Anugerah di dalam Pandemi

Best Regards, Live Through This, 07 September 2021
"Tidak ada kondisi apapun yang terlalu sulit bagi Tuhan untuk dapat Ia ubahkan"

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "anugerah" berarti pemberian atau ganjaran dari pihak atas (orang besar dan sebagainya) kepada pihak bawah (orang rendah dan sebagainya), atau karunia (dari Tuhan). Mungkin sebagian kita juga memaknai anugerah sebagai pemberian cuma-cuma/gratis kepada kita yang tidak layak menerimanya. Di luar konteks keselamatan atau pengampunan dosa di hadapan Tuhan,  bentuknya bisa berupa kita memenangkan undian, atau kita dimaafkan atas kesalahan kita, atau orang tua maupun orang terkasih kita memberikan sesuatu yang berharga tanpa sebab atau selebrasi tertentu.


Bersyukur pada masa pandemi ini saya berkesempatan menyaksikan anugerah Tuhan dalam hidup keluarga kami. Ada dua kasus positif Covid-19: yang pertama anak muda, usia 37 tahun, saturasi oksigen turun, tapi di rumah ada perawat 24 jam, tabung oksigen 2 x 6 meter kubik standby, obat-obatan lengkap, bahkan sudah memiliki obat remdesivir yang harganya jutaan per ampul, dan yang kedua adalah bapak yang berusia 64 tahun, punya riwayat penyakit jantung, saturasi oksigen turun, tabung oksigen harus cari kesana-kemari, menunggu di ICU dalam kondisi duduk selama dua malam. Jika ditanya memakai logika manusia, tentu kita akan memilih orang pertama sebagai orang dengan harapan hidup lebih tinggi.


Photo by Kamil Szumotalski on Unsplash 

Orang pada kasus pertama adalah adik dari rekan kerja saya. Ambulans sudah menjemput dia untuk dibawa ke ICU, tabung oksigen terpasang, perawat sudah standby, tetapi sayangnya tidak dapat bertahan dan meninggal dunia saat menunggu tempat tidur di depan ICU rumah sakit. Sementara itu, orang kedua (yang adalah ayah mertua saya) bertahan selama dua malam dalam kondisi duduk di ICU, dan baru mendapatkan tempat tidur di malam ketiga, lalu dirawat selama lima hari di rumah sakit. Puji Tuhan saat ini beliau telah kembali ke rumah dengan sehat sampai sekarang.


Hari-hari itu terasa begitu gelap dan suram. Saya dan Istri tidak dapat banyak membantu, karena menghindari kontak dan kondisi istri yang sedang hamil. Kami hanya bisa membantu mencarikan tabung oksigen dan memesankan makanan dari jauh. Kami paham benar Covid-19 ini dapat merenggut nyawa dengan sangat cepat, apalagi kondisi ayah mertua yang komorbid jantung juga menambah kekhawatiran kami. Kami berdoa setiap malam, memohon Tuhan kiranya menolong dan meluputkan ayah mertua dari maut, dan kami ingin beliau bisa melihat cucu yang sedang dikandung istri saya. Kami pasrah ketika beliau harus menunggu dalam posisi duduk di ICU. Namun, hanya karena anugerah Tuhan sajalah yang memungkinkan ayah mertua saya melalui masa-masa yang begitu berat saat menunggu tempat tidur di kamar perawatan dan mendapatkan perawatan yang lebih "layak".


Saat itu, sebenarnya ibu mertua saya juga dinyatakan positif Covid-19 tanpa gejala, sehingga bisa membantu merawat ayah mertua dari dekat. Kami cukup intens berkomunikasi, dan mendengar kabar bahwa ayah mertua sangat semangat dan berharap tetap bertahan, karena masih mau bertemu dengan cucu. Walaupun bukan cucu pertama di keluarga, tapi kami sangat senang bahwa calon anak kami memberi semangat bagi ayah mertua untuk bertahan dan memiliki pengharapan. Yah, kadang-kadang pengharapan yang sederhana bisa menjadi sumber kekuatan bagi seseorang, bukan?


Photo by camilo jimenez on Unsplash  

Setelah ayah mertua sembuh, saya dan istri merefleksikan rangkaian kejadian ini sambil mengucap syukur tiada henti. Ini hanya dimungkinkan karena anugerah. Secara logika manusia, tidak mungkin seorang lanjut usia yang memiliki kondisi komorbid memiliki harapan hidup lebih tinggi daripada adik rekan saya yang masih muda dengan perawat dan cadangan oksigen yang siap sedia. Saya tidak mau menghakimi apakah Tuhan lebih memilih ayah saya ketimbang adik rekan saya, tetapi kejadian ini tentu Tuhan pakai sebagai refleksi bagi keluarga kami untuk mensyukuri dan memuji anugerah dan pemeliharaan Tuhan. Kami justru belajar untuk tidak menyia-nyiakan momen seperti ini, bahkan rindu agar bisa mempererat tali kasih kami bersama ayah mertua.


Anugerah Tuhan itu nyata dan kita percaya apa yang tidak mungkin atau terasa berat bagi ukuran manusia, bagi Tuhan hanya sejauh anugerah-Nya.


Apakah saat ini kita sedang dalam sebuah pergumulan, baik kesehatan pribadi, kesehatan keluarga atau diri sendiri, karier, relasi, studi, atau pelayanan? Ingatlah bahwa tidak ada kondisi apapun yang terlalu sulit bagi Tuhan untuk dapat Ia ubahkan, karena anugerah-Nya nyata dan tepat pada waktunya. Namun, apabila kondisi tidak berubah sesuai dengan keinginan kita, jangan berkecil hati, karena rancangan Tuhan adalah rancangan yang sempurna, rancangan damai sejahtera dan penuh pengharapan. Memang secara logika manusia, hal ini sangat sulit untuk dijalani, tetapi kiranya anugerah Tuhan tetap menopang kita untuk beriman di dalam pengharapan, bahkan menjadi saluran berkat melalui kisah hidup kita.

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER