Juru Minuman Raja yang Layak Menjadi Manajer Klub Sepakbola

Best Regards, Live Through This, 30 June 2020
Setiap orang itu berharga dan memiliki perannya masing-masing. Jika aku sebagai pemimpin, tidak boleh merendahkan bagian-bagian yang sepertinya tidak terlihat langsung dalam pencapaian tujuan organisasi. Semuanya penting. Semuanya pantas dihormati dan mendapat perlakukan yang sama.

Tanggal 26 Juni 2020 waktu Indonesia, klub sepakbola Liverpool dipastikan menjadi juara liga Inggris setelah 30 tahun. Liverpool terakhir juara tahun 1990. Saat itu aku masih berusia delapan tahun. Kala itu, aku sudah menjadikan Liverpool salah satu dari dua klub favoritku. Jadi, kepastian kembali menjadi juara liga Inggris adalah sebuah sukacita bagi para penggemar klub Liverpool di manapun berada, termasuk aku.

Salah satu kunci sukses Liverpool kembali menjuarai liga Inggris adalah manajer klub tersebut, yaitu Jurgen Klopp. Klopp datang ke Liverpool tahun 2015 ketika klub tersebut sedang mengalami situasi krisis menurut standar klub besar. Liverpool terpuruk di peringkat tengah klasemen liga Inggris saat itu. Berada di peringkat 10 liga, bagi klub kolektor juara liga Inggris kedua terbanyak setelah Manchester United adalah sebuah bencana. 

Sebenarnya, sejak tahun 1990 hingga 2019, sudah beberapa kali Liverpool mengalami situasi hampir menjadi juara. Saking seringnya, hingga ada sindirin jokes dari penggemar klub lain, yaitu NEXT YEAR. Coba tahun depan (lagi) untuk juara. Begitulah kira-kira candaan itu. Nah, Klopp perlahan tetapi pasti, membuat Liverpool menjadi lebih baik.

Jauh sebelum Liverpool dipastikan juara, aku sudah berencana menulis artikel tentang Jurgen Klopp. Aku mengikuti sepak terjangnya sejak awal dia melatih Liverpool. Cara dia melatih dan menjadi manajer sangat menarik untuk dibahas. Sudah banyak artikel maupun konten YouTube yang membahas tentang kepemimpinan Klopp di Liverpool. Dia banyak dipuji karena gaya kepemimpinannya. Bahkan, mantan bosnya di klub sebelumnya yang ia tangani mengatakan bahwa Klopp bisa dicalonkan jadi Kanselir Jerman. Selain itu, beberapa perusahaan besar seperti BMW, Google, bahkan Apple, menginginkan Klopp! Informasi tersebut bisa dilihat di YouTube channel Athletic Interest dengan judul How Jurgen Klopp Transformed Liverpool into a Billion Dollar Club (https://youtu.be/Xast5FpOf3E). 



Oh ya, sebelum lebih jauh, aku mau menjelaskan mengapa Jurgen Klopp diangkat menjadi manajer klub Liverpool, bukan sebagai pelatih. Padahal, Liverpool adalah klub sepakbola. Alasannya adalah, di Inggris, kebanyakan klub memberi tanggung jawab seorang pelatih bukan sekedar ditugaskan melatih para pemain agar bisa mendapatkan kemenangan di lapangan. Tugas seorang manajer klub sepakbola selain melatih para pemain, bertanggung jawab untuk mengelola segala aktivitas di klub yang berkaitan erat dengan performa pemain.

Hal itu mulai dari merencanakan pembelian dan penjualan pemain juga yang berkerjasama dengan sport director, menganalisa pertandingan tiap pertandingan Liverpool dan calon lawan, menganalisa performa fisik dan kemampuan pemain Liverpool, mengelola konsumsi setiap pemain, bahkan hingga relasi antar pemain, serta segala karyawan yang ada di Liverpool. Intinya, tugas seorang manajer lebih komprehensif dari hulu ke hilir. Hal ini sama dengan tanggung jawab kepemimpinan dalam suatu perusahaan. 

***

Jadi, awalnya aku mau mencoba membandingkan gaya kepemimpinan Klopp dengan Yesus. Namun, gaya kepemimpinan Yesus pun sudah banyak dibahas lewat berbagai artikel. Oleh karena itu, aku sempat memutuskan untuk membatalkan rencana menulis tentang Klopp. Mengapa? Aku merasa sudah cukup banyak tulisan tentang Klopp dan kepemimpinannya, begitu juga dengan Tuhan Yesus. Aku memang mau memanfaatkan euforia Liverpool sebagai juara untuk berbagi sesuatu yang bisa jadi pelajaran dan berkat bagi orang lain. 

Namun, aku tidak mau tulisanku hanya menambah sesuatu yang sudah dibahas oleh banyak artikel atau YouTube channel. Harus ada yang berbeda. Bukan sekedar supaya banyak yang baca. Namun, menambah pengetahuan dan pencerahan baru. Aku bisa saja menulis dengan tema yang sama dan bisa jadi dibaca juga sih. Tetapi, akhirnya peluangku jatuh pada motivasi untuk kebanggan diri sendiri sangat besar. Aku tidak mau itu terjadi.

Namun, di hari terakhir bulan Juni, aku saat teduh dengan membaca sebuah perikop yang memberikanku pencerahan termasuk dalam kaitannya dengan Klopp. Perikop tersebut menceritakan seseorang, yang punya hati untuk bangsanya yang mengalami penderitaan. Setelah dia mendapat ijin untuk “resign sementara” dari jabatannya sebagai juru minuman raja di negara adikuasa penjajah bangsanya, dia pulang ke negerinya. Dia bertekad membangun kembali tembok ibu kota negaranya. Situasinya mirip dengan Jurgen Klopp saat diangkat menjadi manajer klub Liverpool.  

Nama juru minuman raja itu adalah Nehemiah. Setelah sampai ke ibu kota negaranya, Nehemiah memulai dengan mengobservasi keliling tembok ibu kota negaranya. Setelah itu, dia mengumpulkan para pemimpin negaranya untuk membagikan visi pembangunan kembali tembok itu. Para pemimpin sepakat dan akhirnya pembangunan dimulai. Setiap orang, dari pemimpin tertinggi hingga rakyat biasa terlibat langsung di dalam pembangunan. Masing-masing diberi area tugas pembangunan.



Apa yang sama dengan Jurgen Klopp?


Tulisanku ini berfokus pada langkah penting yang dilakukan oleh Jurgen Klopp di awal dia mulai bertugas di Liverpool. Seperti diceritakan di konten YouTube di channel yang aku beritahu di atas, pada pertemuan pertama, Jurgen Klopp bukan hanya bertemu dengan para pemain Liverpool yang akan dilatihnya, dia juga mengajak para pemain itu bertemu dengan para karyawan yang ada di Liverpool, sekitar 80 orang jumlahnya. Hal ini dilakukan karena dia merasa “terganggu” melihat adanya “jarak” antara pemain dengan para karyawan (service staff) tersebut. Dia meminta mereka mengingat setiap nama dari para karyawan tersebut. Mulai dari tukang pijat (massage) hingga koki yang selalu memasak makanan mereka. Dia mengatakan bahwa para karyawan tersebut menjadi bagian penting untuk mendukung para pemain yang bertanding di lapangan. Intinya, setiap orang di klub Liverpool itu sama pentingnya. Bukan hanya pemain, bukan hanya pemilik klub, atau bukan hanya manajer, namun para karyawan juga. 

Apa yang dilakukan Klopp tersebut mirip yang dilakukan Nehemiah ketika pertama kali datang kembali ke ibu kota negaranya. Dia melihat semua orang penting. Dia tidak hanya bertemu membagikan visi kepada para pemimpin negaranya, namun dia melibatkan para pemimpin tersebut ikut serta membangun, sama seperti rakyat biasa membangun. Oh ya, kalian bisa baca cerita ini di kitab Nehemiah 3.

Dampaknya adalah, dalam situasi yang penuh risiko karena ada yang tidak senang dengan pembangunan tembok tersebut, akhirnya tembok berhasil didirikan. Begitu juga Klopp, walau butuh waktu, namun akhirnya dia berhasil memberikan gelar juara liga Inggris yang sangat dinantikan para pendukung Liverpool. Bahkan tahun sebelumnya, dia sudah terlebih dahulu memberikan trofi Liga Champions yang adalah trofi paling bergengsi di dunia sepak bola Eropa. Bukan hanya itu, tahun lalu dia juga mempersembahkan juara Piala Dunia Antarklub pertama bagi Liverpool. Belum lagi trofi juara Super Cup Eropa.

Ada satu hal menarik terakhir yang ingin kubagikan. Pada salah satu tembok ruang pertemuan di Liverpool terdapat kalimat “Together Strong”. Selain itu, para pemain yang ada di klub Liverpool tidak hanya didominasi oleh pemain asli Inggris atau pemain Jerman, asal negara Inggris. Ada pemain dari Mesir, dari Senegal, Belanda, bahkan dari Turki. Sangat multinasional dan berbeda. Namun, mereka bisa bersatu dan menciptakan prestasi demi prestasi hingga sekarang ini terus menorehkan sejarah. Akhirnya, benar apa yang dikatakan kalimat bijaksana seorang filsuf terkemuka dalam suratnya kepada orang-orang Korintus 12:15-26:

Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan a  kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.

Jadi, Nehemiah sebenarnya layak dijadikan manajer klub sepakbola. Kepemimpinannya sama seperti Jurgen Klopp. Nehemiah dan Klopp sama-sama memberikanku pelajaran penting bahwa ketika visi sudah dibagikan, peran dari setiap orang di sebuah organisasi, entah itu di kampus, di masyarakat, bahkan di gereja itu penting. Jika aku diberikan tanggung jawab memimpin, aku perlu meneladani mereka. Penghargaan kepada setiap orang dalam organisasi, dari level top manajemen hingga level paling bawah memberi pengaruh positif bagi kemajuan sebuah organisasi.



Setiap orang itu berharga dan memiliki perannya masing-masing. Jika aku sebagai pemimpin, tidak boleh merendahkan bagian-bagian yang sepertinya tidak terlihat langsung dalam pencapaian tujuan organisasi. Semuanya penting. Semuanya pantas dihormati dan mendapat perlakukan yang sama.

Semoga aku bisa meneladani Nehemiah dan Klopp.

LATEST POST

 

"Ibadah seharusnya memelihara kehidupan bukan malah mengancam kehidupan"Minggu, 19 Juli 20...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 11 Aug 2020

Lee Ha-yi, atau yang lebih dikenal dengan nama Lee Hi, merupakan seorang singer-songwriter asal Kore...
by Jerell Michael Cussoy | 11 Aug 2020

Sudah bertahun-tahun aku melihat anakku terkulai lemah di atas ranjangnya. Tubuhnya panas, sewaktu-w...
by Hendrik Siboro | 11 Aug 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER