Sempurna dalam Kelemahan

Best Regards, Live Through This, 02 May 2021
So, I’m not ashamed of myself, but sometimes when people stare, it’s killing me inside.

Behind the closet, there is an untold secret. Setiap pasti memiliki sesuatu yang disembunyikan dari orang lain. Namun, hanya kamu sendiri yang bisa menilai apakah kamu perlu mengeluarkannya atau tidak. Begitu pula dengan saya, yang kali ini akan menceritakan kisah yang tidak pernah (oke deh, jarang) saya ungkapkan di publik.

Saya terlahir dengan microtia grade 3 (atau kelainan yang menyebabkan telinga berukuran lebih kecil daripada telinga normal) pada telinga kanan. Sejak kecil hingga dewasa, orang tua saya tidak pernah membicarakan hal itu, sehingga saya tumbuh dengan rasa penasaran yang dipendam sendirian. Saya bertumbuh dengan pemikiran, "Saya baik-baik saja, semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu ditanyakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Namun, kenyataannya apakah benar semua baik-baik saja?

When I was 5, I got bullied in kindergarden.

I grew up with my hairs always cover my ears,

because I don’t want people to know..

Saya tahu bahwa saya mengidap microtia melalui internet saat saya (sepertinya) sudah kuliah. Saya ingat pernah menonton Oprah Show yang menghadirkan seorang gadis kecil dengan kondisi telinga sama seperti saya (bertahun-tahun lalu sebelum saya akhirnya mencarinya di internet).

Sejak kecil, saya tumbuh menjadi anak yang sulit untuk mengekspresikan apa yang saya rasa dan pikirkan. Saya cenderung memendam segala sesuatu, karena dari apa yang saya terima di keluarga saya, saya belajar bahwa orang lain tidak peduli dan saya tidak ingin merasakan apa-apa. Berbagai pengalaman di masa lalu membuat saya memiliki persepsi bahwa membicarakan kelemahan atau apa yang kita rasa tidaklah penting. Saya pun memiliki kesan bahwa orang tua maupun orang lain hanya ingin mendengar hal yang baik.



Photo by Annie Spratt on Unsplash  


Pada akhirnya, saya tahu saya memang baik-baik saja. Having a little ear doesn’t make you small. Setelah melalui banyak hal, saya bisa menerima keadaan diri saya dengan hati lebih terbuka dan tidak malu lagi. Iya, ketika masih memiliki rasa malu, itu berarti kamu belum menerima keadaanmu. Selama ini, saya juga tidak pernah menutupinya tapi memang tidak banyak orang yang tahu.

So, I’m not ashamed of myself, but sometimes when people stare, it’s killing me inside.

Saya tidak suka orang bersimpati pada saya tapi di satu sisi saya juga tidak berharap orang menggampangkan apa yang saya hadapi. Kenyatannya, banyak ibu dengan anak microtia pun sering bingung dan sedih dengan kondisi anak-anak mereka. Jika saya bercerita tentang kondisi saya, saya ingin orang mendengarkan dengan respect. Apakah ini sebuah kesalahan jika saya mengharapkan hal itu?

Ada beberapa orang (mungkin satu-dua orang) yang pernah berkata bahwa saya itu tidak apa-apa (dengan nada tidak enak). Well, saya memang tidak minta simpati, tetapi kenyataan bahwa mereka hanya mengetahui bahwa saya memiliki telinga kecil itu bukanlah hal yang fair. Apakah mereka tahu bahwa orang yang memiliki telinga kecil benar-benar tidak kesulitan sama sekali dalam hidupnya? Apakah ada kaitannya dengan kesehatan, pendengaran, atau yang lainnya? Mereka tidak tahu, karena mereka sudah closed statement.


Walaupun memang (jika benar) tidak ada dampak yang besar, but as human being bukankah sebaiknya kita saling support?


Photo by Caleb Woods on Unsplash  


Sebenarnya, bersaksi tentang kelemahan saya bukanlah topik yang saya sukai, karena saya pribadi (jujur, ini yang saya rasakan) merasa seperti ditelanjangi. Ketika kita membuka diri terhadap orang lain tentang kelemahan diri sendiri, kita seolah-olah sedang mengakui bahwa diri kita memang lemah. Padahal sebagai manusia, memiliki kelemahan atau kekurangan bukanlah sesuatu yang kita harapkan. We wanna be perfect, because that's a pressure from our families and society, right?

Namun, saya belajar dan di sinilah kebenaran firman Tuhan itu nyata: Dia mengubah kekurangan kita menjadi kekuatan. Bahwa di dalam Dia anugerah-Nya cukup.

Ketika menceritakan tentang diri sendiri yang memiliki kelemahan dan bergumul dengan dosa, jika itu memberkati orang lain, kita harus percaya bahwa hal itu sekarang sudah menjadi kekuatan bagi kita untuk menjalani hidup. Tentunya kekuatan itu bukan bersumber dari diri sendiri, melainkan hanya dari Tuhan yang berinisiatif memberikannya pada kita.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Jika orang mencemooh karena melihat kekuranganmu, bisa jadi itu karena dia belum melihat kelebihanmu. Demikian pun jika orang memujimu karena kehebatanmu, mungkin saja mereka tidak tahu bahwa kita memiliki kekurangan. Memang benar bahwa tidak ada orang yang sempurna, sekeras apapun kita memperjuangkan idealisme kita, tetapi bukankah jauh lebih indah ketika Tuhan berkenan memakai kita yang tidak sempurna ini sebagai alat untuk memuliakan nama-Nya, melebihi dari yang dapat kita pikirkan?

Apa yang dulunya saya malu untuk akui di hadapan orang lain, sekarang bisa saya ceritakan dengan bebas, karena Tuhan sudah melakukan banyak hal baik dalam hidup saya. Saya tidak tahu apakah ini berlebihan atau tidak, tetapi saya berharap dengan cerita-cerita semacam ini, ada orang-orang dengan kondisi serupa (maupun yang memiliki kisah yang berbeda) bisa dikuatkan.

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER