2020: Ikthiar untuk Berjuang dan Bangkit

Best Regards, Live Through This, 23 January 2020
Tidak masalah seberapa buruknya kegagalan, selagi kita masih bisa untuk bangkit kembali.

Seberapa buruk sih, kegagalan menurut kalian? Pastinya itu dipandang sebagai hal yang kurang bisa diterima ya, bahkan mungkin sesuatu yang paling dibenci. Apalagi jika kegagalan yang kita alami itu terjadi 2 kali di tahun yang sama, hmm rasanya seperti “Sudah jatuh tertimpa tangga”. Begitulah bunyi pepatah yang sesuai dengan apa yang saya alami di tahun 2019 lalu. 

Tahun 2019 adalah tahun yang sedikit kurang menyenangkan dan penuh pergumulan yang berat bagi saya. Dimulai dari kegagalan saya di seleksi untuk kuliah jurusan Teologi di bulan Januari dan seleksi beasiswa UPH di bulan April. Kegagalan 2 kali berturut-turut itu jujur saja membuat saya terpukul dan bertanya pada Tuhan “Mengapa Kau melakukan hal yang demikian? Apa yang Kau kehendaki, ya Tuhan?”. Saya pun jadi merasa bersalah kepada orang tua karena karena tidak bisa memberikan yang terbaik.

So, apakah saya berhenti saja dan berdiam diri melihat kegagalan saya?
TIdak!

Akhirnya saya memutuskan untuk gap year (jeda setahun).



However, saya juga tidak mau berdiam diri dalam gap year ini, saya berusaha untuk bangkit, mempersiapkan diri kembali, dan mencoba lagi salah satu dari 2 tes yang pernah gagal waktu itu. Saya mengikuti kembali seleksi beasiswa UPH seperti di bulan Oktober 2019 dan dengan pengalaman yang didapat waktu seleksi pertama kali (terutama tes wawancara), saya mulai mempersiapkan diri lebih baik lagi.

Mengapa begitu?
Pastinya supaya lolos dalam seleksi yang kedua kali ini dong; bahkan untuk mempersiapkan diri dalam tes wawancara, saya dibimbing dan dibekali oleh bapak pendeta bagaimana caranya menghadapi penguji wawancara nanti. Saya merasa persiapan itu sudah cukup ekstra. Tetapi di balik segala persiapan itu, tidak lupa juga disertai doa kepada Tuhan agar Ia selalu memberkati dan menyertai setiap proses seleksi yang akan saya hadapi. Dan puji Tuhan saya dapat melalui tes tersebut dengan baik dan sekarang tinggal menunggu pengumuman saja (semoga lolos ya, hehe).

IGNITE People…
Saya yakin kita semua juga pernah mengalami kegagalan meskipun berbeda kasus dan historisnya.

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak kita untuk merenung. Mari kita menyadari bahwa setiap orang pernah gagal. Alkitab menorehkan catatan kegagalan tokoh-tokoh dalam goresan tinta emas yang terdapat dalam kisah hidup mereka; baik itu Abraham,  Yakub, Musa, sampai Daud. Pemahaman bahwa setiap orang pernah mengalami kegagalan akan mencegah kita untuk berputus asa, frustrasi, dan melakukan tindakan yang fatal. Pemahaman bahwa sukses tanpa kegagalan hanyalah sekedar mitos belaka, akan membuat kita bisa melihat perspektif positif dari kegagalan kita.

”TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."
Mazmur 37:23-24

Mari patahkan rintangan-rintangan yang menghambat kita untuk bangkit dan maju. Rintangan yang akan menghambat itu terdapat dua bentuk yaitu: pikiran negatif dan pengalaman traumatis masa lalu. 



Pertama, kita harus mengendalikan pikiran-pikiran kita. Mari kalahkan pikiran-pikiran negatif dan izinkan pikiran-pikiran positif mengendalikan kita. Isi terus menerus pikiran-pikiran kita dengan hal-hal positif (Filipi 4:7-8). Ingat, perkataan dan tindakan-tindakan kita mencerminkan keadaan hati dan pikiran-pikiran kita (Amsal 18:21; Bilangan 13 dan 14). 

Kedua, kita perlu membereskan pengalaman traumatis masa lalu dengan menerima pengalaman itu sebagai bagian dari hidup kita. Kita juga harus belajar mengampuni orang-orang yang telah melukai dan menyakiti kita seperti pengalaman Yusuf di Alkitab. 

Ingatlah, jika kita terlalu banyak menoleh ke belakang, kita akan segera kehilangan arah. Ibarat mengemudikan kendaraan, kita memerlukan kaca spion, agar dapat melihat apa yang terjadi di belakang, tanpa membahayakan diri. Artinya, kita perlu mengambil pelajaran utama dari pengalaman dan kepahitan masa lalu dan membuang semua rinciannya, termasuk kepahitan, kemarahan, dan kekecewaan.

Mari tetap percaya pada Tuhan karena ketika kita sungguh-sungguh percaya pada Tuhan, kita akan senantiasa terarah untuk bangkit dari kegagalan. Tuhan Memberkati kita semuanya.


” Tidak masalah seberapa buruknya kegagalan, selagi kita masih bisa untuk bangkit kembali. Akuilah kegagalan kita dan bersedialah untuk bangkit kembali”

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER