Mungkinkah Masyarakat Tanpa Rasisme? Refleksi dari Kamen Rider Black Sun (2022)

Best Regards, Live Through This, 29 October 2022
“The value of human and kaijin lives outweighs that of the earth, and there isn’t even one gram of difference in their worth.” - Oliver Johnson, Kamen Rider Black Sun

“MANTRAAAA.... AJI!!”


Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayangan yang mungkin… pernah membuat kalian melewatkan waktu untuk mengikuti Sekolah Minggu, sekalipun orang tua sudah mengomeli kalian? Tayangan yang membuat kalian rela duduk berdesakan di rumah teman kalian yang memiliki televisi, tak peduli jika diusir? Tayangan yang membuat kalian menirukan gerakan berubah (henshin) dari Kotaro Minami (yang dulu diperankan om Tetsuo Kurata), juga menirukan Pukulan Maut dan Tendangan Maut saat bermain dengan teman kalian dulu? Yap, tulisan kali ini akan membahas serial reboot dari Kamen Rider Black (1987), yang dikenal sebagai Ksatria Baja Hitam di Indonesia. Berbeda dari seri yang kalian kenal dahulu, remake ini membawa kalian ke level yang lebih dalam, gelap, bahkan personal dan kompleks.


© TOEI Company, Amazon Prime Video, 2022

Cerita diawali pada tahun 2022, 50 tahun setelah Nobuhiko Akizuki/Shadow Moon (Tomoya Nakamura) ditangkap oleh Gorgom karena dianggap berkhianat, dan Kotaro Minami/Black Sun (Hidetoshi Nishijima) disangka telah meninggal dunia karena ingin membunuh Raja Pencipta (Creation King/Sosei’o) saat itu. Namun kenyataannya, Kotaro kini hidup menyendiri di sebuah bus bekas dan bekerja serabutan (dan kotor) untuk mencukupi kebutuhan hariannya, termasuk cairan Ketamine yang digunakan untuk meredakan rasa sakit Kotaro karena kakinya pernah putus. Pada suatu hari, terjadi demonstrasi yang hampir bentrok antara kaum manusia dan kaum kaijin (manusia yang dapat menjadi monster). Seperti aksi-aksi demo sebelumnya, demo ini hanya untuk saling membela kepentingan kedua pihak dan melontarkan kalimat-kalimat rasisme ke pihak lainnya. Di saat yang sama, seorang siswi berusia 14 tahun bernama Aoi Izumi (Kokoro Hirasawa) berpidato di markas PBB agar dapat menciptakan kehidupan antara manusia dan kaijin yang saling berdampingan, tanpa mendiskriminasi satu sama lain.


© TOEI Company, Amazon Prime Video, 2022

Sekembalinya ke Jepang, sepulang sekolah ia dan Shunsuke (Kaiki Kimura), temannya, diserang oleh kaijin laba-laba suruhan Gorgom, dan Kotaro menyaksikan momen itu saat ia baru menerima job untuk membunuh Aoi. Kotaro hampir membunuh Aoi setelah diserang, namun ternyata ia menemukan salah satu dari dua Kingstone yang dikalungkan Aoi. Kalian masih ingat kegunaan Kingstone yang dulu disebut Batu Raja ini? Yap, tidak berbeda dari seri yang dulu, kegunaannya adalah untuk menciptakan Raja Pencipta yang baru. Alhasil, Kotaro berubah menjadi Batta Man (form mentah sebelum menjadi Kamen Rider) dan membunuh kaijin tersebut. Sejak kejadian tersebut, Aoi kehilangan orang-orang yang ia sayangi satu persatu, dan hari ke hari ia menemukan perkara rasisme ini tidak hanya tentang  kebencian satu sama lain. Lama sesudah itu, pada suatu kesempatan Aoi dapat berbicara lagi dengan PBB dan mengakui bahwa konsep yang ia katakan dahulu terlalu naif.


© TOEI Company, Amazon Prime Video, 2022

Mengapa saya lebih menyoroti tentang Aoi dibandingkan perebutan status Raja Pencipta antara Kotaro dan Nobuhiko, Gorgom dan para petingginya (Darom, Baraom, Bishium, Bilgenia), beserta berbagai konspirasinya? Karena topik tentang rasisme dan diskriminasi merupakan highlight utama dari seri ini, dan Aoi sangat memiliki keinginan kuat untuk mengakhiri hal tersebut. Seharusnya, ini juga yang menjadi semangat kita sebagai orang Kristen. Ironisnya, dalam sesama saudara seiman pun rasisme tetap terjadi! Bisa itu karena perbedaan suku, status sosial, aliran gereja dan hal lainnya. Bagaimana mungkin terang dapat kita bawa kepada orang lain, sementara rasisme masih terjadi dalam umat kita sendiri?


© TOEI Company, Amazon Prime Video, 2022

Jika quote dari tokoh Oliver Johnson pada seri ini yang tertulis di bagian awal diterjemahkan, maka pesannya adalah demikian:


“Nilai hidup dari umat manusia dan kaijin lebih berat dari bumi, dan tidak ada perbedaan satu gram pun dalam harganya.”


Kenyataannya, sampai akhir cerita ini pun rasisme antara manusia dan kaijin tetap tidak berakhir. Perdana Menteri Jepang berganti, namun tidak ada situasi yang berubah. Tidak ada kebaikan dari rasisme, baik untuk manusia maupun kaijin. Benar, bahwa rasisme bukan masalah yang akan selesai selama manusia masih ada, karena manusia akan selalu mencari perbedaan nilai antara diri dan kelompok mereka dengan manusia dan kelompok manusia lainnya. Namun, apakah kita jadi hilang harapan karena hal itu? Yesus dan murid-muridNya saja tidak, masa kita tetap angkuh berpegang pada tembok-tembok sosial yang kita (dan mungkin pendahulu kita) ciptakan?


Dalam masa pelayananNya, beberapa kali Yesus melayani orang Samaria, dan setelah Yesus naik ke surga, para rasul juga tidak membeda-bedakan orang-orang Yahudi dan non Yahudi yang menjadi Kristen, sekalipun di antara mereka terjadi banyak perbedaan pendapat. Dalam surat Paulus kepada jemaat di Kolose dikatakan:


“...dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang sakit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Kolose 3:11 (TB)


Pesan dari quote seri tadi dan kutipan ayat tersebut sama-sama menekankan bahwa terlepas dari apapun latar belakang kita, pada akhirnya kita hanyalah sesama manusia yang fana, dan sama-sama berjuang untuk kehidupan masing-masing. Baik secara pandangan duniawi, maupun pandangan rohani. Saya mengakui, bahwa mungkin saya masih bersikap rasis pada orang lain tanpa disadari, saya pun bukan orang yang dapat 100% berkontribusi dengan baik pada impian masyarakat tanpa rasisme. Namun, jangan berhenti untuk berusaha menunjukkan kasih pada siapapun, karena rasisme bukanlah tindakan kasih. Tuhan tidak menginginkan keangkuhan, melainkan kasih. Jika rasisme terjadi dalam pelayanan Yesus dan murid-muridNya, mungkin kita tidak akan menjadi umat Kristen hari ini.


Akhir kata, mari kita sama-sama berjuang untuk saling menerapkan keterbukaan dan kasih pada sesama kita. Berhenti hanya melihat diri kita dari background yang terpatri sejak lama, dan mulailah melihat diri dan sesama sebagai satu keutuhan ciptaan Tuhan, baik kepada yang seiman maupun tidak, baik pada yang liyan maupun normal.


Soli Deo Gloria. Kemuliaan hanya bagi nama Tuhan.

LATEST POST

 

Tahun baru, seringkali dijadikan momen untuk orang-orang membuat resolusi yang baru. Semua orang ber...
by Mikhael Artur Darmakesuma | 28 Jan 2023

Tahun 2023 baru saja berjalan selama 13 hari, tetapi tanggal 13 Januari lalu adalah momen ketika Tuh...
by Azarya Zefanya | 28 Jan 2023

Selamat tahun baru 2023 (dan 新年快乐), Ignite People!Kalau Ignite People ingat, awal tahun 2023 ini...
by Yessica Anggi | 23 Jan 2023

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER