Ketika Tuhan Serius dan Saya Main-main

Best Regards, Live Through This, 29 May 2020
Sampai kapan kita jadi anak kecil?

         Lelah tidak, bila kamu mengasuh anak kecil yang nakalnya aktifnya minta ampun? Terkadang, orang yang terkenal sabar pun bisa kehabisan akal ketika mencoba untuk mengasuh, mendidik, atau berinteraksi dengan si kecil yang mungkin cukup aktif itu. Iya, tentu tidak mudah, butuh kesabaran yang ekstra. Kamu bisa membayangkan ada di situasi itu, gak? Ah, sebenarnya sih gak perlu dibayangkan. Sering, kita adalah anak kecil yang terlalu aktif dan banyak tingkah di hadapan Dia, Penjunan yang berkuasa.

          Punya banyak keinginan dan kesukaan sendiri tidaklah asing dari anak-anak. Anak-anak memang lucu, tapi kalau kita masih seperti mereka di usia yang tidak lagi muda, tidak lagi lucu bukan? Suka atau tidak, patut kita akui bahwa anak-anak belum sanggup serius memikirkan beban orang dewasa, tanggung jawab yang dimiliki, hingga segala beban (salib) sendiri yang harus dipikul. Wajar memang ada dalam state itu kalau kita masih anak-anak. Hanya saja, saya cukup yakin bahwa yang membaca tulisan saya ini kemungkinan besar bukan lagi anak-anak (kalau kamu anak-anak, welcome!). Ehehe, rela atau enggak nih untuk mengakui bahwa kadang kita masih suka kekanak-kanakan?

         Kenapa ya, sulit sekali memikirkan dan memiliki hidup yang menunjukkan kalau kita mengasihi Tuhan? Hidup yang didasari oleh kedewasaan dalam berpikir dan bersikap; hidup yang tidak egois dan memikirkan tentang kepentingan diri sendiri; hidup yang tidak lagi menyakiti Tuhan dengan dosa dan segala hal meleset dalam cara pikir, tutur kata, dan laku hidup; hidup yang .. ah sudahlah. Susah, sangat susah. 


Photo by Andrew Butler on Unsplash 

            Kalau dipikir-pikir, kenapa ya? Ya sebenarnya, hati nurani kita bisa jujur, selagi kita masih membaca tulisan ini, saya mengasumsikan kalau masih ada niat untuk belajar dan berubah. Ya, kalau boleh jujur, jangan marah ya, kita masih egois. Kita masih punya keinginan sendiri yang tidak kita tanyakan ke Tuhan, boleh atau enggak, atau sesuai dengan mau-Nya atau enggak. Kita masih mau untuk memiliki hidup kita sendiri, padahal jelas-jelas kan Alkitab bilang kalau kita sudah ditebus. Barang yang digadai, kalau sudah ditebus ya berarti sudah lunas dan tidak ada utang lagi! Tuhan sudah memiliki kita, hukumnya demikian. Tapi, apa faktanya? Kita menolak Tuhan menjadi pemilik hidup kita.

              Jujur ya, seharusnya kalau seseorang punya satu barang, ya suka-suka dia mau melakukan apa dengan barang itu. Nah kita? Mengaku dimiliki Tuhan tapi hidup suka-suka sendiri. Kalau bisa kasar, saya mau bilang kalau saya dan mungkin kamu yang ada di posisi ini, kita malfunction! Kita menabrak sistem/tatanan yang seharusnya. Kita itu kalau diibaratkan dengan smartphone, orang yang memiliki kita maunya kita membuka aplikasi Alkitab, eh kita malah buka TikTok!

            Sedih gak? Kalau saya sedih. Sedih karena saya sulit untuk menyadari hal ini. Saya sedih karena saya sering tidak serius menghadapi kondisi ini. Seumur hidup sudah ribuan khotbah sudah didengar tapi cara hidup masih ... ah sudahlah, tidak perlu dijelaskan. Intinya seperti ini. Asal tau aja, kita ini sangat mungkin orang-orang yang tidak jahat, ya mungkin juga bisa dibilang baik sama orang sekitar. Tapi, apa arti semua itu ya kalau kita masih saja hidup untuk kesenangan sendiri? 


Photo by NeONBRAND on Unsplash 

          Sebut saja dosa. Ah, betapa banyak dosa kita kubur dalam kesunyian dan disembunyikan di balik selimut kemunafikan? Betapa banyak kesalahan yang kita buat berakhir dalam doa yang sekadar formalitas, "Saya minta maaf, Tuhan," tanpa kita benar-benar serius berkeinginan untuk tidak lagi melakukan yang sama dan jatuh lagi? "Ah, gak papa jatuh lagi, Tuhan Maha Mengampuni," dalih kita. Hehehe, Tuhan Maha Mengampuni itu jangan lagi diragukan. Tapi apa iya, orang Kristen yang benar akan pakai pembelaan tersebut untuk menyembunyikan diri dari murka Tuhan, dan di balik itu kita terus berdosa? Kita menganggap pengorbanan-Nya jadi alasan untuk main-main dengan dosa ya? Sedih ya. 

           Hal ini sebenarnya membuktikan kalau kita itu manusia yang sangat rapuh. Sangat mudah jatuh dan lari dari Tuhan. Kita manusia yang terlalu mudah untuk meleset dari maksud Tuhan dalam hidup kita. Orang-orang yang serius tentu tahu betapa sukarnya berubah (saya tidak mengatakan bahwa saya sudah serius :(, setidaknya banyak orang yang serius menyaksikan begitu). Alkitab sendiri menyaksikan, kalau orang benar saja hampir-hampir tidak diselamatkan, bagaimana mereka (atau kita!) yang masih terus-menerus merasa wajar dan biasa saja dengan hidup yang terus berdosa!

        Sungguh betapa sabarnya Tuhan, tidak terukur kesabaran-Nya. Bila napas masih terhela, kesempatan masih ada. Bertobat nanti bukanlah pilihan, sebab kita tidak tahu akankah kita masih hidup dalam "nanti" itu. Kita mungkin bisa mati kapan saja, sebab berusia tua bukanlah syarat kematian bukan? Betapa Tuhan serius dengan keselamatan kita! Yuk, kita melangkah dari masa lalu (maksudnya fokus ke masa depan!). Yuk, kita bertobat, meski tidak mudah, jatuh-bangun, tapi jangan lelah berjuang! Kita bukan lagi "kekanak-kanakan" sejak memutuskan menjadi Kristen, sebab hidup dewasa yang benar dalam segala kelakuan adalah "jalan ninja" kita, orang-orang pilihan. 

Yuk dewasa dan serius memikirkan kehendak Tuhan, tanggung jawab yang  kita miliki, hingga segala beban (salib) yang harus dipikul.


Iya, gak mudah, tapi yuk semangat!

LATEST POST

 

            Pastinya sebagian dari kita sering mendengar atau mel...
by Eva Chrisviana | 30 Nov 2020

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER