Pergumulan Batin Setelah Diberhentikan Sepihak dari Kantor

Best Regards, Live Through This, 22 June 2019
Selamat dari diriku, dan untuk diriku sendiri yang menginjak hampir 1 tahun berkecimpung dalam dunia kerja.

 Long story short, aku yang berkuliah di Jurusan Psikologi sudah ingin sekali melanjutkan pendidikan Magister sejak sebelum sidang skripsi. Bagiku, pendidikan yang lebih tinggi dapat menunjang karirku di masa depan. Namun sayang, aku mendapat sedikit masalah di belakang layar yang membuatku harus memilih. Pilihannya hanya ada dua waktu itu: Pulang ke kampung halaman dan meneruskan pekerjaan orang tua, atau memulai pekerjaan sendiri di kota rantauanku ini, Surabaya. 

Aku masuk ke dalam pergumulan besar, aku berdoa, dan mencari beberapa orang untuk berdiskusi mengenai ini. Tekad terbesarku ialah tinggal di Surabaya dan mengerjakan pekerjaan yang membuatku bahagia. Tak lama, seorang dosen menawarkan lowongan pekerjaan di salah satu perusahan otomotif premium ternama. Awalnya, aku tidak tahu perusahaan apa dan bagaimana pekerjaan yang harus aku kerjakan di sana. Setelah berpikir secara mendalam, aku langsung mengirimkan CV, padahal aku pun belum diwisuda ketika itu. Ijasah sebagai jaminan pun tidak ada. Tetapi aku percaya dengan banyak hal yang kumiliki, perusahaan ini dapat percaya kepadaku. 

Seminggu setelahnya, aku dipanggil interview. Bagian ini adalah bagian yang sering ditanyakan oleh banyak orang dalam rangkaian proses melamar pekerjaan. Aku mendapat banyak pertanyaan, seperti : “Gimana bisa sih kamu masuk perusahaan itu?” atau “Jadi apa sih kamu di sana?” 

Yuk, kita lihat bersama-sama bagaimana proses ini dapat kulalui. Pertama, hal yang selalu aku tekankan ketika interview adalah menjadi apa adanya dan jujur. Hal itu terlihat ketika aku menjawab pertanyaan-pertanyaan wawancara. Hal lain yang juga penting adalah tidak menanyakan gaji dan tunjangan yang akan diterima. Mengapa? Karena hal yang aku yakini dari dulu adalah, kalau kita sendiri bisa memberikan dengan sepenuh hati atau totalitas, orang lain tidak akan buta dan tidak akan diam saja. Kalau orang mungkin cuek dengan pekerjaan yang sudah kita lakukan, pasti Tuhan melihat dan tahu. Rezeki itu ada takarannya dan ada mangkoknya sendiri – sendiri. Aku selalu berpedoman bahwa mangkokku sudah diatur oleh Tuhan. Aku ikut dengan apa yang sudah Tuhan berikan. 

Beberapa hari kemudian, aku diberi kabar bahwa aku diterima dan pada minggu depannya aku sudah harus siap untuk bekerja. Pekerjaan pertamaku ini kukerjakan dengan penuh semangat. Pekerjaan ini juga membuatku bersemangat menjalani hari – hariku. Tak urung, aku sampai rela pulang malam dan tidak makan agar pekerjaanku selesai dan memuaskan atasanku. 

Semakin lama aku semakin mengenal banyak orang kantor dan mengenal cara kerja mereka, mengenal cara mereka memecahkan masalah, bahkan mengenal bagaimana mereka membuat masalah di kantor. Beberapa bulan kemudian, saya mulai merasa geram dengan lingkungan kerja kantor yang penuh tekanan, sesama karyawan saling menyerang, bermuka dua, menjilat, bahkan karyawan dapat membuat cerita palsu. Namun, di balik banyaknya rekan sekantorku yang memiliki karakter buruk, aku mengenal rekan kantor yang selalu menyemangatiku, mau membantuku, mau menemaniku ketika pekerjaan sudah cukup menghimpit. 

Tepat ketika hampir satu tahun aku bekerja di kantor ini, pada bulan Mei, saya diberhentikan dari kantor dengan alasan yang menurut saya sepihak dan tidak masuk akal. Saya digosipkan melakukan hal yang tidak baik kepada para customer kantor. Rekan kantor menusukku dengan cara mengadu domba. Hari itu, aku merasa langit runtuh dan jatuh tepat di kehidupanku. Aku mengingat kembali, bagaimana aku yang meskipun selalu merasa tidak nyaman dengan kantorku, memilih untuk tidak keluar dari kantor. Masalah tersebut tidak membuatku tak ingin berjuang di kantor. Mengerjakan pekerjaan dengan maksimal merupakan kewajibanku. Saat itu aku merasa kecewa, marah, diperlakukan tidak adil, dan cukup tertekan.

Hal yang paling aku rasakan adalah ketidakadilan - dimana aku sendiri merasa karyawan bukan hanya menjadi alat dari perusahaan. Ketika perusahaan menilai karyawan tidak dapat mengikuti segala hal yang mereka inginkan, besar kemungkinan seorang karyawan menjadi sepertiku sekarang ini. Aku sedang di tahap tak ingin berlama – lama kecewa dan marah akan kenyataan ini. 

Mungkin aku sendiri pun belum tahu bagaimana bekerja yang baik atau bagaimana menjalakan pekerjaan sepenuh hati. Mungkin juga, Tuhan mengharapkan aku kembali melanjutkan cita – citaku di bidang psikologi dan culinary. Hidup bukan hanya sekedar menyesal, kecewa, marah, dan menghayati rasa tidak adil. Namun, hidup juga perihal rasa syukur, cinta, passion dalam kerja, dan keikhlasan. Poin terbesar yang kurasakan dalam pergumulanku saat ini adalah tentang ikhlas dan syukur. Tantangan besar di dalam sebuah kata singkat yang dapat mengobati segala luka yang ada dan sakit yang dirasakan. 

Melalui pergumulanku, aku ingin mengajak teman – teman yang sudah selesai wisuda dan sedang mencari pekerjaan untuk bekerja sesuai apa yang kita cintai, apa yang membuat kita terus bahagia dalam melakukannya. Jauh sebelum ini, aku pernah bekerja di salah satu tempat di mana gaji pun sangat jauh dari standar gaji pada umumnya. Namun, tekadku hanya ingin mendedikasikan diri secara penuh. Aku percaya bahwa Tuhan sudah mengatur rezeki bagiku. Tak ada satu hal yang akan terlewat dari rencana Tuhan, 

 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”
-Matius 6:25

Setiap hal yang aku lakukan, selalu berpedoman pada ayat di atas. Tuhan tak pernah ingkar akan janji dan kuasaNya. Ada dua kalimat yang aku yakini Tuhan itu Maha Baik lebih baik dari pada atasan kita yang sering mentraktir makan siang.

Bagi teman – teman yang sedang duduk di meja kerja masing – masing atau sedang dalam perjalanan dinas, tetaplah bersemangat. Bagi temen-teman yang sedang mencari pekerjaan, tetaplah berpengharapan, mari berdoa supaya Tuhan mempercayakan pekerjaan yang baik bagi kita. Aku juga berharap supaya dapat menyalurkan talenta dan kegemaranku di bidang psikologi. 

Ini salah satu ujian Tuhan lagi, Tuhan sedang mengajakku lebih kuat dan tahan banting dari tahap sebelumya. Aku bukan si pejuang hebat, aku hanya belajar untuk terus-menerus berusaha. Selamat dibanting teman – teman, dariku yang tak pernah lelah berjuang. 


LATEST POST

 

Kita semua tentu tidak asing dengan DC Comics—salah satu perusahaan komik terbesar di Amerika...
by Febrian Eka Sandi Nugroho | 09 Oct 2019

Beberapa tahun lalu, saya mengerjakan penulisan untuk sebuah majalah ‘untuk kalangan Kris...
by Sobat Anonim | 09 Oct 2019

Kekacauan di Indonesia yang terjadi beberapa pekan terakhir melukai hati saya. Bisa dibilang, setiap...
by Eleazar Evan Moeljono | 05 Oct 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER