Maslow dalam COVID-19

Best Regards, Live Through This, 12 April 2020
Bagaimana Maslow menilai physical distancing saat ini, dengan "Hierarchy of Needs Theory"-nya?

Dalam teori-teori motivasi yang cukup beken bagi mahasiswa psikologi, banyak yang mengaitkannya dengan adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Maslow pada 1943 misalnya memperkenalkan “Teori Hierarki Kebutuhan”. Teori ini sangat terkenal. Awalnya, Maslow mempercayai 5 hierarki kebutuhan manusia, dan teorinya ini yang menjadi acuan para pakar psikologi atau motivasi untuk menganalisa perilaku manusia. Kelimanya bahkan menjadi inti teori kebutuhan yang begitu terkenal, baik di dunia psikologi, manajemen sumber daya manusia, atau bahkan pendidikan sekalipun. Kelima kebutuhan dasar ini, menurut Maslow harus dipenuhi secara hierarkis. Mengutip dari tulisan Maslow pada 1943:

"It is quite true that man lives by bread alone — when there is no bread. But what happens to man’s desires when there is plenty of bread and when his belly is chronically filled? At once other (and “higher”) needs emerge and these, rather than physiological hungers, dominate the organism. And when these in turn are satisfied, again new (and still “higher”) needs emerge and so on. This is what we mean by saying that the basic human needs are organized into a hierarchy of relative prepotency" (Maslow, 1943, p. 375).

Walaupun teori ini kemudian berkembang dari 5 tingkat menjadi 8 tingkat, Maslow dinilai masih berhasil menggambarkan kebutuhan manusia sebagai dasar dari seseorang termotivasi. 

Saya menggunakan pendapat Danang Sunyoto (2013:2-3) untuk menggambarkan teori ini:

  1. Physiological needs, adalah kebutuhan paling dasar yang dibutuhkan setiap manusia. Kebutuhan-kebutuhan seperti: “sandang, pangan, papan” adalah dasar utama teori kebutuhan ini.

  2. Safety needs, adalah kebutuhan akan rasa aman, baik fisik maupun psikologis. Misalnya merasa aman untuk terus berkarya, tanpa takut ada yang akan menangkap atau menghukumnya.

  3. Social Needs, kebutuhan ini berkaitan dengan keberadaan orang lain di sekitar kita, misalnya: keluarga, sahabat, kekasih, rekan kerja yang mendukung, dan lain sebagainya. Kebutuhan ini terkait dengan hubungan kita bersama lingkungan sekitar kita.

  4. Self-Esteem Needs, kebutuhan ini berkaitan erat dengan rasa penghargaan yang diberikan orang lain kepada kita. Penghargaan-penghargaan, akan meningkatkan motivasi seseorang untuk melakukan hal yang lebih lagi, supaya ia bisa mencapai tahapan/tingkat yang lebih tinggi, penghargaan yang lebih besar, dan lain sebagainya.

  5. Self-Actualization, menurut Maslow adalah tingkat tertinggi dari hierarki kebutuhan. Aktualisasi diri berkaitan dengan proses pengembangan akan potensi yang sesungguhnya dari seseorang. Otonomi diri menjadi kata kunci untuk bisa memenuhi tingkat kepuasan ini.

Teori hierarki kebutuhan Maslow ini menarik bagi saya. Terutama bagi saya yang mulai berpikir “Apa yang bisa aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, saat harus melakukan physical distancing ini?”

Saya yakin, pasti kawan-kawan semua sudah mulai bosan dengan pembicaraan seputar COVID-19. Mungkin ada yang sudah mulai muak dengan penulis-penulis yang berkutat pada masalah ini saja, muak dengan berita yang “itu lagi itu lagi”. Kalau kalian merasakan hal ini, berarti kita dalam situasi yang sama. Saya mulai bosan dan tidak se-tertarik dulu untuk melihat wabah kado awal tahun 2020 ini.  Kalau bahasanya Maslow, "Saya sudah tidak termotivasi lagi untuk melihat media yang hanya menularkan ketakutan tiada henti.” Saya pribadi mulai mencari berita-berita, ide-ide, bahkan film-film dan jurnal-jurnal baru yang, okelah masih berhubungan dengan COVID-19, tetapi mampu menunjukkan sisi pandang yang lain.

Pada bagian ini, saya akan mencoba menuliskan beberapa hal positif yang saya temukan dari berbagai sumber, dan ini mengingatkan saya bahwa tidak selalu apa yang berkaitan dengan COVID-19 itu akan selalu menjadi negatif:

  1. Tahukah kamu, bahwa ternyata COVID-19, berhasil membuat AQI, indikator polusi udara di India (khususnya di ibukota New Delhi) turun drastis dari angka di atas 1000 hingga angka 114 (data 23 Maret 2020). Hal ini juga menyebabkan banyak hewan, seperti burung, bisa “mendarat” di salah satu kota terpadat dan terkotor di dunia ini.

  2. Tahukah kamu, selain India dan Italia, China, sebagai sumber dari wabah ini juga mengalami perbaikan. Tingkat polusi udara negara terpadat di dunia ini merosot drastis. Bukan hanya China, Jepang pun mengalami hal yang sama, hewan-hewan bahkan bebas berlarian di jalan-jalan raya, layaknya di kandang tertutup mereka.

  3. Tahukah kamu, bahwa ternyata COVID-19 membuat banyak orang yang mungkin selama ini jarang menyapa satu sama lain, menjadi saling menyemangati. Mereka bernyanyi bersama dengan tetangga apartemen mereka, saling meneriakkan kata-kata positif untuk kawan yang bahkan ada di beda apartemen, yang pada hari biasa, bahkan mereka cuekin. Manusia menjadi berusaha untuk peduli juga dengan manusia lain.

  4. Tahukah kamu, bahwa ternyata COVID-19 juga membuat kesadaran kita untuk bersikap hidup bersih dan sehat, yang mungkin sering kita lupakan dulu, menjadi digalakkan kembali. Kita semakin sadar untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kita.

Mungkin ada yang bertanya, apa hubungan Maslow’s Needs Theory dengan COVID-19 saat ini? Apa pula hubungannya dengan cerita-cerita positif di atas? Tunggu dulu, saya ingin membagikan satu hal, kawan. Saya mulai curiga, sebenarnya keberadaan COVID-19 ini ternyata juga memancing kita untuk berpikir dan berperilaku berbeda daripada hari-hari biasa kemarin. Ya, mungkin karena memang ada himbauan physical distancing dari pemerintah, tetapi, sadarkah bahwa secara psikologis, kebutuhan-kebutuhan kita, yang mulai sulit untuk terpenuhi (makan, jalan-jalan sama teman, hingga kegiatan-kegiatan untuk mengaktualisasi diri ke luar), dan memaksa kita untuk berpikir dan bertindak berbeda. 

Kita berusaha mencari jalan untuk membuat wabah ini segera berakhir dan kembali beraktivitas. Sadarkah kita bahwa kebosanan kita sudah membuat kita berusaha bertindak kreatif untuk segera menyelesaikan pandemi ini? Saya ingin melompat sedikit jauh, kira-kira, jika pandemi ini sudah berakhir nanti, apakah kita masih akan tetap melakukan hal positif seperti sekarang, seperti: Menjaga kebersihan, olahraga, mengatur waktu tidur, dan sebagainya? Apakah tetap kita akan melakukan hal-hal yang kita lakukan saat physical distancing ini, yang ternyata membuat banyak perubahan positif bagi alam, dan bagi hubungan kita? Saya kira, Maslow tepat untuk menempatkan berbagai jenis kebutuhan itu untuk mendorong kita melakukan sesuatu. Tugas yang mungkin perlu dipikirkan adalah, mampukah kita juga tetap menjaga kegiatan-kegiatan positif selama masa physical distancing ini saat nanti wabah berakhir? Terakhir, tetap berpikir positif, tetap jaga kesehatan, dan tetap semangat untuk menghadapi hari-hari ini.


LLC-2020

Yang sedang mencoba untuk berpikir positif.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER