Seri Belajar Filsafat : Belajar Bersama Levinas

Best Regards, Live Through This, 06 November 2021
Relasi yang sejati terbentuk dari perjumpaan dan pengalaman bersama bukan sekedar dari suatu konsepsi tertentu.

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”. Banyak orang berpendapat ketika seseorang belajar filsafat orang tersebut akan menjadi ateis. Waduh! Heheheh... tentu ini pemikiran yang keliru, karena filsafat bukanlah ilmu yang dapat dikecilkan menjadi sekedar problematika ketuhanan; terdapat berbagai critical wisdom yang dapat menjadi tuntunan dalam kita berprilaku di kehidupan sosial. Untuk saat ini saya akan memulai seri ini dari filsuf yang saya gemari yaitu Levinas. Levinas dalam banyak karyanya mengedepankan etika relasi, dan tentu ini akan menjadi sesuatu hal yang penting ditengah krisis moral yang dialami di kehidupan modern saat ini. Let’s go!!

Teman-teman, kita ketahui bersama bahwa berelasi menjadi suatu fakta yang tak terbantahkan dalam kehidupan manusia. Namun seiring perkembangan zaman, pola relasi antar manusia mengalami berbagai kemunduran yang mengurangi “kesakralan” dalam berelasi. Hal ini salah satunya didasari oleh perkembangan filsafat yang dimotori oleh Descrates dengan mottonya cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada) yang seolah menarik subjek tunggal keberadaan hanyalah ke “Aku”-an. Hal ini berimplikasi terhadap pandangan “Aku” dengan realitas lain yang berada diluar dirinya sebagai sekedar objek yang bisa ia jangkau.  Pola relasi yang memandang manusia lain sebagai objek, membuat “Aku” seolah-olah merasa berkuasa atas diri orang lain. “Aku” akhirnya tidak lagi menghargai kualitas terhadap diri orang lain. Relasi yang terbangun bisa masuk ke dalam jurang eksploitatif, seberapa berguna objek terhadap “Aku”.

Problematika ini menarik seorang filsuf abad ke dua puluh, yaitu Emmanuel Levinas untuk menggali makna relasi sejati. Sebenarnya cukup banyak segmentasi pemikiran tokoh ini yang menghasilkan pemikirannya. Namun untuk saat ini, nampaknya kita lebih baik berfokus kepada satu topik utama yaitu interioritas dan keterpisahan. Levinas menampilkan bahwa “Aku” sebagai seorang pribadi terbentuk oleh interioritas. Apa yang dimaksud dengan interioritas? Bagi Levinas interioritas merujuk kepada segala pengalaman yang berdampak terhadap kehadiran diri, interioritas bisa dikatakan juga sebagai ‘kehidupan batin’ yang bersifat unik dan tidak bisa diserap kedalam suatu konsepsi. Sedangkan keterpisahan berangkat dari kesadaran yang mengacu terhadap interioritas, dimana setiap manusia itu berbeda dibentuk oleh keunikannya masing-masing sehingga setiap dari eksistensi manusia sejatinya terpisah, tidak bisa disamakan. Manusia lain bukanlah “Aku yang lain”, tetapi secara mendasar benar-benar sebagai “yang lain” dengan keberlainnya. 


Photo by Lei Jiang on Unsplash 

Konsepsi Levinas tentang keterpisahan dan interioritas manusia, berimplikasi terhadap cara berelasi yang seharusnya perlu manusia bangun. Satu kesalahan yang populer bagi manusia masa kini dalam beralasi ialah berusaha menjakau kesuluruhan yang dimiliki orang yang ia ingin berelasi, ia menyerap segala konsepsi yang orang lain punya ke dalam dirinya sendiri. Hasilnya, pemikiran demikian membawa kita terhadap pemilahan kecocokan dan ketidakcocokan dalam berelasi. Kita sering mengatakan bahwa “ Si A cocok banget sama aku, pemikiran kami sejalan”, ini menjadi kebahagiaan karena kita menemukan sesuatu hal yang sama dengan kita tetapi seiring perjalanan dalam titik tertentu ini juga menjadi sumber kekecewaan kita. “Dulu dia cocok banget sama aku, sekarang gak taulah, gak jelas”, kita merasa kecewa karena apa yang kita serap dahulu tentang dia berbeda dari apa yang kemudian terjadi. Sebenarnya dasar dari kekecewaan ini bukan berada pada tindakan apa yang dia lakukan tetapi konsepsi kita tentang dirinya, seolah-olah kita telah mengenal keseluruhan dari dirinya padahal nyatanya ada berbagai segmentasi dari hidupnya yang tidak bisa kita jangkau sama sekali, misalnya pengalaman hidupnya yang mungkin akhirnya merubah hidupnya. 

Maka dari itu, penting untuk memahami bahwa relasi sejati tidak memfinalisasi bahwa “aku telah mengenal kamu” tetapi “aku ingin selalu mengenal mu”. Istilah “aku ingin selalu mengenal mu”, menyiratkan arti penting tentang manusia lain sebagai sebuah misteri yang selalu berproses. Hal ini juga menyiratkan tentang arti cinta, cinta menjadi sesuatu yang benar menarik ketika kita mencintai seseorang dalam kemisteriannya. Ketika kita mencintai namun seolah mengerti keseluruhan dari orang yang kita cintai, sudah dipastikan cinta kita akan masuk ke dalam jurang kehancuran posesifitas dsb macamnya, karena cinta kita hanya sekedar berisi konsepsi-konsepsi tertentu tentang diri orang yang kita cinta. Ketika kita memutuskan berpacaran ataupun mungkin sampai ke jenjang pernikahan, cinta yang akan kita bangun, selalu dalam ranah keterbukaan, proses hidup yang terjadi selalu dalam balutan kemisterian dan kemunginan. Komitmen yang kita bangun dalam suatu hubungan adalah untuk selalu berproses bersama dan bukan untuk menentukan suatu pola tertentu. 

Selain itu, dari pemikiran Levinas kita juga belajar memahami bahwa relasi yang sejati lahir dari perjumpaan. Konsepsi kita tentang orang lain dewasa kini sering dibentuk oleh pemahaman orang lain, tak jarang orang membenci hanya berdasarkan cerita orang lain! Levinas menerangkan hati-hati! Tak kala suatu konsepsi menguasai kita, kita dapat cenderung bersikap agresif! Ingat kita tidak akan pernah mampu menjangkau keseluruhan orang lain, keterbukaan selalu menjadi point yang penting. Selamat belajar! Selamat berefleksi!

LATEST POST

 

Waktu itu, aku liat tiktok. Trus, ada satu video dialog filsafat dimana ada orang bule bicara tentan...
by Yessi Nadia Giatma Saragih | 11 Jan 2022

 Suatu ketika aku meminta mami untuk dibuatkan kue bolu pandan. Yah, aku suka sekali makan kue...
by Nuel Lubis | 11 Jan 2022

Hanya Dialah yang tahu ‘kan segala rahasia,tiada ‘ku takut ‘kan kuasa gelap.Masa y...
by Sandra Priskila | 02 Jan 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER