Kamu Memang Dilahirkan Sepi dan Sendiri Ata

Best Regards, Fiction, 28 April 2021
"Mungkin saja kesendirian adalah sahabat pertama manusia yang seringkali dilupakan."

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Tebersit di kepalaku pernyataan yang pernah diungkapkan guruku ketika sekolah dulu. Mungkin saja itu yang dirasakan kawanku saat ini, menangis dan meratap di sebelah nisan kekasihnya. Sudah 1 jam Mona duduk di sana dan menangis, sampai-sampai tak ada lagi air mata yang keluar dari kedua matanya. 

Aku hanya berdiri menemaninya. Namun aku bertanya-tanya, mengapa tangisan Mona begitu derasnya hari ini. Padahal, sekitar bulan lalu kami datang ke rumah duka untuk melayat guru sekolah kami yang meninggal. Mona tidak sehisteris ini, bahkan kami pun masih bisa tertawa lepas di rumah duka. Aku heran, bukankah yang mati pun sama. Ya sama-sama manusia. 

"Apa yang membedakan tangisan seseorang terhadap jasad yang sudah tak bernyawa?", pikirku.

Manusia sepertinya memang makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, ah bukan-bukan. Mungkin lebih tepatnya makhluk yang saling mengikatkan diri satu sama lain. Manusia memang sangat menyukai dirinya terikat, penuh batasan-batasan menyiksa yang seringkali tak disadarinya.

Aku sudah cukup lelah berdiri di sini, angin yang berhembus di sore ini semakin menusuk tulang. Aku menyalakan sigaretku, menghembuskan asapnya bersama dengan alunan angin yang cukup kencang. Asap itu dengan sekejap hilang tercabik angin yang berhembus deras.

"Apakah kehidupan memang demikian, sekejap hilang dicabik oleh kematian?", gumamku.

"Kamu tadi ngomong sesuatu Ata?", tanya Mona dengan terbata-bata kepadaku karena hisak tangisnya.

"Ah, enggak. Ayo pulang, udah mau gelap dan anginnya mulai kencang. Nanti kamu sakit, ayo pulang sekalian kita cari makan malam." jawabku dengan sedikit kaget.

"Tapi nanti Nekro kasian sendirian di sini, kamu tahu sendiri kan dia ini phobia gelap." jawab Mona dengan mesra.

"Sudahlah, dia baik-baik saja. Ayo pulang" jawabku.

Mona pun akhirnya mau, meskipun cukup sulit untuk mengajaknya pergi dari pemakaman ini. Di perjalanan aku masih memikirkan tentang perkataan Mona tadi. "Kasian sendirian, phobia gelap", 

"Hmm bukankah manusia sudah sendiri dan dekat dengan gelap sejak ia di kandungan? Hahahaha tapi kalau kembar enggak juga ya. Tapi bukankah manusia memang sesungguhnya sendiri? Ia sendirian di dalam rahim ibunya, ia pun juga akan sendiri dalam kematiannya", tanyaku dalam hati.

Kepalaku tiba-tiba sakit karena memikirkan hal ini sejak tadi. Aku meminum air dan menyandarkan kepalaku di dekat jendela sembari melihat pemandangan di luar mobil. Mona masih berisak tangis sejak tadi. Entah sampai kapan ia akan begitu.

Mona menyalakan radio, sampai pada saluran khotbah seorang pendeta. Mona memang anak yang cukup rajin jika soal beginian. Mau tidak mau aku pun ikut mendengarkan isi kotbah pendeta ini yang entah siapa tak ku kenal.

"Saudara-saudara, jika engkau merasa sepi dan sendirian. Jika engkau merasa bahwa engkau memikul beban hidup yang begitu berat, engkau merasa tidak ada orang yang peduli dengan hidupmu. Ingatlah, bahwa Tuhan Yesus begitu mengasihi engkau, Tuhan Yesus peduli pada hidupmu, dan Tuhan Yesus tidak akan memalingkan wajahNya daripadamu", ku dengar kalimat ini diucapkan oleh pendeta tadi.

"Hahahahaha, mungkin dia ada benarnya. Mungkin saja Tuhan yang tidak nampak itu memang hadir dalam kesendirian dan kesepian. Mungkin saja kesendirian adalah sahabat pertama manusia yang seringkali dilupakan". gumamku dengan sedikit tertawa.


LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER