisa saling menguatkan dan menerima. 


2. Kita bisa saja membatasi seseorang untuk bertobat

"Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu."
-Lukas 15:31

Sekalipun ada rekan yang menjengkelkan dan meskipun bersalah, tetap tidak mau mengakui kesalahannya, kita perlu berlapang dada dan menerima dia apa adanya. Kita percaya hanya Tuhan yang dapat melembutkan hati seseorang. Tiba saatnya ketika orang itu menyadari kesalahannya, pastilah ia akan menyesal dan bertobat. Seringkali kita dengan mudahnya mengatakan sudah mengampuni seseorang, tetapi membatasi kasih yang semestinya.  Dalam hal ini, kita perlu memeriksa diri kita sendiri: Apakah ketika kita menyatakan sudah mengampuni seseorang, kita benar-benar mengampuni orang tersebut? Jangan-jangan, pernyataan tersebut hanya berupa afirmasi kosong belaka dari diri kita. Menurut perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15 : 11-32), kepergian anak bungsu yang membawa semua harta bapanya mencerminkan kehidupan manusia yang jatuh ke dalam dosa.

Ketika sang bungsu ini menyadari keadaannya, ia teringat bapanya yang baik, ia kembali dan meminta maaf atas apa yang ia lakukan. Bapanya mengampuni dan menerimanya kembali tanpa syarat apapun. Bapa yang baik itu adalah Allah kita. Tentu saja Ia membuka pintu pertobatan selebar-lebarnya dan dengan tulus memberikan kasih-Nya kepada siapapun yang kembali. Siapkah kita menjadi perpanjangan Allah untuk sesama? Maukah kita menerima orang tersebut sebagaimana Allah telah menerima kita?


Mempertahankan hubungan yang menurut kita "toxic" memang tidak mudah, banyak tantangan yang akan kita hadapi ke depannya. Jika kita sampai titik di mana hubungan sudah benar-benar tidak dapat dilanjutkan, ada kalanya kita harus belajar untuk melepaskan. Walaupun mendapati hubungan kita telah kandas dengan seseorang, hendaknya kita tidak mengalami kepahitan berkelanjutan, dan senantiasa terbuka untuk mengasihi kembali. Karena kita menyadari tidak ada hubungan dengan sesama yang sempurna. Dengan kekuatan kita sendiri kita tidak mungkin, tapi tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Betapa manusia membutuhkan kasih dan pengampunan yang dari Allah. God Bless You! 

LATEST POST

 

Rasanya bukan hal yang asing jika kita menjadi skeptis dengan hal-hal yang bersifat doktrinal. Benar...
by Ellen Kosakoy | 28 Sep 2022

Hari itu, Seekor burung pipit luka sayap sebelah. Bulu rontok bak tersayat sembilu.Berteng...
by Hendrik Siboro | 28 Sep 2022

Shalom, Ignite People! Kali ini, aku mau membagikan kesaksian nyata dari seorang suster yang ma...
by Nuel Lubis | 28 Sep 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER