Menjadi Kristen: Antara Otak dan Perbuatan

Best Regards, Live Through This, 13 April 2020
Ke-Kristenan bukan tentang seberapa banyak kita tahu tentang Tuhan, tapi seberapa banyak kita melakukan kehendak Tuhan

Tidak sedikit orang yang kecewa dengan orang-orang Kristen. Hidup yang tidak bersesuaian antara pengajaran dan kehidupan sebagai orang Kristen, membuat banyak orang kecewa. Banyak orang pandai mengajar tapi gagal dalam mengaplikasikan. Banyak orang hebat dalam pengetahuan tapi nihil dalam aksi.

D. L. Moody mengklaim bahwa di antara 100 orang hanya ada 1 orang yang membaca Alkitab dan 99 orang lainnya membaca orang-orang Kristen. Dalam kutipan syairnya Edgar Guest juga menuliskan "Karena saya mungkin salah memahami Anda dan nasehat hebat Anda, tetapi saya tidak mungkin salah memahami bagaimana Anda bertindak dan bagaimana Anda hidup."

Kedua hal ini membawa saya secara pribadi ke dalam sebuah perenungan yang dalam. Perenungan tentang bagaimana saya hidup dan menghidupi ke-Kristenan saya.

 

Saya berasal sebuah daerah di pesisir Danau Toba di Sumatera Utara, di desa saya, Ignite People tidak akan menemukan satu pun  tempat ibadah selain gereja. Ya, 100% penduduk di desa saya beragama Kristen, baik mereka Kristen Protestan maupun Katolik. Setiap Minggu, gereja selalu dipenuhi oleh ibu-ibu sementara bapak-bapak lebih banyak memilih untuk menghabiskan waktu mereka di warung kopi. Pemandangan seperti ini bukanlah hal yang asing di tempat saya dibesarkan. Di gereja hanya akan ada beberapa bapak-bapak saja, yang memang mereka sebagian adalah majelis ataupun yang turut ambil pelayanan di dalam jemaat. 

Ini adalah cerminan bagaimana sebagian orang-orang Kristen hidup. Para orangtua kemudian akan mulai mengajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Tuhan, akan tetapi bukankah pemandangan yang setiap hari dilihat oleh sang anak juga menjadi guru bagi dia? Bukankah harusnya kehidupan orangtuanya menjadi contoh bagi anak-anaknya?

Kehidupan yang tidak jauh berbeda juga saya temukan ketika saya memulai kehidupan di ibukota. Saya berteman dengan banyak orang Kristen yang selalu bercerita tentang banyak kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Bercerita tentang bagaimana ia meresponi Firman Tuhan yang baru saja kita baca bersama. Akan tetapi, apa yang kita lihat berikutnya adalah sesuatu yang berbeda. Pada kenyataannya hidupnya tidak pernah benar-benar berubah.


Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri?
-Roma 2:21


Bukankah kita sangat sering menemui orang yang sama dalam kehidupan kita? Atau mungkin kita adalah orang ini. Hidup Kristen menjadi kelihatan lebih munafik karena apa yang diajarkan berbeda dengan apa yang dihidupi. Bagaimana mungkin seorang Kristen yang menyatakan bahwa dirinya merasakan kasih Allah yang luar biasa tapi tak mampu mengasihi sesamanya? Bagaimana mungkin seorang Kristen yang hidup dan ceritanya bersama Tuhan sangat luar biasa tapi dipandang buruk oleh sekitarnya?


Seharusnya apa yang kita pahami, apa yang kita ajarkan, apa yang kita ceritakan semuanya sesuai dengan apa yang kita lakukan dalam kehidupan ke-Kristenan kita. Orang lain tidak peduli seberapa banyak kita tahu tentang Tuhan, tapi yang mereka pedulikan adalah seberapa banyak kita melakukan apa yang kita ketahui.

LATEST POST

 

Seorang aktris Korea, Park Shin Hye pernah ditanya dalam suatu acara variety show yang dibintanginya...
by Monica Petra | 26 Oct 2020

Aku setuju bahwa dalam beberapa hal, lebih baik jika kita melontarkan kata tanya "bagaimana&quo...
by Lia Oozz | 26 Oct 2020

[Disclaimer: This article is based on writer experience]As an Asian that lives in the Asian continen...
by Marcella Liem | 26 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER