Kita Semua Gagal, Ambil Sedikit Tisu, Bersedihlah Secukupnya

Best Regards, Live Through This, 30 April 2020
"Seandainya… gue lebih berpikir panjang, hidup gue ga kaya gini" "Seandainya gue lebih berhati-hati gue ga bakal terjerumus"

"SEANDAINYA…." Sebuah kata pengandaian di mana kita mengandaikan sesuatu yang tidak kelihatan, tetapi kita berharap atau memiliki ekspektasi dalam bentuk yang positif atau lebih baik dari realita saat ini. Tidak ada yang salah dalam berandai-andai, sebagai manusia kita tentu memiliki sebuah ekspektasi dalam hidup kita. 

Siapa yang ingin hidup susah? Saya rasa tidak mungkin ada orang yang mau hidup susah di masa depan. Semua orang memiliki ekspektasi untuk hidup yang lebih baik, bukan hidup yang lebih susah atau lebih buruk. Tidak mungkin rasanya kita ingin hidup lebih terpuruk dari sebelumnya.

Namun seringkali, setiap kita gagal dalam berekspektasi, respons kita sebagai manusia seringkali menyalahkan kegagalan tersebut. Maka kata "seandainya…" keluar dari mulut kita tanpa sadar untuk menyalahkan nasib kita. Alih-alih meminta pertolongan kepada Tuhan, kita malah menyalahkan nasib di mana kita sendiri secara tidak langsung menyalahkan Tuhan atas kegagalan-kegagalan dalam hidup kita.

Source: Unsplash.com

"Kita semua gagal, ambil sedikit tisu, bersedihlah secukupnya"

Dari kutipan syair dari lagu "Secukupnyakarangan Hindia di atas, saya ingin bertanya, "Siapa manusia yang tidak pernah gagal? Ada kah?" Saya pun juga termasuk yang gagal dari saudara-saudara sekalian. Jadi, apakah gagal itu salah? Apakah kita harus meratapi keterpurukan saat gagal? 

Singkat cerita kegagalan saya adalah saat memilih teman di perkuliahan. Alih-alih mendapat teman yang positif, nyatanya mendapat teman yang toxic, sehingga saya pun terjerumus pergaulan yang tidak baik di perkuliahan, lalu berakhir dengan kelulusan yang terlambat dan nasib kemahasiswaan saya berada di ujung tanduk. Sama seperti saudara, saya pun menyalahkan nasib, kenapa saya dipertemukan dengan orang itu. 

"Seandainya Tuhan, saya tidak dipertemukan dengan orang itu!"

Umpatan demi umpatan saya keluarkan mengutuk orang itu. Melihat orang itu nasibnya lebih baik dari saya, IPK bagus, lulus tepat waktu, dan dapat beasiswa S2 ke luar negeri. Siapa yang tidak kesal? Saya pun kesal dan merasa Tuhan tidak adil pada saya. Menyesal? Tentu saya menyesal akan kebodohan mau peduli dengannya. Meski saya tahu Tuhan ini Maha Sabar, sehingga Ia tidak menghukum saya setelah mengumpat dan mengutuk orang itu (karena sejatinya manusia tidak punya hak untuk mengutuk). 

Kesimpulannya, tidak ada yang tidak pernah gagal dalam kehidupan ini. Lantas, apakah Tuhan merencanakan kegagalan? 


Berkaca pada Ayub

Ayub 17:11 (TB) Umurku telah lalu, telah gagal rencana-rencanaku, cita-citaku.

Siapa yang tidak tahu kisah Ayub? Seorang yang saleh diuji oleh Tuhan sampai nasibnya sangat terpuruk sekali. Apakah Tuhan tidak sayang dengan Ayub? Ia sayang sekali dengan Ayub. Apakah Ayub berteriak kepada Tuhan akan nasibnya? Ya, ia berteriak.

Ayub 16:10-11 (TB)  Mereka mengangakan mulutnya melawan aku, menampar pipiku dengan cercaan, dan bersama-sama mengerumuni aku. 

Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik.

Sama seperti Ayub, kita pun sering berteriak ketika mengalami keterpurukan, baik itu hal kecil atau besar. Walaupun kita tidak mengalami hal se-ngenes Ayub, namun sebagai manusia sudah hal yang biasa kita berteriak akan kegagalan kita. Kita berteriak seolah Tuhan tidak ada pada kita. 

Source: Unsplash.com

Tuhan tidak tidur mendengar teriakan kita, Ia sangat mendengar dan memperhatikan kita. Tapi kitalah yang sering merasa jauh atau menjauhkan diri kepada Tuhan. Kitalah yang sering mangkir dari perintah Tuhan. 

Jika kita kembali berkaca pada Ayub, apakah hidup kita se-saleh Ayub? Apakah kita lebih saleh hidupnya daripada Ayub? Sehingga apakah kita berhak memaki, mengumpat, dan berteriak akan ke-ngenes-an kita kepada Tuhan? Saya rasa hidup kita tidak sebagus dan sesaleh Ayub sehingga kita perlu merefleksikan diri.


Sengsara Adalah Titik Balik

Dari refleksi kita terhadap kisah Ayub di atas. Kita sadar bahwa kita seringkali menjadi "Sok Tuhan" atas hidup kita. Merasa kita benar walaupun aslinya salah. Kegagalan yang terjadi dalam hidup kita adalah salah satu bentuk bahwa kita sering lupa dalam meminta pertolongan Tuhan dalam berencana. 

Amsal 15:22 (TB)  Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.

Seringkali kita tergesa-gesa dan gegabah dalam mengambil keputusan termasuk rencana. Apa yang menurut kita berhasil dan menguntungkan di masa depan, langsung kita pikir tanpa berpikir panjang. Kadang kita lupa bahwa Tuhan juga memiliki rencana yang kita tidak pernah tahu kalau kita tidak melibatkan Dia dalam mengambil keputusan. 

Source: Unsplash.com

Seperti contoh, saat kita memilih jurusan kuliah. Kita memilih jurusan mungkin karena suka, ada yang karena disuruh orang tua dengan alasan prospeknya bagus (baca juga Serupa Tapi Sengsarakarya Gerry A. D. Munthe), ada yang karena peluang masuk atau passing grade yang mudah (kalau untuk masuk PTN), ada karena jurusan favorit jadi asumsinya bagus di masa depan, dan lain-lain. 

Sadar atau tidak kita sering melupakan peran Tuhan dalam hal sesimpel memilih jurusan bahkan kesannya kita memerintah Tuhan kalau kita "maunya begini". Kita lupa bertanya apa maunya Tuhan dalam hidup kita. Sehingga kita mengalami keterpurukan yang berakhir dalam penyesalan berlarut-larut di hidup kita dan menghakimi Tuhan.


Tidak Ada yang Instan, Kegagalan Adalah Proses

Semua yang di dalam kehidupan yang kita jalani saat ini, tidak ada yang bisa didapatkan secara instan. Bahkan ada istilah,

"Mie instan aja direbus dulu gak langsung bisa dimakan"

Image by Lindsey White from Pixabay 

Semua dalam hidup kita adalah proses termasuk sengsara akibat kegagalan. Alih-alih kita mengumpat, marah, dan berteriak. Jadikanlah kesengsaraan ini sebagai titik balik kita untuk senantiasa bertobat kepada Tuhan dan semakin membangun hubungan yang intim dengan Tuhan.

Kalaupun masih gagal hari ini, besok kita coba lagi.

Source: Instagram @nkcthi

Mari kita berjuang sama-sama dan melibatkan Tuhan di setiap langkah kita.

LATEST POST

 

Kitab suci umat Nasrani terdiri dari 66 kitab (39 kitab perjanjian lama, 27 kitab perjanjian baru)....
by Nuel Lubis | 01 Jun 2020

Ini suara saya yang sekarang melayani di salah satu another liquid place, yaitu dunia pendidika...
by Febrima Yuliana Mouwlaka | 01 Jun 2020

Hai Ignite People, bagaimana kabar kalian semua? Aku berharap kalian semua dalam kondisi yang baik d...
by Kevin J. Darmawan | 01 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER