Membaca untuk Membebaskan: Sebuah Klarifikasi

Best Regards, Live Through This, 17 September 2021
Mengapa harus menghindar dari kabar pengharapan yang justru membebaskan diri dari belenggu kebodohan?

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI, tetapi saat kembali membacanya akhir-akhir ini, saya menemukan kejanggalan di dalamnya. Berikut adalah salah satu kutipannya:


Kamu nggak bisa pake alasan rohani ‘mencari kehendak Tuhan’ di dalam diri orang lain pada saat kamu sudah pacaran. Apapun alasan yang dipakai ya itu namanya selingkuh kalo masih ada ikatan dengan orang lain. Kalo ngomong ‘mencari kehendak Tuhan’, ya caranya harus selesaikan dulu dengan yang sebelumnya baru ada orang lain yang diizinkan masuk dalam hidupmu.


Ketika menuliskan kalimat tersebut, saya merasa bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang saya dengarkan. Beberapa orang juga mengungkapkan hal yang serupa, seperti tidak boleh mengalihkan hati ketika sedang berelasi dengan orang lain hanya karena satu-dua kriteria pasangan hidup tidak esensial yang tidak terpenuhi. Lagipula, siapa, sih, yang ingin diselingkuhi oleh pasangannya sendiri? Namun, setelah melalui berbagai ups and downs dalam berelasi, saya jadi mempertanyakan makna dari perselingkuhan yang dimaksud. Bagaimana jika sebuah relasi harus berakhir bukan karena "orang ketiga", melainkan karena ada pertimbangan-pertimbangan tambahan yang muncul, yang bahkan tidak pernah disadari sebelumnya? Bukankah hal yang baik jika kita mempertimbangkan ulang relasi tersebut agar pertimbangan yang ada tidak menjadi bom waktu, dan bisa merusak relasi dengan lebih kacau?

Klimaks dari kejanggalan ini terjawab beberapa hari yang lalu, tepatnya setelah saya menceritakan tentang tulisan di artikel itu pada seorang teman. Dalam sebuah obrolan, dia menyanggah, "Kalau udah nikah mah konsep ini baru berlaku (tapi bukan berarti bisa cerai). Ha kalau masih pacaran, kan, masih bisa putus. Bawa-bawa Tuhan pula... Toh Tuhan aja enggak maksain kita untuk berelasi dengan satu pilihan aja, kan?"

Perkataannya tersebut membuat saya teringat pada beberapa post dan tulisan lainnya mengenai relasi, salah satunya dari @catwomanizer yang pernah menulis, "Sure s/he is cute, but is s/he good for your mental health?" Jujur saja, story dari @catwomanizer pada saat itu menjadi bahan perenungan saya atas nasihat dari beberapa orang yang mengetahui gejolak relasi saya. Ada yang berkata agar saya tetap bertahan karena melihat kualitas hubungan yang "baik" (meskipun itu hanya dari permukaan) dari kami dan mencoba "menoleransi" kelemahannya yang "tidak terlalu esensial" itu, tetapi ada juga yang meminta saya mempertimbangkan ulang karena melihat beratnya beban yang ditanggung (padahal saya sendiri tidak menyadarinya).

Singkat cerita, relasi itu usai, tetapi saya mempelajari kembali hal-hal yang diperoleh dari situ. Melalui tulisan-tulisan yang dibagikan oleh teman-teman maupun public figure, saya disadarkan bahwa pondasi relasi kami saat itu cukup rapuh; salah satunya karena pengenalan diri saya yang masih sangat minim. Akibatnya, saya belum benar-benar mengetahui definisi dari cinta dan relasi yang sehat. Iya, relasi kami itu rapuh, tetapi lucunya saya bisa membuat artikel yang sedemikian tegasnya. Hehe. Ironis, 'kan?



https://ignitegki.com/storage/post/202109/chuttersnap-cGXdjyP6-NU-unsplash.jpg

Photo by CHUTTERSNAP on Unsplash


Ketika memulai relasi dulu, belum banyak sumber informasi maupun sharing yang bisa diakses sebagai sarana pembelajaran dan pertimbangan yang saya butuhkan. Kebanyakan sharing didapatkan dari orang-orang di sekitar saya, yang tentunya tidak bisa digeneralisasi ke semua kondisi dan latar belakang. Namun, seiring berjalannya waktu, konten-konten dengan topik relasi ini mulai bermunculan. Bahkan tidak jarang ada juga yang membagikan pengalaman pribadi atau orang lain melalui tulisan, baik yang bisa dibaca di internet maupun di media cetak. Bentuknya pun macam-macam: dari buku non-fiksi, buku fiksi, hingga story di Instagram. Walaupun demikian, tanpa disadari, saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bersedia membaca dan mencerna konten-konten tersebut (ini juga merupakan salah satu alasan saya sempat merasa malas untuk membaca). Alasannya satu:

Ada “tembok” yang saya bangun untuk melindungi sisi-sisi sensitif mengenai relasi yang rapuh itu.

Saya khawatir jika terlalu berpatok pada bahan bacaan yang tersedia, saya akan dianggap tidak memiliki prinsip hidup oleh si ex (khususnya mengenai batasan fisik dan batasan emosi). Well, namanya juga sedang beralih dari masa remaja menuju masa dewasa, jadi sebenarnya saya sangat membutuhkan identitas diri yang (cukup) kokoh agar bisa lebih settle. Salah satu cara yang sempat terpikirkan adalah dengan menelan berbagai bacaan sebagai prinsip hidup saya. Namun, saya melakukannya secara mentah-mentah. Saya tidak memprosesnya terlebih dulu, karena saya melihat prinsip yang dimiliki orang lain juga bisa diterapkan dalam kehidupan pribadi. Sayangnya, kadang-kadang bacaan tersebut memunculkan perasaan tidak nyaman dalam diri saya (meskipun yang dikatakan para penulis itu ada benarnya). Oke, saya tahu bahwa Tuhan bisa berbicara melalui apa saja, tetapi pada saat itu saya merasa tidak menyukai apa yang Dia katakan karena itu artinya ada yang harus saya ubah... dan saya tidak siap.

Anehnya, setelah putus, melalui layanan konseling dan interaksi bersama para dosen dan teman-teman di tempat kuliah, saya jaid mulai membiasakan diri untuk men-digest setiap konten yang dipelajari dan menerapkannya sesuai dengan kebutuhan. Belakangan, barulah saya memiliki pengenalan diri—dan Tuhan, tentunya—yang lebih utuh (walaupun yang namanya pengenalan ini akan terus berlangsung seumur hidup), dan saya (semoga sudah) jadi mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan hidup yang tepat bagi laki-laki yang juga sedang Tuhan persiapkan.



https://ignitegki.com/storage/post/202109/thought-catalog-r9RmKAe65to-unsplash.jpgPhoto by Thought Catalog on Unsplash


Walaupun bacaan-bacaan itu baik dan menolong dalam memberikan insight yang baru, kita perlu mengingat bahwa semua yang benar adalah kebenaran dari Tuhan sendiri (“All truth is God’s truth,” kalau kata Arthur F. Holmes). Artinya, satu-satunya filter yang sahih dalam mencerna setiap konten yang disampaikan adalah melalui Firman Tuhan, seperti yang disadari oleh Pemazmur, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105). Oke, di Alkitab memang tidak dijelaskan secara rinci kriteria apa saja yang dibutuhkan dalam mencari pasangan hidup (atau untuk hal-hal lain seperti menu mingguan dan tempat kerja yang sesuai dengan kata Tuhan), tetapi Dia menyediakan prinsip hidup sebagai patokan. Prinsip dari Tuhan inilah yang seharusnya kita pegang, meskipun dunia justru menawarkan hal-hal yang lebih “manis” di awal, tetapi “pahit” dan menjebak kita di akhir.


Dunia bisa berkata, “Kamu berharga kalau kamu punya tubuh dan kehidupan yang ideal. Kulit putih, langsing/macho, rambut jabrik, nilai bagus, punya kerjaan yang oke…”

Mereka juga bisa menyerukan betapa indahnya menghidupi prinsip “YOLO” (“You Only Live Once”), sehingga hidup ini benar-benar “dinikmati” sesuai keinginan diri sendiri.

Namun,

Tuhan berkata bahwa hidup kita berharga—dengan segala keunikan yang kita miliki. Walaupun orang-orang di sekitar kita memandang remeh, pandanglah salib yang menjadi bukti kasih-Nya yang tidak pandang bulu. Justru setelah merengkuh kesadaran ini, Tuhan ingin agar kita membagikan kasih-Nya kepada orang lain, sehingga mereka juga memiliki pengenalan yang baru mengenai dirinya sendiri—dan Dia, tentunya.


Berbagai sumber bacaan yang ada bisa menjadi sarana Tuhan untuk membebaskan kita dari unnecessary homeworks. Misalnya perasaan bersalah karena menikahi orang yang tidak seiman, atau kecanduan yang sebenarnya bisa dicegah, atau rusaknya relasi dalam keluarga yang makin fatal. Sekarang tinggal bagian kita: maukah kita berubah? Iya, perubahan memang tidak selalu mudah, apalagi jika ada pola-pola yang tidak sehat dan masih bercokol dalam kehidupan kita. Ada kalanya kita tergoda untuk hanya menyaring konten yang sesuai dengan keinginan kita, tetapi membuang jauh-jauh konten yang "menggelisahkan" (padahal sebenarnya juga memuat kebenaran). Namun, jika kita mengizinkan Tuhan untuk berintervensi di dalamnya, percayalah bahwa pelan-pelan kebenaran-Nya-—entah yang kita sukai maupun benci—akan membebaskan kita. Izinkan Dia untuk berbicara melalui apa pun yang kita baca (karena topik bahasan bulan ini adalah seputar bacaan), dan lihatlah buah dari kesetiaan kita untuk selalu back to the Holy Word.

Kiranya Roh Kudus memampukan kita mengalami perubahan hidup untuk makin dewasa di dalam Kristus, Sang Anak Allah yang telah menjadi jembatan antara kita yang berdosa dengan Allah Bapa yang kudus.



P.S.: hai, teman random-and-overthinking-ku

Terima kasih untuk sumbangsihmu (haha) di tulisan kali ini!



LATEST POST

 

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Belakangan ini saya sering mendengar lagu dari Kaleb - It’s Only Me yang menceritakan tentang...
by Yessica Anggi | 19 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER