Dark Jokes: Bukan Tentang Paman Coki

Best Regards, Live Through This, 27 April 2021
"You're so dark. Are you sure you're not from the DC Universe?" (Kata Deadpool di film sekuelnya)

Bicara soal dark jokes, tentu saja yang ada di pikiran saya pertama kali adalah sosok sang Dzulumat yang ibadahnya di Gramedia dan mempunyai julukan "The Son of Horus". Tapi sebenarnya sebelum "diperkenalkan" oleh Majelis Lucu Indonesia (MLI) melalui Reza 'Coki' Pardede, menurut Pandji Pragiwaksono, dark jokes itu sudah ada dari dulu... cuma baru dikasih nama sekarang, jadi kesannya kayak sesuatu yang baru saja ada.

Saya pikir juga begitu. Seingat saya, saat masih duduk di bangku SMA dulu, ada lelucon dari seorang teman saat itu:

"Tahu gak kenapa Hitler memburu orang-orang Yahudi pas perang dunia ke-2? Karena mereka itu umat pilihan Allah, jadi menurut Hitler gak cocok tinggal di bumi dan lalu diberangkatkan ke surga."

Saya juga dulu pernah melihat gambar 2 ekor babi sedang menari diiringi permainan piano oleh seekor babi lainnya, dan di belakang mereka ada foto dua irisan daging (bacon) yang tertempel di dinding bertuliskan "Dad" dan "Mom".


"Jokes yang tidak menyinggung adalah jokes yang tidak lucu." (kata Adriano Qalbi, di sebuah video di channel YouTube MLI)


Mengapa sebuah lelucon itu dianggap "gelap"? Menurut saya, lelucon itu adalah buah pikiran seseorang yang sedang atau pernah merasakan gelapnya hidup; dan awalnya, ia membuat sebuah lelucon untuk menghibur diri mereka. Tetapi karena dianggap lucu dan dikatakan ke banyak orang, olehnya atau oleh orang yang mendengarnya pertama kali, kemudian tersebarlah lelucon itu ke telinga orang banyak. Tapi setelah orang banyak itu tertawa karenanya, kemudian memikirkannya, lalu menjadi seram/sedih sendiri dan muncul satu bentuk emosi, maka lelucon itu dianggap "lebih baik tidak dibicarakan dan disimpan sendiri saja (di dalam 'ruang' yang gelap)". Hingga muncul istilah "lelucon gelap" atau dark joke untuk mengistilahkannya.

Misal seperti Dani Aditya, anggota MLI juga, sering menyampaikan lelucon-lelucon yang sebenarnya adalah keresahan dirinya sebagai seorang difabel yang ke mana-mana memakai kursi roda. "Saya itu bingung ketika anak saya beranjak besar dan harus mengajarinya berjalan... kan buat ngajarin orang lain itu harus bisa dulu ya? Gimana kalau nanti saya diajak lari sama anak saya?" Katanya. Meskipun disambut dengan tawa, ya karena memang itu tujuannya (kalau gak ada yang tertawa, kan malah menyedihkan buat seorang komedian tunggal), tapi dari sini saya belajar kalau "lelucon yang gelap" itu tidak selamanya buruk. Bahkan kembali ke Dani Aditya, ia sendiri menyampaikan dark jokes di setiap penampilannya itu dengan tujuan agar masyarakat memandang orang-orang difabel itu sama derajatnya seperti manusia pada umumnya. "Menjadi seorang difabel itu gak perlu dikasihani. Cukup dikasih perlakuan yang sama seperti yang lain dan dimengerti." Katanya.


"A dark joke is still a joke. Kalo dark doang tapi kaga ada lucunya, menurut gw sih jatohnya cuma cari sensasi." (kata Ernest Prakasa, di sebuah cuitannya di Twitter)


Tidak ada salahnya sih menertawakan sebuah lelucon yang "gelap", hingga kemudian diberi label "dark jokes". Tetapi harusnya tidak berhenti di situ saja. Ada yang harus direnungkan kemudian: apa sih yang mendasari perspektif lelucon itu? Karena tentu saja ada sebuah alasan mengapa kita menganggapnya lucu dan tertawa... atau malah tersinggung. Hal ini, perenungan yang dilakukan secara pribadi, bisa menjadi sebuah cara untuk semakin mengenal siapa diri kita di saat ini. Sebab untuk beberapa orang, mungkin (jika tertawa/tersinggung) adalah tanda kalau (pernah) ada luka batin di dalam dirinya dan bisa jadi belum disembuhkan.

Menurut Pak Siswanto, salah seorang psikolog yang mengajar di sekolah konseling GKI Gejayan, salah satu ciri luka batin adalah mudah tersinggung/emosi pada hal-hal yang oleh sebagian besar orang dianggap sepele/sebuah lelucon. Misalnya ketika di WAG saling lempar lelucon soal perselingkuhan dan ada yang marah, bisa jadi ia (yang marah) pernah terluka karena diselingkuhi pasangannya (dan belum berdamai/menyembuhkan lukanya). Atau ketika di tongkrongan pada becandain hukuman yang cocok untuk seorang koruptor, eh ternyata yang cabut duluan punya anggota keluarga yang dipenjara karena terlibat dalam kasus korupsi.


"The rest of us can find happiness in misery." (sepenggal lirik lagu "I Don't Care" dari Fall Out Boys)


Tapi sebenarnya ada yang lebih berbahaya dan sangat tidak pantas diucapkan ketimbang sebuah dark jokes, yaitu dark opinion. Sebuah perkataan yang "gelap" karena muncul bukan dari keresahan atau cara untuk menghibur diri sendiri, tapi muncul dari pikiran yang penuh dengan iri hati dan dengki (dark mind). Misalnya memfitnah rekan kerjanya sebab dirinya tidak bisa bekerja lebih baik darinya. Atau menilai orang lain sebatas prasangkanya saja yang berasal dari pemikiran sempitnya. Orang-orang dengan dark mind ini sering dicap sebagai toxic people, karena memang semua ucapan/tindakannya sering "meracuni" mereka yang di sekitarnya. Tidak jarang, orang dengan dark mind ini menganggap sedang melontarkan dark jokes yang padahal tidak lucu sama sekali, tidak ada sedikit pun unsur komedi; dan seperti kata Ernest Prakasa tadi, jatuhnya hanya mencari sensasi. Tapi apakah orang dengan dark mind ini kemudian bisa menyadarinya (kalau leluconnya bukan dark jokes)? Well, bisa saja tidak... karena mereka yang "se-frekuensi" dengannya bisa saja tertawa saat mendengar "dark joke"nya.

Sehingga kalau mau dipikir-pikir lagi, di dalam hidup sehari-hari, setiap kita bisa saja melontarkan dark joke (atau yang menurut kita itu "dark joke") tanpa disadari. Di lingkungan kita, setiap orang bisa mengatakan apa pun dan dianggapnya sebagai "guyonan" yang mungkin bisa saja menyinggung beberapa orang. Meskipun memang tidak semua lelucon itu memiliki konotasi negatif, semuanya tergantung bagaimana kedewasaan kita menerima lelucon tadi; dan mungkin saja malah membuat kita bersedih karena berempati akibat memahami sudut pandang si penutur dark jokes ini. Oleh karenanya sebuah dark jokes bisa juga digunakan sebagai salah satu cara untuk mengenal diri kita lebih lagi; misal saat ini kita senang (melempar lelucon atau tertawa) pada becandaan yang sexist atau rasis... ya akhirnya jadi tahu kan siapa sebenarnya diri kita di saat ini?

Sebab karakter aslinya manusia itu bisa terlihat ketika ia melakukan/mengatakan hal-hal sepele, seperti jokes, di kesehariannya; karena di saat itulah dia tidak menguasai ketidaksadarannya. 



"Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (kata Tuhan Yesus, menurut kitab Matius di pasal 12 ayat 35-37)

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER