Pelajaran Hidup Setelah Dua Kali Karantina Mandiri

Best Regards, Live Through This, 01 May 2020
Aku belajar benyak dari drama kehidupan yang tidak terduga terjadi di bulan Maret itu, terutama dari pengalaman karantina yang berulang-ulang.

Tidak ada yang menyangka dan tidak ada yang mengharapkan bahwa saat ini kita berada dalam suasana tidak normal karena Virus Corona.


Awal bulan Maret hingga pertengahan, semua aktivitas di kampusku di Malang berjalan seperti biasa. Berita tentang Virus Corona memang sudah ada, namun Indonesia masih adem-ayem walau sempat ada panic buying setelah informasi dari Presiden Jokowi bahwa ada dua orang Indonesia yang terjangkit.


Akhirnya, libur tengah semester di pertengahan Maret tidak menjadi libur yang ideal. Memang tidak ada kuliah, namun pihak kampus menginstruksikan mahasiswa yang tinggal di dalam asrama kampus, tidak boleh keluar selama satu minggu; sedangkan mahasiswa yang tinggal di luar kampus, tidak boleh masuk area kampus. Selain itu, kampus mewajibkan setiap karyawan dan orang yang masuk area kampus untuk cuci tangan di pos keamanan. Setelah itu bahkan harus cek suhu. Aku sebenarnya tinggal di dalam asrama, namun tepat pada hari keputusan itu keluar, pas aku sedang menginap di luar bersama istri dan anakku, karena mereka datang ke Malang selama tiga hari untuk mengurus pendaftaran sekolah anak.


Photo by Kelly Sikkema on Unsplash 



Mahasiswa di dalam kampus diinstruksikan kerja bakti tiap hari, ditambah dengan menyemprotkan disinfektan sebagai pencegahan merebaknya virus, selain dihimbau rajin cuci tangan dan menggunakan hand sanitizer. Social distancing juga diberlakukan termasuk ketika makan.


Kondisi berubah kembali ketika kampus memberikan pilihan bebas kepada orang tua setiap mahasiswa, apakah anak mereka tetap tinggal di dalam asrama kampus atau pulang. Kampus mengizinkan mahasiswa yang mau kembali ke kampung halamannya dan berencana akan mengikuti kuliah online dari rumah masing-masing.


Saat itu, Malang sudah menjadi salah satu zona merah dengan jumlah orang yang terjangkit  termasuk yang tinggi di Indonesia, selain Surabaya dan Jakarta.


Tibalah hari Senin, 23 Maret, ketika jadwal kuliah online yang akan mulai tanggal 30 Maret, sudah dibagikan. Ada pertemuan saat siang hari yang mendadak, antara seluruh mahasiswa di kampus dengan rektor kami, Pak Martus. Beliau mewakili kampus menginstruksikan semua mahasiswa yang tinggal di asrama HARUS pulang ke rumah masing-masing paling lambat hari Rabu, 25 Maret.


Mengapa? Karena di daerah dekat kampus, kurang dari 6 kilometer, sudah terdapat satu orang yang meninggal karena Virus Corona.

Sampai kapan kami di rumah masing-masing? Belum ada batas waktunya. Yang pasti kuliah tetap akan berjalan online seperti yang telah disampaikan sebelumnya, namun akan ada revisi lagi berkaitan dengan jadwal. Belum lagi, segala rencana aktivitas anak-anak bulan April, di mana aku jadi ketua panitianya, juga dibatalkan.


Aku, yang awalnya menginformasikan tetap tinggal di asrama, ketika mendapatkan pilihan untuk pulang atau tidak  mau tidak mau harus pulang. Ke mana? Aku bingung. Pilihan ada dua. Ke Tangerang, tempat papa & mamaku berada atau ke Waikabubak, Sumba Barat, tempat istri dan anakku tinggal sekarang (sebelum pindah ke Malang, rencananya bulan Juni ini).


Kalau ke Tangerang, kebutuhan untuk menunjang perkuliahanku seperti internet serta buku-buku pasti tersedia. Selain itu, karena papa-mamaku yang sudah usia lanjut tinggal berdua saja di rumah, aku bisa menolong mereka dalam membersihkan rumah atau keluar membeli kebutuhan, selain juga penghibur buat mereka. Hanya, aku akan jauh dari istri dan anakku. Satu lagi, secara finansial aku sebenarnya tidak ada dana untuk ke Waikabubak karena harga pesawat ke sana lebih mahal 3x lipat dibandingkan ke Tangerang.


Sebaliknya, kalau ke Waikabubak, secara perkuliahan aku terbatas tetapi akan tinggal dengan istri dan anakku; selain itu Waikabubak bukan zona merah dan juga daerahnya lebih didominasi alam, jadi akan lebih “segar” dibandingkan di Tangerang yang padat tanpa ada hiburan alam. Akhirnya, aku memutuskan tetap kembali ke Waikabubak. Puji Tuhan, ada seorang teman yang mendukung biaya transportasiku ke sana.







Aku belajar benyak dari drama kehidupan yang tidak terduga terjadi di bulan Maret itu, terutama dari pengalaman karantina yang berulang-ulang.

Aku termasuk orang yang harus diisolasi, karena aku keluar dari kampus pada waktu libur tengah semester, untuk menginap bersama istri dan anakku yang datang ke Malang hari Minggu, 15 Maret hingga Rabu, 18 Maret.


Ketika mereka pulang di hari Rabu dan aku kembali ke kampus, aku langsung tinggal di salah satu kamar di asrama- sendirian, bukan di kamarku yang seharusnya. Selama 14 hari aku wajib mengurung diri di kamar. Makan harus nitip teman asrama. Hanya bisa keluar pagi berjemur depan kamar dan kalau ke kamar mandi.


Ketika tiba di Waikabubak, aku diisolasi (lagi) di kamar sendiri selama 14 hari mengikuti anjuran pemerintah dan kampus, bahwa yang pulang diharapkan bisa mengisolasi diri karena kami berasal dari daerah zona merah Virus Corona.


Situasinya tidak mudah. Dua kali diisolasi berarti hampir 28 hari aku banyak di kamar. Namun aku belajar banyak hal positif dari pengalaman ini. Aku bersyukur bisa ada waktu lebih banyak berdiam diri dan menikmati waktu sepi, hampir sepanjang hari sehingga bisa lebih efektif mengerjakan tugas-tugas kuliahku.

Selain melihat pengalaman diriku sendiri, aku juga belajar banyak dari penanganan virus ini secara lebih luas. Bersyukur aku bisa melihat betapa besar perhatian, kasih dan komitmen Pak Martus beserta seluruh dosen kampusku, serta Presiden Jokowi dan jajaran anak buahnya dalam situasi yang tidak mudah ini. Mereka sama-sama melakukan yang terbaik bukan untuk diri sendiri, tetapi bagi setiap kami yang menjadi tanggung jawab mereka secara tidak langsung sebagai mahasiswa yang jauh dari orangtua, serta sebagai warganegara. Salut dan berterima kasih - karena itulah aku terus mendoakan mereka, selain juga para dokter dan perawat yang terlibat langsung menangani pasien COVID19, dengan risiko besar. 


LATEST POST

 

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Pagi itu, aku hendak berangkat ke gereja dan melihat ada yang berbeda dari helm papaku. Ada stiker b...
by Emmanuela Angela | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER