Merindukan Rumah Tuhan

Best Regards, Live Through This, 30 March 2020
ketika keadaan memaksa untuk beribadah di rumah, apakah anda merindukan rumah dan jemaat Tuhan?

Di tengah maraknya virus Covid-19 yang menjadi wabah di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia, pemerintah dan keadaan memaksa kita untuk mengisolasi diri guna meminimalkan peluang tertularnya virus tersebut. Kondisi ini juga membuat banyak gereja mengeluarkan kebijakan terkait dengan ibadah. Banyak gereja yang akhirnya memutuskan untuk menyelenggarakan ibadah dalam bentuk live-streaming, family-altar, dan lain sebagainya. Gereja patuh dengan anjuran pemerintah mengenai social-distancing, guna meminimalkan peluang tertukarnya virus di tengah keramaian.

Ketika kondisi memaksakan saya untuk menyelenggarakan ibadah di rumah, saya teringat akan Mazmur 137.


Di tepi sungai-sungai Babel

Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis,

     apabila kita mengingat Sion.

Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu

     kita menggantungkan kecapi kita.

Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita

     meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian,

dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita:

     "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!

Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN

     di negeri asing?

Jika aku melupakan engkau hai Yerusalem,

     biarlah menjadi kering tangan kananku!

Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku,

     jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku!

Ingatlah, ya TUHAN, kepada bani Edom,

     yang pada hari pemusnahan Yerusalem mengatakan: "Runtuhkan, runtuhkan sampai ke dasarnya!"

Hai puteri Babel, yang suka melakukan kekerasan,

     berbahagialah orang yang membalas kepadamu perbuatan-perbuatan yang kaulakukan kepada kami!

Berbahagialah orang yang menangkap dan memecahkan

     anak-anakmu pada bukit batu!

Photo by Davide Berardi on Unsplash 

 Ketika bangsa Israel dibuang ke Babel oleh Tuhan, mereka mengingat momen indah ketika mereka masih di Yerusalem. Di sana mereka bisa memuji Tuhan dengan bebas. Dalam momen pembuanganlah, mereka menyadari bahwa kesukaan hati mereka adalah memuji Tuhan di Yerusalem.

 Kehidupan Israel di tanah pembuangan berjalan dengan baik, bahkan kemungkinan berjalan lebih baik dari kondisi mereka di Israel mengingat Babel saat itu adalah bangsa adidaya. Saat itu mereka sudah menjadi bagian dari Babel dan hidup mereka baik-baik saja. Kondisi yang baik ini tidak membuat mereka betah untuk tinggal di Babel dan membuat mereka melupakan Yerusalem. Mereka berseru, “Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing?” 

Ketika mereka begitu sedih karena merindukan Yerusalem, justru orang-orang Babel meminta mereka untuk menyanyikan nyanyian sukacita dari Zion. Bagi orang Israel, nyanyian dari Zion hanya bisa dinyanyikan di tempat kudus, yakni di Yerusalem, tidak bisa dinyanyikan di sembarang tempat. Kondisi ini memperparah kesedihan Israel. Kesedihan utama Israel adalah kerinduan akan memuji Tuhan di Yerusalem. Kondisi yang baik tidak membuat mereka terlena dan melupakan Yerusalem. 

Photo by Levi Clancy on Unsplash 

Saat itu kondisi rumah Tuhan di Yerusalem sudah dihancurkan oleh Babel yang juga dibantu oleh Edom. Itulah mengapa dalam Mazmur ini, pemazmur mengutuk Edom dan Babel. Pemazmur begitu hancur hatinya melihat rumah Tuhan yang biasanya di sanalah mereka memuji Tuhan dihancurkan oleh bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Pemazmur berharap pada Tuhan supaya suatu saat nanti Tuhan memulihkan Yerusalem dan Israel bisa kembali memuji Tuhan di sana. 

            Bagaimana dengan kita? Di tengah maraknya virus covid-19 yang memaksakan kita untuk menjaga jarak dan menghindari keramaian, bahkan kita mungkin dipaksa untuk beribadah di rumah, apakah hati kita merindukan rumah Tuhan? Apakah kita juga sedih karena tidak bisa memuji Tuhan dalam jemaat? Memang sepertinya tidak mungkin untuk menjalankan ibadah konvensional, tetapi apakah kita terlena dengan kenyamanan tidak perlu pergi ke tempat ibadah dan melakukan ibadah non-konvensional di rumah saja? Atau kita seperti Israel yang berseru kepada Tuhan supaya mereka bisa segera menyanyika pujian mereka di Yerusalem? Memang saat ini kita bebas memuji Tuhan di mana saja, tetapi apakah hati kita merindukan memuji Tuhan di dalam kumpulan orang kudus?

Jangan sampai kondisi ini membuat kita terlena. Justru dalam kondisi ini, mari kita berseru kepada Tuhan memohon pemulihan supaya pandemik ini segera Tuhan hilangkan. Kita satukan hati untuk berseru pada Tuhan memohon anugerah-Nya supaya kita bisa kembali menjalankan aktivitas kita dengan normal, terlebih lagi kita bisa kembali menyelenggarakan ibadah konvensional, memuji Tuhan dalam rumah Tuhan bersama jemaat Tuhan. Tuhan memberkati setiap kita.

LATEST POST

 

Rasanya bukan hal yang asing jika kita menjadi skeptis dengan hal-hal yang bersifat doktrinal. Benar...
by Ellen Kosakoy | 28 Sep 2022

Hari itu, Seekor burung pipit luka sayap sebelah. Bulu rontok bak tersayat sembilu.Berteng...
by Hendrik Siboro | 28 Sep 2022

Shalom, Ignite People! Kali ini, aku mau membagikan kesaksian nyata dari seorang suster yang ma...
by Nuel Lubis | 28 Sep 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER