Behind the Closet

, What's Next, 30 April 2021
Jika kamu membuka "lemarimu", apa yang akan kamu temui di sana? Siapkah kamu membersihkan onggokan sampah di dalamnya bersama Dia yang mahatahu dan mahapeduli itu?

Disadari atau tidak, setiap orang membutuhkan ruang privasi untuk berbagai alasan. Ada yang ingin me-recharge tenaga setelah beraktivitas dan berinteraksi seharian, ada juga yang ingin mengembangkan hobi, bahkan untuk melakukan atau membuka hal-hal tertentu yang tidak diketahui oleh siapapun. Ibarat buku diary yang pernah dimiliki banyak anak pada masanya, kita berusaha menggembok ruang privasi tersebut karena khawatir rahasia kita diketahui orang-orang. Masih mending kalau mereka "cukup tahu", bagaimana kalau kita ditertawakan atau bahkan dikucilkan karena dianggap berbeda?


Minbi ingat ketika masih SD (atau sampai SMP), Minbi pernah menyembunyikan hasil ulangan yang buruk (yang sebagian besar adalah Matematika) ke lemari pakaian. Harapannya adalah agar orang tua tidak tahu dan Minbi bisa bilang kalau Minbi bisa mengerjakan ulangan dengan baik. Sayangnya, sepandai-pandainya menyembunyikan sesuatu, pada akhirnya "bangkai" itu ketahuan juga: hasil ulangan Minbi diketahui oleh Mama, sehingga Minbi dimarahi habis-habisan karena berbohong. Kalau tidak salah, sejak saat itu, Minbi tidak pernah menggunakan strategi itu lagi karena bosan dimarahi dengan topik yang sama. Tenang, Minbi juga enggak bohong lagi, sih karena Minbi enggak mau dianggap jadi orang yang tidak bisa dipercaya.


Dalam salah satu omelan (karena masalah yang lain), mama Minbi pernah kasih ilustrasi ini:

Ya, semakin ingin kita merasa aman, semakin kita ingin menutupi apa yang salah dengan kebohongan-kebohongan yang lain. Itulah sebabnya, salah satu alasan kita cenderung sulit untuk terbuka pada kerapuhan diri sendiri adalah kita tidak siap untuk membuka lapisan-lapisan kebohongan ini satu per satu, berdamai dengan "sisi lain" diri yang sebenarnya, dan memperbaiki mindset yang selama ini salah kaprah. Iya, orang lain bisa saja tidak tahu kedalaman hati kita, bahkan kita juga bisa seperti itu karena justru menghindarinya untuk mengetahuinya, tapi Tuhan tahu. Dia sedang mengulurkan tangan-Nya untuk menemani kita dalam berproses membereskan onggokan-onggokan sampah yang bercokol di dalam "lemari" kita yang terkunci rapat dan bersarang laba-laba itu. Lagipula, mengutip perkataan seorang dosen tamu dari kuliah intensif minggu ini, "Kita tidak bisa mengubah apa yang tidak kita ketahui."


Bagaimana denganmu, wahai Ignite People?

Jika kamu membuka "lemarimu", apa yang akan kamu temui di sana?

Siapkah kamu membersihkan onggokan sampah di dalamnya bersama Dia yang mahatahu dan mahapeduli itu?



Selamat berefleksi, ya,

karena karyamu dinanti untuk memberkati seseorang yang sedang mengalami pergumulan yang serupa.



Dari yang sedang menuju ke minggu-minggu penyaliban ujian,

Minbi

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

SAAT GEREJA “DILARANG” MENGURUSI POLITIKKetika menemukan berita Persekutuan Gereja-Gerej...
by Christan Reksa | 13 Jun 2021

            Di dalam buku nyanyian Kidung Jemaat pada nomor 26 terdapa...
by Christyana Elizabeth Huwae | 13 Jun 2021

Ada orang yang habiskan seumur hidupnyahanya untuk berbuat baik.Lalu khilaf satu kali dan berbuat ke...
by Primaridiana Pradiptasari | 13 Jun 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER