Sisi Lain Keresahan di Tengah Pandemi

Best Regards, Live Through This, 03 August 2020
“Ya Tuhan....... Sebelum ada Covid19 saja kita sudah punya kekhawatiran yang menimbulkan keresahan, apalagi ada Covid19!”

Mungkin itulah salah satu dari sekian banyak kalimat yang kita ucapkan dalam situasi yang cukup sulit seperti sekarang. Kita tentunya menyadari bahwa keadaan hidup kita di masa pandemi ini cukup sulit dan berat. Banyak orang yang resah dan mengeluh akan kondisi seperti ini. Ini menandakan bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh dan kita harus mengakui itu.

Berbicara tentang sebuah keresahan, pasti semua orang pernah megalami keresahan. Sebelum masa pandemi, saya yakin kita semua sudah mengalami banyak sekali keresahan, mungkin masalah keluarga, pekerjaan, sekolah, asmara, keuangan, dan lain sebagainya. Ditambah lagi dengan adanya masa pandemi yang membuat kita semakin resah dan kehidupan menjadi semakin sulit & tidak jelas.

Banyak orang kehilangan pekerjaan, gejolak  perekonomian yang carut-marut, kehidupan menjadi terbatas, kehilangan waktu bersama teman-teman, sanak saudara, ketakutan muncul dimana-mana dan lain sebagainya. 

Sebagian besar kita mungkin memandang keresahan dalam sisi negatif nya saja. Tapi, coba kita perhatikan,

(1 Korintus 10:13), “Pencobaan-Pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah adalah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya"

Ini menandakan bahwa setiap masalah termasuk keresahan mempunyai jalan keluar dan terdapat pelajaran yang dapat kita ambil didalamnya. Bahkan, kalau kita menghayati lebih dalam tentang sebuah keresahan ternyata terdapat sisi positifnya, apalagi dalam kehidupan di masa pandemi seperti ini. 

Lalu apa saja sisi positif dalam suatu keresahan?


Menghayati Arti Sebuah Keluarga

Masa pandemi seperti ini membuat banyak orang harus tinggal di rumah dan menghabiskan banyak waktu di rumah. Keadaan seperti ini pasti membuat kita cukup resah, mengeluh, dan stres, karena aktivitas kita terbatasi. Tapi coba kita lihat dari sisi lainnya. Dengan keadaan yang membuat kita harus tinggal di rumah dalam waktu yang lama, membuat kita memiliki lebih banyak waktu dengan keluarga yang mungkin selama ini terabaikan. Ungkapan “Time is Money” menunjukan bahwa sangat berharganya waktu. Dengan adanya waktu bersama keluarga ini kita diajak untuk mengahayati bahwa waktu untuk keluarga itu sangat berharga dan jarang-jarang kita bisa mendapatkan waktu ini sebelum masa pandemi karena kita sibuk dengan rutinitas kita masing-masing, entah itu urusan pekerjaan, sekolah, kuliah dan lain sebagainya. Dengan adanya pandemi ini kita juga harus bersyukur karena kita bisa memliki waktu lebih banyak dengan keluarga, bisa saling sharing dan menguatkan dalam satu keluarga. Keluarga adalah harta yang paling berharga. Selagi kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan, sudah selayaknya kita menyediakan waktu untuk keluarga kita.


Sebagai Sarana Untuk Berbagi

Masa pandemi membuat banyak perusahaan terpaksa melakukan PHK massal yang membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan mengalami keresahan. Di masa seperti ini kita diajak untuk berbagi dengan sesama kita. Lalu muncul sebuah pernyataan, “Bagaimana saya bisa membantu sesama di situasi seperti ini? Saya saja juga kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup saya dan keluarga di masa pandemi seperti ini.” Takut untuk hidup dalam kekurangan dan kesulitan sering muncul di pikiran kita. Hal ini membuat kita menjadi egois dan mementingkan diri sendiri. Padahal Tuhan Yesus sudah mengajarkan kita tentang apa itu arti ketulusan dan memberi dari kekurangan. 

(Lukas 21:4) “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya”. 

Memberi dari kekurangan kita bukan berarti kita akan langsung hidup susah. Tetapi dengan memberi dari kekurangan kita menghayati suatu makna bahwa berkat Tuhan selalu melimpah dalam hidup kita, dan Tuhan pasti selalu mencukupkan segala kebutuhan kita. Sekecil apapun bantuan yang kamu berikan kepada orang lain, itu sangat berarti. 

Di Jogja, ada seorang yang bernama Rinno, ia berprofesi menjadi badut yang mencari nafkah di jalan. Ia hanya berpenghasilan Rp 20.000 per hari tetapi ia bisa memberi makan anak, istri, dan juga 300 ODGJ yang ada di panti. Ia bahkan menggadaikan harta benda miliknya untuk memenuhi kebutuhan di panti. “Berbagi itu nggak ada ruginya, nggak bikin kita jadi miskin,” pungkasnya. Berbagi tidak harus menunggu ketika kita punya sesuatu yang lebih, tetapi dengan apa yang kita punya sekarang kita dapat menjadi berkat untuk sesama kita. “Semoga kita senantiasa berbagi dengan sesama, bahkan saat kita dalam keadaan kekurangan.”


Saling Melindungi dan Menjaga

Keresahan tidak hanya dialami oleh kita yang hanya diam di rumah, yang kehilangan mata pencaharian dan kesulitan dalam perekonomian. Tetapi, keresahan ini juga dialami oleh para tenaga medis yang setiap hari harus siaga 24 jam dalam menangani pasien akibat Covid19. Kita harus menyadari betapa pentingnya peran tenaga medis ini. Menolak tenaga medis yang pulang ke rumah atau kos adalah sebuah kesalahan. Permasalahan Covid19ini tidak akan berakhir apabila kita saling menyalahkan dan menolak satu sama lain. Situasi seperti ini harusnya membuat kita sadar bahwa menjaga dan melindungi sesama adalah hal yang paling penting dalam situasi saat ini. Contohnya kita harus memakai masker, selalu mentaati protokol kesehatan, dan mentaati himbauan lain lain yang asalnya dari pemerintah & untuk kebaikan kita bersama tentunya . Dengan begitu kita sudah melindungi diri kita, keluarga kita, dan tenaga medis yang setiap hari harus menerima pasien yang masuk ke rumah sakit akibat Covid19. Oleh karena itu, mejaga dan melindungi satu dengan yang lain yang paling utama dan paling penting dalam situasi pandemi ini.

Keresahan tidak selalu punya dampak yang negatif untuk kehidupan kita, jika kita mau melihat dari sisi yang lain. Pasti ada pelajaran yang dapat kita ambil dari suatu keresahan. Dengan adanya keresahan kita harus mengakui bahwa kita manusia yang rapuh dan lemah. Tanpa Tuhan kita seperti sekam yang ditiup angin. Tanpa Tuhan kita lemah. Tuhan adalah sumber pengharapan & kehidupan kita. Ia selalu menyertai kita dalam situasi senang bahkan sulit sekalipun. Jika burung pipit dan bunga bakung saja dipelihara, apalagi kita, anak-anak yang dikasihiNya


Stay Safe and Keep Healthy! God Bless You!



LATEST POST

 

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Ethan Winters dan Mia baru saja memulai hidup barunya yang tentram dan damai bersama Rosemary, bayi...
by Olyvia Hulda | 23 May 2024

Respons terhadap Progresive ChristianityIstilah progresive Christianity terdengar belakangan ini. Ha...
by Immanuel Elson | 19 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER