Guardians of Galaxy, ESOTSM, dan Belajar Memaafkan (Part 2)

Best Regards, Live Through This, 19 May 2020
Thing's aren't black and white with you. Depending on the situation, you adapt. You're a survivor and will struggle to get what you want But that doesn't mean you don't have heart. - Yondu Udonta

Di artikel sebelumnya kita sebenarnya dikenalkan oleh sebuah faktor kunci dalam 3 hal penting untuk mewujudkan "maaf". Nazi Jerman dan "banality of evil" (kejahatan yang dianggap normal) mewakili fase awal untuk memaafkan yaitu mengakui kesalahan "Admittance". Untuk keluar dari kegelapan, kita harus pertama mengakui bahwa kita ada di dalamnya. 

Kini kita akan mengulas "Acceptance" dan "Forgiving"


Should We Forgive? Should We Forget?

Seorang filsuf bernama Catherine Malabou pernah menulis dalam bukunya berjudul “What Should We Do With Our Brain?” tentang hal ini. Ia menuturkan bahwa dunia kita sekarang menuntut kita untuk menjadi fleksibel, bila kita terluka, ya kita harus bisa bertahan dan tetap produktif. Bila kita sedih, maka kita harus bisa langsung melupakan dan kembali bekerja. Hal inilah yang menjadikan banyak orang meski memiliki harta yang cukup, namun kesulitan membina hubungan dengan orang lain atau menyembuhkan diri dari luka masa lalu. Kita dilatih bukan untuk mengobati luka tapi melupakannya. "oh itu bagian dari masa lalu", kiranya mengecilkan rasa menjadi sekedar pengalaman, bukan pembelajaran. 

Membaca buku Malabou, membuat saya terpikir: Mungkin alasan utama kenapa kita depresi di abad 21 yaitu kita kehilangan kontrol akan diri kita. Karena dunia yang menuntut kita untuk fleksibel dan terus menyesuaikan diri. Depresi adalah ketika kita dikontrol oleh luka batin.  Ini tentu bukan salah orang yang mengalami depresi, namun kita dapat berjuang untuk mengontrol diri kita kembali untuk mengembalikan keseimbangan mental kita.

Namun, kamu sebagai pihak yang terluka punya seluruh kewenangan di dunia untuk melupakan orang yang menyakitimu dan menghapus jejak mereka dari hidupmu. Penulis yakin karena banyak orang justru dapat menikmati hidup dengan cara itu. Ada orang-orang yang terlalu menyakitkan dan mengganggu yang menjadi "kanker dalam hidup kita". Kembali ke orang Yahudi, beberapa orang tentu hingga akhir hayat tidak ingin bertemu atau berteman dengan orang Jerman. Bukan karena mereka rasis, tapi karena rasa sakit terlalu dalam dan nyata sehingga mereka tidak dapat membuka diri kembali.

Hal yang perlu diingat sebagai orang Kristen adalah menerima fakta bahwa orang yang menyakitimu dapat berubah dan menjadi lebih baik. Mereka tidak perlu menjadi bagian dari hidupmu namun kamu pun sebaiknya tidak menghalangi mereka untuk menjadi diri mereka yang baru di dunia mereka sendiri. Sementara untukmu, tetaplah berusaha mengobati luka lama dan gunakan hal itu untuk jadi lebih baik kembali.


Kesempatan Kedua atau Hidup Baru?

Oke, di judul ada kata “Guardians of The Galaxy” tapi kok bahasnya Nazi Jerman sih? Terus katanya memaafkan, kok poin ini ga dibahas-bahas? Gue kira ini bakal jadi sharing mewek ala-ala begitu. Wah tidak begitu Ferguso. Nah sekarang, mari kita ngobrol tentang Guardians of The Galaxy (GoTG).

Buat gue, GoTG itu unik karena ceritanya tanpa sadar sebenarnya membahas tentang “keluarga” dan konflik batin. Secara spesifik, gue belajar bahwa “cutting someone out of your life” is not necessarily permanent.

Gue bukan bikin tulisan ini sebagai surat terbuka untuk baikan/balikan dengan mantan gue (terutama karena kita bahagia dengan hidup masing-masing dan mantan gue sudah menikah) tapi tentang bagaimana suatu hubungan yang jelek banget bisa dipulihkan. Enggak seperti semula, tapi tetap pulih dan positif.

Ada beberapa konflik di GoTG tapi gue mau bahas dua: StarLord dengan Yondu, dan Gamora dengan Nebula.

StarLord/Peter Quill yang masih belia diculik dari bumi oleh Yondu Udonta, alien yang bergabung dalam grup Ravagers. Sebagai anggota geng, Yondu mendidik Peter dengan keras dan sering mengancam atau memukul Peter. Peter benci akan Yondu dan meninggalkannya, ia memutus hubungan yang ada. Ketika bertahun-tahun kemudian Peter sadar bahwa Yondu keras dan kasar karena ia mempersiapkan Peter untuk dapat menyelamatkan diri dari alien jahat bernama Ego, Peter kembali menghargai Yondu. Peter juga akhirnya menerima Yondu kembali sebagai sosok ayah setelah ia tahu bahwa alasan Yondu membawa Peter di kapalnya yaitu karena Ego si jahat ingin menculik Peter untuk dibunuh dan Yondu menyayangi Peter karena ia tidak mau kisah hidup Peter sama sedihnya seperti Yondu. Di akhir hidupnya Yondu berusaha untuk berubah, lebih jujur pada Peter bahwa ia menyayanginya bahkan berkorban untuk Peter.

Di lain tempat, Nebula dan Gamora adalah dua anak angkat Thanos. Nebula menyimpan dendam kesumat pada Gamora karena ia tidak dihargai. Gamora hanya berpikir untuk selamat dari Thanos sehingga ia selalu berupaya menjatuhkan Nebula dan tidak memperhatikan bahwa Nebula merasa tersiksa secara mental maupun secara fisik. Kebencian Nebula berkembang menjadi dendam dan membuatnya ingin membunuh Gamora. Setelah bertahun-tahun saling mencoba membunuh satu sama lain, Gamora membuka kesempatan bagi Nebula untuk bicara, mereka akhirnya mencoba memahami satu sama lain sehingga mereka berdua berbaikan. Hubungan kakak-beradik yang tadinya nyaris tak dapat diperbaiki kembali erat. Mereka kini menggunakan rasa sakit masa lalu sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan menghindar dari kesalahan yang sama ke depan.

Kedua cerita ini memiliki ritme atau pola yang cenderung mirip: Suatu hubungan diakhiri karena pada awalnya ada pihak yang dirasa “terlalu jahat” untuk bisa dimaafkan. Setelah beberapa saat berlalu dan kita sebagai pribadi turut berubah menjadi lebih dewasa, kita mampu belajar dari kesalahan masa lalu atau kita belajar memberi kesempatan kedua untuk menerima/memotong orang tersebut dari kehidupan kita.

Memaafkan dan memilih antara "menerima kembali" atau "menolak", lebih mudah kalau kamu yang merasa disakiti. Kamu punya kebenaran moral yang lebih tinggi untuk melakukan hal itu. Tapi bagaimana kalau kamu ternyata termasuk orang yang menyakiti? Well...hidup akan lebih sulit untukmu.

Namun sama seperti yang kita bahas di film ESOTSM, berusaha melupakan bukan hal yang tepat apalagi kalau posisimu adalah orang yang melakukan kesalahan sehingga hubunganmu dengan sesama baik keluarga maupun pasangan  menjadi renggang atau bahkan terputus.

Kita mungkin bisa belajar dari GoTG dan Jerman (Post-Nazi) tentang bagaimana kita melangkah menjalani hidup setelah mengalami putus hubungan atau bahkan permusuhan.

Pertama, Tuhan bisa saja memberkati kamu dengan kesempatan kedua. Ia akan membantumu memulihkan hubungan dengan orang yang meninggalkanmu atau kamu tinggalkan. Kalau memang kamu melihat bahwa Tuhan sudah taruh kamu di jalan ini, berdamailah dengan orang-orang tersebut dan jangan lagi ulang kesalahanmu yang sama.

Tapi kamu juga harus memahami kondisi tertentu bila ternyata Tuhan memberikan kamu hidup baru. Hidup baru yang dimaksud di sini adalah benar-benar kesempatan baru. Kamu mungkin dipindahkan ke tempat yang tidak kamu sangka dan di tengah orang-orang yang tidak mengenal kamu sebelumnya. Kamu punya kesempatan untuk memulai sebagai pribadi yang tidak sepenuhnya terikat atau dinilai berdasarkan kesalahan yang lama.

Kesempatan hidup baru ini biasanya merupakan berkat karena kamu tidak lagi bertemu orang-orang yang dahulu menyakiti/disakiti olehmu. Tetapi kamu pun harus menerima bahwa kamu tidak akan bertemu kembali dengan orang-orang yang kamu sayangi juga. Ini adalah kehidupan yang baru, lembaran baru yang siap kamu tulis kembali tanpa terkungkung oleh kehidupan kamu yang sebelumnya. Gue punya satu orang teman yang mendapatkan berkat seperti ini karena ia melarikan diri dari keluarga yang penuh dengan KDRT dan malfungsional. Ia dibenci, ia ditekan hingga ia memilih untuk kabur dari rumah dan memulai kembali ceritanya di kota yang lain.

Perbedaan dari hidup baru dan kesempatan kedua adalah pilihan kita dan tuntunan Tuhan akan memilih untuk kembali ke tempat yang sama atau benar-benar memutuskan hubungan dengan hal yang destruktif atau bahkan bisa dibilang “toxic” untuk kita. Hal ini berlaku juga sebaliknya, mungkin juga beberapa orang yang kamu sakiti tidak dapat lagi kembali denganmu karena Tuhan melihat bahwa kalian tak dapat tumbuh dan berbuah bila bersama karena salah satu dari kalian belum berubah.

Sama seperti Yondu atau Jerman, kita tidak dapat memisahkan diri kita sepenuhnya dari kesalahan masa lalu kita. Kita tetap pernah berbuat satu hal yang tidak berkenan di mata Tuhan. Kita pernah berdosa dan bersalah. Kita tak boleh melupakan hal tersebut. Jerman menggunakan monumen dan museum untuk mengingatkan diri mereka sendiri bahwa “jangan pernah lagi kita begini”, Yondu membesarkan Peter karena ia tahu ia pernah memiliki masa lalu yang tidak baik sehingga ia ingin Peter mendapatkan masa depan yang lebih cerah. Coming to terms dan berdamai serta menerima kesalahan kita adalah bagian dari cerita hidup kita merupakan hal yang tentu saja sulit dan tidak instan. Tengok saja Saulus yang masih sulit dipercaya meski sudah berubah menjadi Paulus. Ia masih ditolak dan ditakuti oleh Orang Yahudi sebelum membuktikan diri lewat membaktikan diri dan menjadi Bapa Gereja yang menumbuhkan jemaat mula-mula. Paulus mau menerima Yesus dan perlahan mencoba berbaur dengan Orang Yahudi sambil mendalami kembali dan menyebarkan ajaran Yesus.

Dan kenyataannya, Tuhan punya banyak cara untuk mendamaikan pribadi yang berseteru dan nyaris tak ada orang yang terlalu jauh dari kata maaf. Ingat Holocaust? Kini Jerman benar-benar berubah dan mengatakan bahwa "Holocaust adalah hoax atau bohong" merupakan tindak kriminal di Jerman. Kini Jerman bersahabat dengan Perancis, Inggris serta Amerika Serikat.  Sama seperti para tokoh Guardians of The Galaxy yang saling memaafkan dan tumbuh menjadi keluarga setelah bertahun-tahun berseteru dan menyimpan akar kepahitan.


Don’t forget to remember.

Ketika gue putus, gue berusaha untuk melupakan mantan gue. Tapi ternyata keputusan gue kurang tepat. Ya, melupakan itu penting untuk tetap hidup dalam damai namun pada akhirnya gue teringat bahwa dia juga manusia yang sedang bertumbuh. Ya, kita sering lupa untuk mengingat kemanusiaan dari orang yang menyakiti kita atau sebaliknya kita lupa mengingat kemanusiaan diri kita sehingga kita terjebak dalam siklus menyalahkan diri sendiri dan tidak dapat berkembang atau move on.

Forgive, not forget. Hal ini menurut gue kini cukup tepat. Maafkan tapi jangan lupakan/minta maaf, tapi jangan lupakan. Mengingat kesalahan kita bukan untuk menyakiti diri, tapi untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sebelum gue putus, gue sebagai cowok enggak sadar penuh bahwa jokes tentang fisik perempuan itu enggak etis, gue enggak mengerti bahwa apa yang gue lakukan itu termasuk pelecehan atau paling enggak menyinggung dan menyakiti mantan gue. Tapi sekarang gue tahu apa yang dimaksud gaslighting, gue tahu apa yang dimaksud victim blaming dan guilt trip dan karena gue sekarang tahu, maka gue enggak mengulanginya lagi.

Namun manusia itu kompleks, gue mungkin bisa sembuh dari apa yang mantan gue pernah lakukan. Tapi sama seperti masih ada orang Yahudi yang takut atau benci dengan Jerman, ada luka yang nggak bisa disembuhkan oleh kita sendiri. Di sinilah manusia punya keterbatasan, ada luka tertentu yang mendalam dan hanya bisa dipulihkan oleh Tuhan saja.

Ketahuilah posisimu, apakah kamu dan orang yang tersakiti/menyakitimu sudah kuat untuk kembali merajut hubungan? Atau ternyata usahamu berbaikan dan memulihkan hubungan hanya menyentuh luka masa lalu saja? Mungkin ada baiknya kamu terima diri fakta bahwa kesempatan kedua itu tidak ada, teman-teman lamamu tidak mau bergaul denganmu lagi, di sisi lain - mereka bahagia dan kamu juga punya kesempatan bahagia juga.


Hal terakhir: Kamu sadar kan bahwa di akhir film, Peter & Gamora yang seharusnya "jadian" tetap berpelukan sebagai teman dengan side-hug? Setelah menonton film GoTG beberapa kali, gue merasa hal tersebut sangat menggambarkan gue sekarang: belum selesai berproses. Di film-film lain, "dapetin cewek" itu salah satu hadiah yang diberikan pada protagonis karena bertindak heroik. Di sini, Peter Quill/Star Lord mengakui bahwa ia belum dewasa setelah ia menyadari bahwa ia sudah menyakiti Gamora baik dengan verbal ataupun tindakan. Kita masih terus berproses dan menjadi lebih baik, bukan tidak mungkin kebodohan dan kesalahan kita masih menempel. Intinya, teruslah berupaya menjadi lebih baik.

Kamu memang tidak bisa mengontrol orang lain, tapi yakinlah bahwa kamu bisa mengubah dirimu menjadi lebih baik. Tidak semua yang rusak harus diperbaiki kembali seperti semula, kadang mereka berubah menjadi lebih indah masing-masing. 

Jangan lupa memaafkan dirimu sebelum kamu memaafkan orang lain, teruslah bertumbuh seperti Groot!

LATEST POST

 

            Pastinya sebagian dari kita sering mendengar atau mel...
by Eva Chrisviana | 30 Nov 2020

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER