Devotion : Act of Loyalty

Best Regards, Live Through This, 16 September 2021
Menjadi penggemar memanglah tidak mudah, tetapi menjadi pengikut Tuhan jauh lebih tidak mudah.

"Wah, ganteng banget!”

“Lagunya bagus banget!”

"Dia narinya keren, energik gitu.”

Kita tentunya sering mendengar atau melihat komentar-komentar tersebut di media sosial. Komentar-komentar tersebut ada sebagai bentuk apresiasi atau pujian terhadap karya atau visual dari idola kita. Nah, apa itu idola? Idola didefinisikan oleh KBBI sebagai “orang, gambar, patung, dan sebagainya yang menjadi pujaan”, Idola sendiri memiliki definisi lain dari kamus Merriam Webster, yaitu “representasi atau simbol dari suatu objek untuk dipuja”, dan diartikan pula sebagai “objek dari devosi yang berlebih”. Definisi terakhir inilah yang menjadi dasar dalam diskusi tentang idola dan relevansinya dengan Tuhan dan kita sendiri.

Ketika kita bicara tentang devosi terhadap suatu objek (dalam konteks kali ini idola dalam wujud orang), maka kita perlu memahami terlebih dahulu makna dari devosi itu sendiri. Devosi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu devotion. Kata devotion dalam kamus Merriam Webster memiliki arti “the fact or state of being ardently dedicated and loyal” atau dapat diterjemahkan sebagai “kenyataan atau keadaan yang penuh dengan semangat, dedikasi, dan loyalitas”. 



Maka, dapat dikatakan bahwa devosi merupakan tindakan memuja idola dengan penuh semangat, berdedikasi, dan loyal atau setia. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan yang diberikan dari penggemar kepada idolanya. Contohnya yaitu video musik Lisa BLACKPINK yang mampu mencapai 100 juta views hanya dalam waktu 2 hari, atau kabar Cristiano Ronaldo kembali ke Manchester United yang disambut dengan sangat baik oleh penggemar klub tersebut hingga menjadi trending di Twitter. Kedua contoh ini menunjukkan bahwa penggemar bisa memberi dukungan yang loyal dan solid demi kesuksesan sang idola.

Di sisi lain, dukungan yang diberikan penggemar terhadap idola seringkali berlebihan dan atau tidak pada tempatnya. Dalam kasus dukungan terhadap idola yang dinilai berlebihan, ada banyak penggemar yang tergabung dalam fandom tertentu yang memberikan komentar yang menjelek-jelekkan artis lain maupun fandom dari artis tersebut di media sosial hingga memicu terjadinya fanwar dan dimanfaatkan oleh haters berkedok penggemar untuk memperkeruh keadaan. Ada pula penggemar yang rela mengorbankan waktunya untuk sekolah ataupun bekerja hanya demi mengikuti sang idola, bahkan mengganggu privasi sang idola. Ada pula yang menganut prinsip bias is mine, yang berarti idola tersebut hanya boleh diidolakan dan menjadi milik kita saja. 

Lalu, dalam kasus dukungan terhadap idola yang tidak pada tempatnya, ada penggemar yang masih membela idolanya ketika idolanya melakukan kesalahan. Ada juga penggemar yang saking kecewanya terhadap hasil yang didapat oleh sang idola, langsung melampiaskan kekecewaan dengan “menyerang” akun media sosial dari lawan sang idola, atau pihak penyelenggara. Salah satu contoh dari bentuk dukungan semacam ini yaitu adanya beberapa oknum penggemar dari Lord Adi yang meluapkan kekecewaan kepada pesaing dari sang Lord karena Lord Adi harus terhenti di babak 3 besar Masterchef Indonesia season 8. Semua dukungan berlebihan dan atau tidak pada tempatnya tersebut semata-mata dilakukan oleh penggemar dengan alasan agar sang idola dapat diakui, dapat dihargai, dan tidak kalah dengan yang lainnya. Alasan lainnya yaitu sebagai bentuk cinta yang ditunjukkan penggemar terhadap sang idola dan sebagai bentuk loyalitas terhadap sang idola.



Lalu, apa kata Alkitab mengenai penyembahan dalam bentuk dukungan terhadap idola? Alkitab menyatakan dalam Keluaran 20 : 3 bahwa jangan ada tuhan lain selain Tuhan. Ketika kita menganggap idola kita sebagai tujuan utama dan sumber kebenaran dalam hidup kita daripada Tuhan, maka kita akan cenderung menganggap idola kita sebagai tuhan. Padahal, kita seharusnya hidup untuk Tuhan sebagai tujuan utama dibandingkan dengan idola kita. Tuhanlah yang layak disembah, layak ditinggikan dibandingkan idola yang juga sama-sama manusia seperti kita. Hal ini ditegaskan kembali dalam Alkitab dalam Ulangan 4 : 24 bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang pencemburu, yang memiliki makna Tuhan tidak ingin waktu, hati, dan pikiran kita hanya dicurahkan untuk idola. Tuhan ingin agar kita mencurahkan waktu, hati, dan pikiran yang telah diberikan-Nya kepada kita untuk menjalin relasi yang lebih dekat dengan-Nya dan mengerti akan kehendak-Nya. Tuhan ingin agar kita mendedikasikan apa yang kita punya untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk kemuliaan nama idola kita.

Lantas, apakah Alkitab melarang kita untuk memiliki idola? Jawabannya tidak, selama kita memiliki cara pandang dan memberikan dukungan terhadap idola kita dengan sewajarnya. Kita tentu memiliki idola kita masing-masing, tetapi apakah idola tersebut memiliki dampak positif bagi kehidupan kita? Kalau ternyata idola kita membuat kita jadi lupa akan tugas dan tanggung jawab kita, maka sebaiknya kita memikirkan kembali alasan mengapa kita menjadi penggemar dari idola tersebut dan menata ulang prioritas kita. Kemudian, kita harus memiliki pola pikir bahwa idola juga sesama manusia yang memiliki kekurangan dan bukan sosok yang sempurna, sehingga ketika idola kita melakukan kesalahan, kita tidak membenarkan kesalahan tersebut dan belajar dari kesalahan yang dilakukan idola kita. Jadilah penggemar yang tahu akan batasan diri kita, dalam artian memberi dukungan berupa apresiasi dan motivasi bagi idola kita untuk terus berkarya dan menginspirasi, tidak sampai menyinggung privasi dari idola kita. Dan hal yang terpenting, jangan sampai melupakan Tuhan sebagai pusat hidup kita.

Menjadi penggemar memanglah tidak mudah, tetapi menjadi pengikut Tuhan jauh lebih tidak mudah. Kalau kita saja bisa bersemangat dan loyal terhadap idola kita, mengapa kita tidak bisa bersemangat dan loyal dalam relasi kita dengan-Nya? Ketika kita menjalani relasi dengan-Nya secara loyal dan penuh semangat, di situlah devosi atau penyembahan sejati terjadi. So, selamat berdinamika dalam relasi dengan-Nya!


LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER