Weekend: "Family Time" atau "Peer Time"?

Best Regards, Live Through This, 23 October 2019
Apa yang biasanya teman-teman lakukan untuk mengisi weekend kalian? Hangout sama teman-teman? Sekadar jalan ke mall sendirian? Atau bepergian bersama teman maupun sendirian?

Halo, semuanya! Jika kalian membaca artikel ini saat weekend, maka selamat menggunakan weekend ini dengan bermanfaat, ya. By the way, apa sih, yang biasanya teman-teman lakukan saat weekend (selain ke gereja)? Kan ada tuh, orang-orang yang bilang kalau weekend adalah waktu untuk quality time bersama yang terkasih (atau me time). Gimana nggak? Weekdays kita sudah sangat padat dengan berbagai kegiatan; entah itu untuk sekolah, kuliah, bekerja, belum lagi kalau ada lembur. Nggak heran kalau weekend adalah waktu yang tepat untuk bersantai sebelum memasuki hari Senin lagi.

Nah, kembali ke pertanyaan di atas, apa yang biasanya teman-teman lakukan saat weekend?

Hangout bersama teman-teman?

Main game?

Hibernasi?

Mencuci maupun menggosok pakaian?

Mengumpulkan niat dan ide untuk menulis?


Nggak salah, kok, kalau kita melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Tapi apakah kita pernah memilih untuk menggunakan weekend yang berharga ini bersama keluarga?


Mungkin seringkali kita merasa kalau quality time bersama keluarga akan terasa sangat membosankan karena tidak ada aktivitas-aktivitas menyenangkan di dalamnya. Hal ini bisa membuat kita menyepelekan makna di balik family time tersebut. Contohnya, family dinner di tempat makan bisa menjadi sesuatu yang menjemukan (apalagi kalau keluarga kita tidak terbiasa melakukannya. Rasanya pasti canggung, kan?). Padahal di zaman modern seperti sekarang, kita pasti akan memilih untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang memuaskan keinginan kita saat weekend. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan masa-masa sebelum maraknya penggunaan gadget; biasanya orang-orang akan lebih enjoy saat ber-quality time bersama keluarga, paling tidak satu hari (kadang-kadang bisa sampai menginap di luar kota).



Namun saat ini, sebagai generasi milenial, biasanya kita cenderung memilih untuk hangout bersama teman-teman daripada family time. Mungkin saja ini karena gengsi kita terlalu besar untuk sekadar bilang, “Pa, Ma, hari ini makan yuk, kita ke restoran yang enak,” daripada, “Cuy, skuy lah ke kafe A, lagi ada cashback, nih!” Yaaa, kalau boleh jujur, rasanya lebih mudah untuk mengatakan kalimat kedua dibandingkan yang pertama. Disadari atau tidak, rasa gengsi kita pada keluarga (khususnya pada orang tua) seringkali lebih besar daripada yang lain. Padahal sebenarnya, tidak ada salahnya lho, kalau kita (yang sudah bekerja ataupun yang telah punya tabungan sendiri) sesekali mentraktir papa, mama, kakak, maupun adik kita untuk menambah kedekatan relasi keluarga. Jika belum terbiasa pergi bersama keluarga, makan bersama di rumah tanpa kesibukan lain (no gadget or anything else on dinner table) juga bisa membuat kita lebih mengenal anggota keluarga. Mungkin saja di situ ada cerita yang selama ini tidak pernah kita dengar akhirnya terungkap di meja makan. Selain makan, kita juga bisa menonton film bersama (bisa di bioskop atau di rumah), mengadakan family altar, ataupun bersih-bersih rumah bersama mereka.

By the way, ada seorang penatua di gereja saya yang pernah bercerita mengenai salah satu tradisi keluarganya, yaitu adanya waktu bersama keluarga minimal satu bulan sekali. Entah itu makan atau pergi ke suatu tempat, mereka harus menghabiskan waktu satu hari tersebut bersama keluarga. Saat sedang berkumpul, mereka mempunyai sebuah "peraturan": Tidak boleh memainkan handphone selama berkumpul, dan mereka harus saling mengobrol saat berkumpul. Hmmm... ini bisa jadi salah satu contoh penerapan bagi kita, teman-teman. Dalam situasi dan kondisi tertentu, misalnya saat makan maupun pergi bersama keluarga, seharusnya kita juga mencoba untuk menahan diri tidak memainkan gadget kita (kecuali kalau ada hal urgent), namun justru untuk mengobrol bersama keluarga. Melalui obrolan-obrolan itu, relasi kita dengan keluarga yang mungkin selama ini kurang harmonis dapat menjadi lebih baik lagi. Yang tadinya gengsi untuk bercerita pada orang tua, sekarang kita bisa lebih terbuka kepada mereka, bahkan kita dapat meminta saran mereka ketika ingin melakukan sesuatu. 




Efesus 6:1-4, 

“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu– ini adalah suatu perintah yang penting: seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbagahia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”


Dari ayat di atas, Paulus mau mengingatkan kita bahwa sebagai anak-anak, kita harus menaati dan mengasihi orang tua kita. Ingat hukum Tuhan yang kelima: "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." (Keluaran 20:12). Hangout bersama teman-teman memang dapat dilakukan saat weekend, tetapi selama masih tinggal bersama keluarga, mari kita mencoba membiasakan diri untuk menghabiskan satu hari bersama keluarga. Well, bagaimanapun keadaannya, keluarga kita tetaplah berharga di mata Tuhan karena Dialah yang menciptakan mereka, dan sudah seharusnya kita juga memandangnya demikian. Belum tentu orang tua maupun saudara (bahkan kita) dikaruniai umur panjang oleh Tuhan. Karena itu, jangan sampai kita meninggalkan memori buruk (atau belum berekonsiliasi) dengan minimnya waktu yang kita berikan pada mereka.

Selamat menentukan pilihan weekend kita dengan bijak.

Jangan sampai menyesal atas keputusan yang kita buat.

LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER