Kita Semua Lahir dari Bintang Kesialan?

Best Regards, Live Through This, 23 July 2021
“Kalau saat ini kau tidak bahagia, kau sendirilah yang memilih untuk menjadi tidak bahagia, bukan karena kau dilahirkan dari bintang kesialan.”

“Kami disabilitas bukan berarti kami gak butuh hidup, Mbak,” kata seorang teman penyandang disabilitas yang kutemui di salah satu pusat rehabilitasi. Ya, beberapa waktu lalu, aku menyibukkan diri di pusat rehabilitasi bagi penyandang disabilitas dan perkembangan komunitas ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), memperlajari banyak hal, berelasi akrab dengan mereka. Salah satunya adalah seorang teman yang bernama Mas Eko. Ia sempat bercerita panjang lebar mengenai sedikit dari kehidupannya. Mas Eko adalah seorang penyandang disabilitas fisik yang saat ini bekerja sebagai seorang barista di cafe ramah disabilitas, tepatnya di Kaliurang, Yogyakarta. 


Persis seperti yang dilantunkan Sherina dalam lagunya:

“Lihat segalanya lebih dekat, dan ‘ku bisa menilai lebih bijaksana.” 

Setelah melalui beberapa kali "ngopi bareng", ternyata ada banyak banget stigma yang–ya bisa dibilang enggak bener–secara sadar atau enggak sadar ditanamkan pada teman-teman penyandang disabilitas. Salah satu yang paling lantang adalah stigma kalau mereka lemah, diikuti stigma-stigma lain yang menilai kalau mereka gak bisa menghidupi kebutuhan mereka sendiri, mereka selalu butuh bantuan di hampir semua aspek hidupnya. Pada akhirnya, teman-teman penyandang disabilitas ya enggak pernah mendapatkan porsi untuk bisa turut berpartisipasi dan mengaktualisasikan kemampuan atau talenta yang mereka miliki.

Meski demikian, ada kisah berbeda dari Mas Eko, yang mengalami kecelakaan ketika sedang bekerja memperbaiki listrik. Sayangnya, pekerjaannya itu menyebabkan ia harus kehilangan kedua tangannya, dan hanya bersisa lengan. Persis seperti yang ia utarakan dalam beberapa kali perbincangan kami, disabilitas bukan berarti tidak bisa bekerja. Mas Eko aktif menjadi barista di cafe ramah disabilitas dan sukses menghidupi istri dan anaknya. Hambatan dan tantangan yang dihadapi enggak otomatis membuatnya putus asa sama kehidupan.


Photo by Greg Rakozy on Unsplash 


Mungkin hidup memang membawa beragam penderitaan, but let’s be fair, what about all the simple thing that makes you smile? 

“Kalau saat ini kau tidak bahagia, kau sendiri lah yang memilih untuk menjadi tidak bahagia, bukan karena kau dilahirkan dari bintang kesialan,” kata Ichiro Kishimi dalam bukunya yang berjudul Berani Tidak Disukai.

"Ah, coba aja kamu gak dilahirkan dari ibu yang menderita HIV/AIDS," kata seorang anak perempuan pada temannya yang dari lahir menjadi ODHA. Ibu dari anak ini bercerita  padaku bagaimana sulitnya mencari sekolah bagi anaknya yang berstatus sebagai ODHA, bahkan penolakan dari teman anaknya sendiri. Terlihat bagaimana pahitnya penolakan-penolakan yang dia dan anaknya terima lewat air mata yang susah payah dia tahan waktu lagi cerita. Saat itu, aku hanya bisa berkata satu kalimat, “Mungkin memang persoalannya bukan masa lalu, tapi di sini, saat ini, Mba.” 

Ibu dan anak itu tentu bisa memilih untuk fokus pada masa lalu, dan ya, pasti merasa bahwa mereka lahir dari bintang kesialan, dan karenanya mereka tidak bahagia. Namun, nyatanya bahan bakar mereka untuk bisa terus hidup justru bukan masa lalu, tapi cita-cita, harapan, dan masa depan mereka. Daripada fokus pada apa yang terjadi kemarin, bukankah lebih baik fokus pada tujuan? Apa yang ingin dicapai dan gimana caranya? Apa yang harus mulai dilakukan? Ya bukan berarti denial sama masa lalu juga sih. Masa lalu toh cuma bisa diterima dan dimaafkan, jangan sampai jadi fokus utama. 


Photo by chris liu on Unsplash 


“Jangan takut, percaya saja!” – Markus 5:36

Credo ut permaneam adalah bahasa latin yang artinya “Aku percaya, maka aku bertahan.” Kita tahu kedepannya sama sekali gak akan mudah, apalagi kalau diukur dari masa lalu kita yang (mungkin) painful. Nah pertanyaannya, kenapa aku bertahan? Ya karena aku percaya, karena aku beriman, makanya aku tau aku perlu bertahan bukan menyerah. Seperti yang Yesus bilang ke Yairus pada ayat di atas, bahkan juga untuk kita “Don’t be afraid, only believe” .


Dalam giat iman, disiplin baca alkitab dan seru doa kita, kita yakin Allah turut bekerja, mendatangkan kebaikan, bagi yang mengasihi-Nya. 

Semoga kita sama-sama dimampukan untuk setia beriman, dan bertahan, sehingga apapun branding kita, to God be the glory!

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER