Ketika Kita Merasa Tidak Berharga....

Best Regards, Live Through This, 02 April 2021
Memang, keberhargaan kita tidak tergantung orang lain karena Tuhan bilang kita berharga. Tetapi apakah kita bisa hidup selamanya dengan orang yang memandang kita tidak berharga? Menikah dengannya?

MINDFULNESS.

Disadari atau tidak, kita sering melupakan hal ini. Kita hadir, ada bersama orang yang kita sayangi, tapi pikiran kita entah ke mana. Namun kalau mau jujur, setiap kita setidaknya mempunyai satu-dua pengalaman ketika diri kita tidak bisa benar-benar be present pada momen-momen. Misalnya ketika kita sedang mengalami pergumulan atau rasa sakit yang sangat dalam. Jujur saja di saat seperti itu, pikiran kita pasti melayang hanya memikirkan rasa sakit dan jalan keluar.

Beberapa tahun yang lalu, ketika putus dengan pacar saya, saya mengalami masa-masa yang sulit. Beberapa bulan rasanya saya tidak bisa be present. Setiap hari, yang saya rasakan hanyalah kesedihan dan rasa sakit. Saya tidak menyesal hubungan saya berakhir, tetapi saya merasa sangat sakit dan terluka. Merasa mengasihani diri sendiri. Merasa bersalah sama diri sendiri. Saya pun berpikir, "Kenapa ya, selama ini aku membiarkan diriku sendiri terluka? Kenapa aku mengizinkan seseorang yang tidak pantas untuk memperlakukanku seenaknya? Kenapa aku membawa diriku sendiri ke dalam pencobaan semacam ini? Kenapa aku tidak meninggalkan dia lebih awal? Kenapa harus menunggu sampai semua hal ini terjadi?"

Berbagai pertanyaan dan perasaan-perasaan buruk terhadap diri sendiri pun muncul. Saya tidak ingin merasakan itu, tidak ingin berada di posisi itu, tetapi nyatanya rasa itu nyata dan muncul bahkan di saat saya tidak memikirkannya. Rasa sakit itu seperti candu yang menuntut untuk minta dirasakan.


Photo by Andrey Zvyagintsev on Unsplash  

Saya merasa sangat tidak berharga, karena seseorang yang saya cintai, yang bersamanya saya telah merencanakan pernikahan (yang tentu saja seharusnya dia menganggap saya berharga) ternyata justru memperlakukan saya dengan buruk. Memang benar bahwa keberhargaan kita tidak tergantung orang lain karena Tuhanlah yang membuktikan betapa berharganya kita (pengurbanan-Nya di kayu salib sudah lebihd dari cukup untuk menjadi bukti). Masalahnya adalah... apakah kita bisa hidup selamanya dengan orang yang memandang kita tidak berharga? Menikah dengan orang seperti itu?

Di masa duka itu, saya bisa terbangun tengah malam dan menangis. Di saat sedang kumpul-kumpul, saya bisa bengong sendiri. Di satu sisi, saya sadar bahwa saya harus melanjutkan hidup. Jadi, dengan segenap tekad dan kemampuan yang masih tersisa, saya berusaha untuk being mindful. Saya memaksa diri saya untuk be present. Banyak hal yang saya lakukan, meskipun tidak dengan serta-merta keadaan langsung membaik. Ternyata sekadar tekad saja tidak cukup untuk membangun mindfulness.

Dalam masa seperti itu, beberapa hal yang saya lakukan adalah saya banyak curhat dengan orang yang saya percayai tentang apa yang saya rasakan. Meski harus berlinang air mata setiap kali menceritakannya, tetapi pada akhirnya lama-lama rasa sakit itu berkurang. Saya juga memberi waktu pada diri saya untuk merasakan semua rasa sakit. Ketika rasa sakit itu kembali datang, saya tidak buru-buru menepisnya tetapi mengizinkan diri saya menangis dan merasakannya.


Photo by Fa Barboza on Unsplash  


Ada malam-malam saya berdoa dan benar-benar berserah. Saya bilang pada Tuhan, "Iya Tuhan, benar bahwa saya diperlakukan seperti ini, saya menerima itu. Semua hal yang dilakukan A, B, C saya menerima itu sebagai suatu kenyataan yang memang terjadi dan itu semua menjadi masa lalu."

Ada kalanya kata-kata tidak harus terucap dari hati yang sedang terluka, tetapi kita membutuhkan momen untuk tunduk di hadapan Tuhan dan berkata bahwa kita memerlukan Tuhan untuk melalui badai hidup ini. Itu hal yang sulit, lho, ketika saya menyadari dan menerima bahwa memang ini bukan mimpi dan semua peristiwa menyakitkan itu nyata adanya. Semua hal yang tidak menyenangkan itu saya alami, dan pada momen-momen dari membangun mindfulness seperti itu membuat saya mulai pulih secara bertahap.

Ketika kita masih tidak rela melepaskan seseorang, dan sulit menerima keadaan bahwa dia telah menyakiti hati kita, semakin dalam pula luka yang ditorehkan.

Selain menceritakan pengalaman menyakitkan tersebut dan memperbarui cara pandang saya, saya juga mulai menjadikan postcrossing sebagai hobi baru saya. Enggak banyak yang bisa aku ceritakan sih, tentang ini. Intinya, Ignite People, carilah hobi atau kegiatan baru yang membantu kalian untuk bisa melatih mindfulness dan mengalihkan perhatian tidak lagi ke rasa sakit atau masa lalu, namun memulihkan diri untuk menyongsong masa depan bersama Tuhan.

Apapun hal yang membuat kita tidak bisa be present saat ini, kiranya Tuhan akan menolong kita melaluinya, ya. Jangan lupa untuk datang pada-Nya dan menyerahkan semua beban kita di bawah kaki-Nya. Dia bukan Tuhan yang jauh dan yakinlah kita bisa menemukan kelegaan di dalam Dia.

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER