Suicide, Will I?

Best Regards, Live Through This, 28 January 2020
Karena aku sudah lelah, dan aku sudah berhenti berpikir, dapatkah bunuh diri menjadi jawaban utamanya? Dapatkah bunuh diri menyelesaikan semuanya?

Coba pikirkan, apa yang akan kita (which means aku dan kamu) lakukan saat seorang yang kamu kenal, entah teman, sahabat, pacar, atau keluargamu mengatakan, “Aku ingin bunuh diri”? Coba pikirkan suatu kondisi di mana kamu sedang diam termenung melihat seseorang memaksakan diri untuk membuat nyawanya hilang. Coba pikirkan dalam kondisi seperti ini, apa yang akan kamu lakukan?


Saat aku masih mengambil studi strata 1, ada 2 orang teman wanita dan 1 kawan priaku datang ke kosan. Entah apa yang membuat mereka datang di saat yang berbeda, selisih satu bulanan ke kamar kos lusuh itu. Mereka berpikir: “Aku ingin mengakhiri hidup, Kas. Kamu ada masukan caranya gimana?” atau “Aku udah nggak kuat lagi, Tuhan hanya memberikan aku beban yang tiada henti. Kenapa tidak ambil sekalian nyawaku ya, Kas?” dan temanku yang pria mengatakan: “Seandainya bunuh diri itu tidak dosa, I will do it now!”. Saat itu, aku katakan bahwa “Bunuh diri itu dosa”. Logikanya, respon masyarakat umum bersama dosa itu tidak membawa kita pada cerita hidup yang lebih baik. Katanya begitu. Tapi itu dulu.

Photo by Toa Heftiba on Unsplash

3-4 tahun kemudian, aku terkena stroke dengan hadiah spesial penyumbatan di batang otak. Saat itulah aku baru bisa berpikir dengan menggunakan sandal dan sepatu temanku (maksudnya akhirnya, mengetahui bagaimana pemikiran mereka). Saat aku merasa hidup ini, sorry to say, “Very very very sucks!” Saat aku hidup seakan tanpa Tuhan dan mungkin mempertanyakan di mana Dia yang katanya setia itu? Di titik itulah aku baru sadar, mungkin bunuh diri menjadi alternatif paling akhir. Aku katakan paling akhir, karena aku dan ketiga temanku yang berpikir untuk bunuh diri ini bukannya tidak melakukan apa-apa lho! We have done our best that we can do! Namun apakah hasilnya seakan Tuhan diam? Bukan! Bukan diam, tapi Dia sedang mengajak aku dan mereka main petak umpet. Kita diminta untuk menemukan di mana Tuhan saat aku terpuruk, di mana Dia saat aku menyerah, di mana Dia saat aku tak sanggup bangkit lagi? Dimana? Apakah Dia lupa akan kami? Masih bersyukur aku dan temanku itu, walaupun sudah merencanakan untuk bunuh diri, masih bisa untuk bangkit dengan  tenaga terakhir, layaknya Ultraman dengan kedipan lampu di dadanya. Namun, pertanyaan di mana Tuhan itu masih ada, bahkan dalam diriku sendiri. Di mana Dia yang katanya bersama dengan kita? Di mana Dia yang katanya setia? Di mana Dia yang katanya akan menolong? Di mana kah, Dia?


Yang lebih mengerikannya lagi, saat aku menulis pengalamanku di media sosial, orang mencibirku dengan perkataan, “Kamu kan hamba Tuhan, masak berpikir seperti itu sih?” Saat kalimat ini dilontarkan, ingin aku berteriak, “ HAMBA TUHAN SESUCI APAPUN PASTI PERNAH DROP DAN SEAKAN KEHILANGAN TUHANNYA! HAMBA TUHAN ITU JUGA MANUSIA!” - aku teriakkan kalimat itu berkali-kali, dengan dalih pembenaran bahwa “Tidak ada manusia yang sempurna kawan!” Mungkin saat aku dan teman-temanku yang kuceritakan di atas berada dalam sebuah pernyataan Tuhan itu tidak ada, mungkin juga di saat itulah aku dan kita semua “gagal” menjadi cermin-Nya bagi orang di sekitar kita.

Photo by Tim Marshall on Unsplash

Kita hanya mampu berpegang pada teori bahwa bunuh diri itu salah, tetapi kita tidak mampu memberikan diri kita, lagi-lagi untuk menjadi a shoulder to cry on-nya mereka. Aku hanya berpikir, sejauh apa kita memperhatikan sekitar, sehingga sadar ketika ada kawan, rekan, atau apalah namanya itu memilih untuk mati lebih cepat. Di mana kita saat tahu seseorang sekarang sedang mengusap air matanya dan berpikir untuk menjadikan handuknya sebagai alat untuk gantung diri? Di mana kita saat tahu seseorang sedang tertidur dan menangis dengan gunting di sebelah kiri bantalnya dan cutter di sebelah kanannya? Di mana aku dan kalian? Aku sedang tidak ingin berbicara tentang masalah pastoral, tetapi tadi, sudahkah kita menjadi a shoulder to cry on bagi mereka yang sedang berpikir untuk menyelesaikan hidupnya? Sudahkah? 


Aku ingin membagikan sesuatu yang sederhana dan pasti kalian pernah mendengarnya (sampe bosen kali!):

  1. Jangan pernah pendam masalahmu sendiri, banyak kawanku memintaku untuk lebih banyak cerita, karena benar, dengan bercerita, setidaknya kita sudah mengalihkan pikiran bahwa “Aku sendiri” kepada “Ada mereka yang mau mendengarkanku". Jangan berpikir, semua orang itu sama brengseknya, ingat, masih ada yang peduli dengan kita, mungkin kita saja yang tidak menyadarinya. Saat aku menulis IG Story malam itu, aku baru sadar, banyak orang yang sebenarnya mau mendengarkan keluh-kesahku. Bagi kalian yang merasa butuh temen curhat, sekarang ambil HP kalian dan telepon sahabat terdekat, meskipun aku nggak yakin dia akan menyelesaikan masalahku dan kamu, tetapi paling tidak kita sadar bahwa kita masih memiliki teman, dan tidak hidup sendirian. Itu adalah satu hal positif yang dapat membantu kita untuk melangkah paling tidak seperti Ultraman dengan lampu kedap kedipnya. 
  2. Cobalah untuk menjadi kawan atau rekan, atau sahabat bagi siapa pun. Ingatlah kawan, kita di dunia ini punya tujuan, salah satunya mungkin memperhatikan sesama kita. Cobalah untuk mendengar keluh-kesah orang di sekitar kita, dan jangan katakan kalau kamu tidak bisa. Karena bagiku, orang yang berkata tidak bisa menjadi teman curhat bagi orang lain adalah orang paling egois di dunia. Kita nggak pernah tahu apa yang kawan kita butuhkan, tetapi hanya dengan duduk di sebelahnya dan menyediakan tissue, itu sudah cukup. Jangan pernah anggap diri kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena bagiku, orang ini lupa bahwa Tuhan menempatkannya di suatu keadaan dengan suatu maksud khusus!


Kiranya tulisan kali ini bisa membantu kita. Ingatlah, kamu, aku, kita tidak hidup sendiri, ada mata-mata lain yang melihat, telinga-telinga lain yang mau untuk mendengar, dan yang lebih penting, jadikan diri kita sebagai mata dan telinga bagi sebanyak mungkin orang. Aku nggak menjamin, apakah dengan melakukan dua hal di atas, kita dapat mengurangi jumlah kejadian bunuh diri di sekitar kita, tetapi paling tidak ada usaha yang kita lakukan. Tuhan memberkati.



NB: kalau mau curhat sama aku, please let me know. Aku akan berusaha menjadi pendengarmu kawan!


LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER