Hari Raya, Konsumerisme, dan Konsumsi Berkelanjutan

Best Regards, Live Through This, 05 December 2020
Generasi muda dengan ciri khas pemikiran kritis dan sikap terbuka terhadap perubahan memberikan harapan besar untuk terciptanya pola konsumsi masyarakat yang lebih berkelanjutan. Kiranya pola konsumsi kita turut membagikan damai dan sukacita bagi lingkungan dan sesama.

Selamat datang di Bulan Desember, bulan yang selalu ditunggu dan dirayakan. Selain libur panjang akhir tahun, bagi umat Nasrani, bulan Desember memiliki nilai istimewa lainnya, tentu saja Hari Raya Natal. Kemeriahan Natal bukan hanya milik umat yang merayakan, tidak juga hanya dirasakan di tempat ibadah. Menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri melihat kemeriahan dan sukacita Natal dinikmati semua orang di berbagai tempat. 

Selain hiasan khas dengan aksen warna merah dan hijau, kemeriahan Natal juga ditandai dengan maraknya potongan harga yang ditawarkan pusat perbelanjaan dan e-commerce. Tidak asing kita mendengar istilah ‘winter sale’ (padahal Indonesia kan negara dua musim :D), ‘year end sale’, atau malah yang lebih eksplisit, seperti ‘christmas sale’. Jangan lupakan juga barang-barang ‘christmas special edition’ yang sangat menggoda untuk dibeli. Tentu saja semua ini ditujukan untuk menarik pembeli agar penjualan meningkat di musim liburan akhir tahun. 

Kritik tentang pergeseran makna Hari Natal telah banyak ditulis dan bahkan menjadi bahan khotbah rutin natal. Sukacita dan damai sejahtera dalam kesederhanaan selalu menjadi pengingat agar umat kembali kepada aspek-aspek religius spiritual dan tidak terjebak dalam kemeriahan semu semata. Topik tersebut selalu menarik untuk dibahas, akan tetapi menurut saya diperlukan adanya pendekatan lain, khususnya untuk generasi muda urban yang sebagian besar tidak lagi memiliki bayangan tentang ‘punch-line’ kain lampin dan kandang domba.

Photo by Daniel von Appen on Unsplash 

Tradisi dan Budaya Konsumerisme

Entah sejak kapan acara ‘christmas dinner’ dengan teman-teman sebaya di restoran instagrammable menjadi agenda rutin tahunan. Dilengkapi dengan tradisi tukar kado, yang semakin lama semakin beragam caranya seperti ‘secret santa’ yang modern ini lazim untuk dilakukan. Jujur saja saya selalu bingung setiap ikut acara seperti ini. 

Saya tidak punya masalah dengan memberi hadiah, tapi saya selalu dibuat bingung memilih mau memberi kado apa. Bagaimana jika barang yang saya berikan tidak dibutuhkan? Bukankah hanya akan menjadi beban bagi penerima kado karena dia juga bingung akan diapakan kado saya itu? Pikiran ini muncul karena pengalaman pribadi, ya sederhana saja karena memang saya tidak butuh barang itu. Akhirnya kado tersebut hanya saya simpan atau saya berikan pada orang lain dengan harapan barang itu tidak menjadi sia-sia. 

Syukurnya ada cara yang lebih baik, penerima kado boleh request kado apa yang dia ingin. Namun tetap saja, kita tetap dipusingkan untuk memikirkan barang apa yang diinginkan dalam budget tertentu. Beda cerita kalau budgetnya tidak terbatas, ya pasti saya minta PS 5, hehe. Anyway, saya yakin Ignite People paham maksud saya, bukankan tradisi tukar kado ini sering kali (tidak selalu ya) menjadi ajang pemborosan tidak perlu?

Sejauh ini saya belum menemukan landasan teologis bagaimana belanja akhir tahun dan tukar kado menjadi tradisi yang terkait dengan Hari Natal. Sepenemuan saya, kebiasaan tersebut adalah tradisi sekuler yang dikomersialisasi untuk kepentingan ekonomi (Deacy, 2013). ada faktor iklan dalam media masa yang menghujani konsumen agar termotivasi membeli lebih banyak barang. Iklan dibuat sedemikian rupa agar konsumen merasa perlu untuk memiliki, atau untuk membeli dan memberikan suatu benda sebagai bentuk merayakan Natal. Terdapat juga pengaruh media sosial yang menciptakan suatu budaya ‘influencer culture’, sebuah budaya yang menciptakan ‘peer pressure’ pada penggunanya. Hal ini selanjutnya membentuk budaya tidak sehat yang mempromosikan pencapaian status sosial melalui hal-hal material. 

Lagi-lagi saya dibuat bertanya, apakah ini semua perlu? Jangan-jangan sebenarnya kita ini terhipnotis teknik pemasaran yang semakin menjebak kita dalam budaya konsumerisme.

Photo by Tamanna Rumee on Unsplash 

Generasi Muda dan Konsumsi Berkelanjutan

Seperti yang sudah sering kita dengar, Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan menikmati ‘bonus demografi’, memiliki angkatan kerja produktif yang melimpah. Tingginya produktivitas angkatan ini selanjutnya (idealnya) akan meningkatkan daya beli masyarakat, keadaan dimana mayoritas masyarakat yang produktif mendapatkan penghasilan untuk memperoleh barang dan jasa (konsumsi). 

Meningkatnya daya beli masyarakat ini akan berbahaya jika tidak disertai dengan kebijaksanaan dalam proses konsumsi. Budaya konsumerisme menjebak konsumen dengan pola konsumsi yang tidak sadar, yang mana konsumen mengonsumsi sesuatu tanpa berpikir manfaat dan dampak dari hal yang dikonsumsinya. Padahal nyatanya, setiap hal yang kita konsumsi tidak secara ajaib tersedia di rak toko atau etalse platform e-commerce. Ada proses yang memakan waktu, sumber daya alam, dan manusia yang terlibat dalam penyediaan barang tersebut. 

Hal ini terkait dengan permasalahan ekonomi klasik tentang bagaimana memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan sumber daya yang terbatas. Semakin tinggi permintaan masyarakat, maka akan semakin terpacu produsen untuk terus mengeksploitasi sumber daya yang terbatas jumlahnya untuk dikonversi menjadi barang konsumsi. Hal ini mungkin menguntungkan secara ekonomis dalam jangka pendek, tapi dalam jangka panjang hal ini akan membahayakan keberlanjutan dari lingkungan.

Kegiatan konsumsi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah siklus ekonomi. Kegiatan konsumsi diperlukan untuk dapat membuat roda perekonomian tetap berputar. Oleh sebab itu, yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana masyarakat dapat memperbaiki pola konsumsinya menjadi lebih bertanggung jawab. Bahkan konsumsi yang bertanggung jawab merupakan salah satu tujuan dari Sustainable Development Goals (SDG), yang mana tujuan nomor 12 adalah “konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab” (UNDP, n.d.).

Generasi muda memegang peran penting dalam hal ini, pemikiran kritis dan sikap terbuka terhadap perubahan yang menjadi ciri khas dari generasi muda memberi harapan besar pada terciptanya perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi pola konsumsi yang berkelanjutan. Tingginya penguasaan teknologi dan dunia yang semakin terkoneksi membuka ruang yang tidak terbatas kepada akses pengetahuan dalam rangka pertukaran informasi yang dapat menumbuhkan kesadaran.

Photo by Dan Kiefer on Unsplash 

Terkait dengan Natal, sudah seharusnya Natal ini memberikan damai sejahtera dan sukacita bagi semua (SEMUA, bukan hanya manusia). Oleh sebab itu, kita perlu mengkritisi apakah pola konsumsi kita sudah sejalan dengan nilai tersebut. Perlu diingat bahwa konsumsi yang berlebihan menyebabkan konflik dan kerusakan yang tentu berlawanan dengan damai sejahtera dan sukacita. Dalam proses itu, kita perlu selalu mempertanyakan dan mengkritisi pola konsumsi kita. Hal ini dikenal dengan istilah "conscious consumption", yang mana konsumen menyadari bahwa konsumsi kita memiliki dampak bagi lingkungan dan sosial dalam ruang lingkup yang lebih luas (Kevany, 2019). 

Selanjutnya, tentu saja diharapkan pola konsumsi yang sadar dan berkelanjutan ini tidak terbatas pada hari raya saja, tapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita sebagai konsumen perlu ikut melibatkan pertimbangan moral dalam kegiatan konsumsi, dan pola konsumsi ini menjadi bagian dari spiritualitas kita (Wenell, 2009). Contohnya, preferensi slow fashion, kegiatan upcycle, circular economics, dan inisiatif baik lainnya yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. 

Akhirnya, penulis juga ingin mengajak pembaca untuk lebih sadar dalam membeli (mengonsumsi) segala sesuatu, khususnya dalam periode menyambut Hari Natal ini, tapi juga dalam segala waktu dan setiap hal yang kita konsumsi. Kiranya pola konsumsi kita turut membagikan damai dan sukacita bagi lingkungan dan sesama.

“The most sustainable gift is no gift at all, but if you need to do so, you can do it better.” #rethinkgifting


Referensi:

Deacy, C. (2013). The ‘religion’ of Christmas. Journal of Scandinavian Cinema, 3(3), 195–206.

Kevany, K. (2019). Conscious Consumption and Sustainable Development. In W. Leal Filho (Ed.), Encyclopedia of Sustainability in Higher Education (pp. 1–7). Cham: Springer International Publishing. https://doi.org/10.1007/978-3-319-63951-2_269-1

UNDP. (n.d.). What are the Sustainable Development Goals? Retrieved from https://www.undp.org

Wenell, K. (2009). All Consuming Christmas? Religion, Culture and Challenges of Consumption. The Expository Times, 121(3), 105–114.


LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER