Pacaran Sesama Aktivis? Tidak Semudah Itu!

Best Regards, Live Through This, 21 November 2019
"Asiknya pelayanan bersama pacar.... Sudah seiman se-gereja pula... Terus memuji dan menyembah Tuhan bersama-sama"

Kalian pasti pernah dengar ucapan-ucapan di atas, atau mungkin kalian juga berharap untuk bisa berpacaran dengan sesama aktivis, bahasa simple-nya, ‘rekan sepelayanan’ di gereja. 

Bisa dibilang pacaran sesama aktivis itu impian banyak pemuda-pemudi Kristen. Dikatakan impian karena sudah pasti dapat pasangan yang seiman, sudah pasti bisa bareng dalam pelayanan, kalau nanti nikah pun tidak perlu repot karena gerejanya juga sudah sealiran. Tinggal bilang majelis langsung katekisasi nikah aja, gak perlu ribet. Saya pribadi pun mengharapkan sosok pasangan yang bisa diajak jadi aktivis dan bergereja bersama juga nanti. 

Rasanya sah-sah saja menginginkan future wife atau future husband kita itu aktivis pelayanan di gereja. Tidak ada yang berhak melarang kita ingin suka dan jatuh cinta kepada siapa. Tidak ada yang salah kok pacaran dengan anak gereja, sudah kenal baik dan seiman pula, menyembah Tuhan dengan cara yang sama. Mungkin juga untuk sebagian orang yang cukup strict dengan denominasi gereja sampai akan berpikir “Jika nanti berumah tangga... ya, tinggal dididik dengan cara gereja kita. Bergandengan tangan dengannya sambil memuji Tuhan adalah hal yang terindah di dalam hidup kita.”

 

Tapi… 


Kita lupa akan satu hal, bahwa seiman pun belum tentu sepadan. 

Saya tidak menganjurkan untuk pacaran beda keyakinan. 

Tetapi kalau itu pilihan Anda, saya hargai itu dan Anda boleh skip artikel ini. 

Seiman saja belum tentu sepadan, satu gereja pun visi misi hidupnya berbeda. Teman sepelayanan ikut melayani di gereja juga punya motivasi yang berbeda. Apa yang kalian harapkan? Apakah kalian juga mampu menjadi pasangan bagi future husband or wife kalian?

Hal yang ingin saya garis bawahi di sini adalah, jangan jadikan kegiatan pelayananmu sarana untuk mencari jodoh atau bahasa gaulnya don’t use your ministry to impress your crush. Kalau itu sih bukan pelayanan, tapi BUCIN (alias Budak Cinta) namanya. Memang sulit rasanya fokus pelayanan di saat kita sedang kasmaran, hati ini rasanya seperti berbunga-bunga. 

Contohnya:

Terima kasih ya Tuhan gue tugas sama si dia jadi prokantor bareng. Ganteng banget dia hari ini, Ya Tuhan


Gais, walau mungkin terdengar lebay, tapi fenomena ini sering kali terjadi di lingkungan gereja. Saat hati kita berbunga-bunga karena kasmaran, kita menjadi gagal fokus dalam pelayanan kita kepada Dia (Tuhan) dan malah jadi melayani dia (gebetan) dan emosi kita. Pada fase ini, kita lebih sering menggunakan emosi pribadi kita dalam pelayanan sehingga melupakan prioritas dan kesadaran akan fokus pelayanan yang benar. Kita bisa saja berkata “Aku cinta Dia” tapi dalam hatinya “Aku cinta dia”. Di tahap ini pelayanan kita menjadi tidak sehat. Jika sudah begini akan berakhir bagaimana? Sia-siakah semua? Atau jadi #SobatAmbyar’kah kita?

Saya pernah ada di tahap dimana diri saya memaksakan kehendak untuk dekat dengan mantan pacar saya saat itu. Singkat cerita, pacaran kudus yang awalnya diinginkan malah menjadikan saya bucin karena gagal fokus saya dibuatnya. Pelayanan hanya digunakan untuk memuaskan ego semata untuk membentuk image #CoupleGoals atau “religius” atau label-label lain yang saya inginkan saat itu. 

Puji Tuhan, saya diberi kesempatan untuk mengakhiri hubungan tersebut, karena saat itu Tuhan dikesampingkan. Hubungan penuh kepura-puraan bahwa anak gereja dan aktivis pelayanan itu pasti anak baik-baik. Bahkan ‘ditembak’ di gereja tepat di hadapan-Nya tidak menjadi jaminan bahwa hubungan akan bertahan lama. Satu hal yang saya sadari, Tuhan teramat menyayangi saya sehingga Ia sangat peduli ketika hubungan saya menjadi tidak sehat. Mungkin cerita saya ini hanya sebagian kecil dari cerita #SobatAmbyar di gereja.

 

Tetapi ada juga teman-teman yang berhasil untuk pacaran dan berkembang bersama sambil tetap memprioritaskan diri kepada Tuhan. Saya akui mereka inilah orang-orang hebat dan kuat yang dapat memegang komitmennya, karena pacaran adalah sebuah komitmen, bukan untuk main-main dan bukan untuk anak kecil. Ada juga pasangan yang sudah putus tetapi tetap setia dengan ibadah dan pelayanannya karena mereka sudah memiliki intimate relationship with GOD sebelum bersama pasangannya. Ingatlah bahwa cinta bukan hanya tetang ‘kita mengasihi dia dan Dia’ tetapi jangan lupa bahwa Dia yang sudah mengasihi kita terlebih dahulu.

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

1 Yohanes 4:10

Sebelum menjadi #SobatAmbyar di gereja masing-masing. Mari kita renungkan lirik lagu berikut:

Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan
Bila tiada rela sujud dan sungkur
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan
Bila tiada hati tulus dan syukur
Ibadah sejati, jadikanlah persembahan.
Ibadah sejati: kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.

PKJ 264 - Apalah Arti Ibadahmu?

Lirik lagu di atas yang biasa kita dengar sewaktu Sekolah Minggu cukup menggelitik kita untuk merenung akan pelayanan kita di gereja. Apakah motivasi kita melayani di gereja sudah benar? Sudah benarkah cara kita menggunakan talenta yang Tuhan titipkan untuk kita di dunia ini? Sudah benarkah kehidupan kita di luar gereja? Sudah tuluskah kita melayani? Siapakah fokus kita dalam pelayanan? 

“Jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan” 

Sebagian kecil dari penggalan lagu di atas adalah bagian yang paling menyentil. Banyak contoh cerita Alkitab yang menggambarkan penggalan lagu tersebut. Mungkin sering juga kita dengar pendapat begini, “Bagaimana mencintai Tuhan kalau mencintai yang fisiknya ada saja tidak bisa?” Saya tidak bilang itu salah tetapi ada hal yang perlu kita perhatikan. 

Maka sebelum kita membangun komitmen, terutama dalam berhubungan dengan seseorang yang kita kenal di lingkup gereja. Ada baiknya kita membangun kasih kepada orang tua kita terlebih dahulu. Seburuk-buruknya orang tua kita, mereka tetaplah orang yang membesarkan kita. Jika sulit untuk memulai dengan orang tua, baiklah kita membangun kasih dengan saudara kita. Mengapa demikian? Karena bagaimana kita memperlakukan orang tua dan saudara kita, juga akan menjadi cerminan perlakukan kita ke pasangan nanti.

Jadi daripada menjadi BUCIN, yuk kita berbenah diri dan jadikan pelayanan kita sebagai kesaksian hidup kita kepada orang lain untuk mengenal Kristus.

LATEST POST

 

“How Can I Keep From Singing” Merupakan sebuah himne yang kemungkinan besar dikarang ole...
by Eka Gilroy Kharis | 26 Sep 2020

"Play with Life" merupakan tagline yang saya baru tahu dari life simulation game kesu...
by Eveline Meilinda | 26 Sep 2020

Family Drama – tidak dipungkiri bahwa ini merupakan hal yang sudah pasti ada dalam setiap kelu...
by Monica Petra | 26 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER