Belajar Kasih dari Mbah Uti yang Ingin Belajar Menggunakan Gawai

Best Regards, Live Through This, 27 May 2020
Kita bertanggungjawab akan apa yang kita lihat, kita dengar, dan bagaimana kebijakan kita dalam menggunakan apa yang kita miliki, dapatkah digunakan untuk memuliakan nama Tuhan?

Pandemi ini membawa dampak signifikan untuk penggunaan media sosial di masyarakat. Salah satu yang sangat terdampak adalah mbah uti saya - mbah uti dalam bahasa Indonesia artinya nenek. Mbah uti yang biasa saya panggil “uti”, saat ini berusia 72 tahun. Akhir-akhir ini, uti sering bercerita kepada saya kalau beliau mau membeli gawai supaya bisa mendengar kotbah dan menyetel pujian gereja. Awalnya, saya berpikir berulang kali untuk menyetujui ide tersebut. Akan tetapi, melihat kondisi saat ini, di mana segala pelayanan ibadah dilakukan secara daring, meskipun area rumah saya di pedesaan, saya akhirnya mengiyakan ide tersebut. Awal-awal, uti sendiri masih ragu untuk membeli gawai, takut tidak bisa, susah nuthul-nuthulnya katanya. Tetap saja, uti memberanikan diri untuk beli, hanya karena ingin mendengarkan puji-pujian gereja di rumah, dan biar bisa video call sama anak-anak atau cucu-cucu yang lagi jauh di luar kota selama masa pandemi Covid ini, apalagi kalau saya kembali lagi ke tempat studi, nanti tidak tahu pinjam gawai siapa untuk dengar-dengar pujian.

Singkat cerita, setelah gawai tersebut terbeli, uti langsung meminta diajarkan untuk video call om saya yang sedang berlayar di Malaysia, kemudian video call ibu yang berada di kecamatan lain. Di usia yang melebihi setengah abad, melihat uti yang bahagia sekali bisa menggunakan gawai untuk menelepon anak-anaknya adalah sukacita buat saya. Dalam benak saya, penghiburan di usia tua itu indah, apalagi kalau uti bisa berhubungan lancar dengan anak cucu.

Setelah belajar video call, uti mulai meminta saya untuk diajarkan mencari pujian-pujian di Youtube. Berulang kali gerakan tangannya masih kaku dalam memainkan layar gawai, dan sekalipun memori ingatannya yang sudah mulai berkurang, itu tidak mengurungkan niatnya untuk bolak-balik mengoperasikan Youtube. Walaupun sejujurnya, kadang saya jengkel karena uti mudah lupa apa yang diajarkan, sampai-sampai saat saya mandi pun, uti teriak-teriak memanggil nama saya dan menggendor pintu kamar mandi, lalu menyodorkan gawai lewat bawah pintu kamar mandi karena lupa tombol apa yang digunakan untuk mematikan panggilan Whatsapp saat menelepon ibu.

Akan tetapi, melalui mbah uti saya belajar, kalau usia bukan penghalang kita untuk belajar, apalagi belajar untuk terus mengenal Tuhan. Dengan zaman yang terus melaju, era yang terus berubah, dan manusia yang sering digiring untuk mengikuti kemajuan teknologi, kita harus terus bergerak, mengenal Tuhan lewat media yang sudah Tuhan izinkan untuk dipakai dan bertanggung jawab dalam memakainya. Kesediaan diri untuk mau belajar, juga membuat saya menyadari bahwa kita bisa mengetahui banyak hal yang sebelumnya belum pernah kita bayangkan.

Mbah uti yang setiap hari bekerja sebagai petani, di mana setiap pagi mengawali hari dengan masak, lalu ke ladang belakang rumah sampai sore (karena terkadang merasa bahwa yang bisa menghibur diri adalah bekerja di ladang), dan malamnya menonton televisi, saat ini mengubah beberapa kebiasaannya dengan masak di pagi hari sambil mendengarkan pujian, lalu ke ladang sampai siang hari, kemudian menonton kotbah di Youtube diselingi dengan menonton televisi, lalu mendengarkan kotbah lagi di Youtube sebelum tidur. Dari kebiasaan tersebut juga menyadarkan saya, bahwa tanggung jawab dalam penggunaan gawai yang dipercayakan kepada kita saat ini bukan tanggung jawab yang sederhana. Kita bertanggung jawab akan apa yang kita lihat, kita dengar, dan bagaimana kebijakan kita dalam menggunakan gawai yang kita miliki, dapatkah digunakan untuk memuliakan nama Tuhan?

"Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

1 Korintus 10:31

Hal lainnya yang saya pelajari selama saya berbagi dan mengajarkan mbah uti cara untuk mengoperasikan gawai adalah perasaan jengkel yang membuat saya mengulang-ulang hal yang menurut saya mudah, tapi menurut mbah uti itu bukan hal yang awam. Ini mengingatkan saya tentang bagaimana dulu saat saya kecil. Seringkah mbah uti atau orang tua saya jengkel dengan saya karena ingin belajar hal-hal yang awam bagi mereka, namun tidak bagi saya? Atau bagaimana nanti saya di masa depan, apakah anak dan cucu saya juga akan mengajarkan saya hal yang awam bagi mereka, tapi tidak bagi saya, karena kemajuan teknologi yang tidak bisa saya ikuti? Saya rasa, kalau bukan karena mereka mengasihi saya, dan ingin saya lebih berani dalam menjalani hidup di dunia, mereka tidak akan mengajarkan hal-hal yang tidak saya ketahui kepada saya.

Saat ini ketika saya menuliskan cerita ini, saya juga menyadari bahwa kasih itu berdampak. Kasih yang dulu mbah uti berikan kepada saya saat saya tidak mengerti banyak hal, tapi karena kasih itu, beliau mau mengajarkan hal-hal yang tidak saya ketahui dengan penuh kesabaran. Hal itu memberikan dampak kepada saya untuk mengasihi beliau yang secara usia tidak terhitung sedikit lagi. Walaupun saya masih sering gagal dalam mengasihi beliau, namun saya terus teringat akan kasih Kristus bagi hidup saya. Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

Soli deo gloria!

LATEST POST

 

Hai Ignite People!Sebagian dari kita mungkin ada yang masih belajar di sekolah atau di kampus, dan s...
by Verry Yovelin | 02 Aug 2022

Beberapa kali orang tuaku pernah bercerita waktu masih balita, aku pernah hampir kejatuhan vas belin...
by Regina Megumi | 02 Aug 2022

Doa memang cukup kita ucapkan, namun terkabul atau tidaknya kita tidak ada yang tahu. Yang jelas, da...
by Willi Bordus Bayu Setiawan | 23 Jul 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER