Now Playing: God's Movie

Best Regards, Live Through This, 13 August 2019
Maukah kau ikut denganku, untuk sekali lagi meyaksikan film buatan Allah di kediaman-Nya?

Sebuah film yang bagus akan terasa menyenangkan jika dinikmati di tempat yang nyaman. Sebut saja XXI dan CGV. Dengan kemewahan yang ada, mereka berkomitmen untuk menjadi top cinema di Indonesia. Tapi tenang, saya tidak ingin mempromosikan kedua bioskop itu, karena menurut saya, masih ada satu bioskop yang begitu luar biasa menemani hari-hari saya. Bahkan saya dapat masuk ke sana tanpa dipungut biaya. Wow!

Kalian mau tahu tempatnya? "Bioskop" itu adalah GEREJA.


Loh kok gereja?


Iya, gereja. Sebuah gedung yang biasa-biasa saja, tetapi menjadi bioskop terunik yang pernah ada. Bagaimana tidak? Setiap Minggu, gereja menjadi saksi bisu dari kisah-kisah Alkitab yang diceritakan bak film Hollywood dengan jalan cerita yang tidak terprediksikan.  Dengan Allah sebagai sutradaranya, kita dibuat-Nya terheran-heran oleh setiap kejutan di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung, kejadian dalam "film" ini sangat menabjubkan. Sebagai contoh, lihatlah Daud ketika berhadapan dengan Goliat (1 Samuel 17). Pertarungan mereka layaknya Iron Man yang bertarung melawan Thanos dalam film Avengers.

Tidak hanya itu, Allahlah yang memilih para pemerannya; mulai dari Adam dan Hawa, Abraham, Maria dan Yusuf, bahkan pemeran antagonis seperti Yudas juga tidak ketinggalan. Tidak kalah dengan sinetron beragam azab di televisi, Alkitab juga menghadirkan kisah-kisah yang membuat kita berpikir dua kali sebelum mengambil tindakan karena takut kena azab. Dari penciptaan sampai Wahyu mengenai "Yerusalem yang baru", Allah merangkai skenario sedemikian rupa untuk menjadi sebuah film kehidupan yang begitu indah dan berkesinambungan.

Photo by Jake Hills on Unsplash 


Sayangnya, sebagai tempat untuk menyaksikan film buatan Allah, gereja tidak dapat menarik perhatian para penontonnya. Mengapa? Karena tidak adanya inovasi dari gereja itu sendiri. Bayangkan saja XXI dan CGV yang mau melakukan apa saja untuk meningkatkan minat pengunjung; mulai dari menyediakan makanan dan minuman, sistem online dalam pemesanan tiket, dan lain-lain. Lalu mengapa gereja tidak dapat berubah? Hm, bukannya tidak ingin, tetapi sulit.

Banyak orang beranggapan bahwa gereja adalah sebuah tempat suci yang tidak boleh diubah-ubah sembarangan. Bahkan kalaupun ada perubahan dalam gereja, itu dilakukan dengan perjuangan berpuluh-puluh tahun, atau biasanya sih... sampai para penatua, pengurus, dan pendeta sadar bahwa semakin lama jemaat semakin menghilang karena gereja tidak bisa mengikuti perkembangan zaman (ups). Akibatnya bisa kita duga: Semakin lama, pemikiran yang tertutup membuat gereja tergerus oleh gereja-gereja baru yang menawarkan pengalaman yang lebih menarik. Lihat saja gereja yang menyatu dengan pusat perbelanjaan, jemaatyang ingin sekalian bersantai, maupun yang gak mau kena macet kalau mau pergi belanja di hari Minggu sepulang ibadahberdatangan tanpa henti.


Lalu apakah gereja memang satu-satunya faktor yang menjadi penghalang kita menikmati film karya Allah?


Tidak, tidak juga. Sejauh apapun jaraknya, berapun biayanya, dan seketat-ketatnya peraturan yang ada di XXI dan CGV, kita tidak akan berpikir dua kali untuk melangkahkan kaki untuk menonton film di sana. Lantas, apa bedanya dengan gereja yang lokasinya lebih dekat dengan rumah, tidak perlu membayar tiket, dan tidak memiliki peraturan yang begitu ketat, tetapi kita sungkan untuk pergi ke sana?


Photo by Erik Witsoe on Unsplash 


Kenyataannya, kita juga mengambil bagian dari “tidak lakunya” film buatan Allah ini. Kita terlalu banyak membuat alasan agar tidak menghabiskan waktu menonton film yang sudah kita lihat selama bertahun-tahun. Siapa sih, yang mau nonton Kung Fu Panda sampai delapan kali? Nyatanya ada yang mau. Atau siapa, sih yang berani nonton Annabelle sampai lima kali? Ada, buktinya teman saya melakukannya. Lalu apa sulitnya menonton karya penciptaan sekali lagi, melihat Zakheus naik ke pohon demi melihat Yesus sekali lagi, atau melihat Rut mengikuti Naomi sekali lagi?

Jadi siapa yang salah? Gereja, kita, atau keduanya? Jawabannya tergantung perspektif kita masing-masing. Sebagai orang yang melayani di gereja, kita memiliki kecenderungan menyalahkan jemaat yang tidak terpanggil untuk datang ke gereja, padahal gereja sudah mulai mencoba melakukan perubahan. Bagi jemaat, ada kecenderungan untuk menyalahkan gereja yang tidak bisa mengikuti zaman sekarang yang serba instan. Iya, semua tergantung kita, kok. Meski demikian, ada satu hal yang harus kita lakukan bersama agar film karya Allah ini tidak sia-sia, yaitu sama-sama menurunkan ego. Sebagai tempat karya Allah ditayangkan, gereja bisa melakukannya untuk menerima perubahan yang adatidak secara besar-besaran, namun perlahan. Sebagai penonton (alias jemaat), kita juga harus menurunkan ego dan melihat perubahan apa yang telah gereja usahakan demi menarik perhatian kita untuk masuk ke hadirat Allah dan menikmati karya-Nya.

Pada intinya, Allah membuat film ini untuk kita nikmati bersama-sama. Bila hal itu terjadi, gereja dan jemaatnya akan menjadi saksi karya Allah yang luar biasa dalam menyelamatkan dan memberkati umat-Nya.  Semoga film karya Allah dapat terus diputarkan selama-lamanya! Amin.

LATEST POST

 

Kita semua tentu tidak asing dengan DC Comics—salah satu perusahaan komik terbesar di Amerika...
by Febrian Eka Sandi Nugroho | 09 Oct 2019

Beberapa tahun lalu, saya mengerjakan penulisan untuk sebuah majalah ‘untuk kalangan Kris...
by Sobat Anonim | 09 Oct 2019

Kekacauan di Indonesia yang terjadi beberapa pekan terakhir melukai hati saya. Bisa dibilang, setiap...
by Eleazar Evan Moeljono | 05 Oct 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER