The Beauty in Uncertainty Journey

, What's Next, 05 November 2022
"Banyak hal tak kupahami dalam masa menjelang, tapi t'rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang." - Ira F. Stanphill

Hai, Ignite People! How is life? 

Akhirnya setelah ga nulis ed letter, Minbi kembali lagi   Terima kasih buat Minli dan Minna yang udah bikin ed letter buat bulan-bulan lalu, yahh.

Anyway, tahun 2023 sudah ada di depan mata, nih. Gimana rencana Ignite People buat satu tahun ke depan? Rasanya makin ada banyak ketidakpastian yang menunggu, ya. Atau jangan-jangan cuma Minbi aja, nih, yang kepikiran gini gara-gara mau cari pekerjaan?   Tapi kalau boleh jujur, ada banyak hal yang bisa menyebabkan ketidakpastian. Mulai dari prediksi resesi global, perang yang terjadi di antara beberapa negara yang berpotensi memengaruhi perekonomian dunia, pandemi yang seolah-olah belum puas tinggal di antara kita, maupun pergumulan pribadi masing-masing yang tidak akan cukup ditulis semuanya di ed letter ini.

Yah, hidup ini memang tidak ada yang pasti selain kematian. Tapi Minbi juga jadi ingat sama perkataan salah satu staf kampus, "Yang pasti di dunia ini cuma ketidakpastian yang benar-benar ada." Secara teori, kita (yang khususnya diperlengkapi di gereja maupun institusi Kristen lainnya) belajar kalau Tuhanlah yang mengendalikan segala sesuatu. Bahkan Ibu Inawaty Teddy sering menekankan, "God is the first cause." Kalau kalimat ini berakhir di sana, maka seolah-olah kita, manusia, hanya bisa terima jadi apa pun keputusan yang Tuhan tetapkah bagi kehidupan kita. Padahal tidak, karena dosen Perjanjian Lama tersebut juga menegaskan, "Anugerah Allah tidak menghilangkan tanggung jawab manusia." Penekanan serupa juga disampaikan oleh Pdt. Yakub B. Susabda, "God is never be the only cause."

Kenapa begitu?


Photo by Jakub Kriz on Unsplash


Well, Minbi akan kasih spoiler sedikit: sebagai manusia, kita berbeda dari makhluk hidup lainnya yang tidak mampu berpikir berdasarkan akal budi mereka. Bahkan lebih dari itu, manusia dibekali oleh kemampuan untuk berelasi dengan Tuhan, tetapi manusia memilih untuk memberontak dari-Nya. Ingat, kitalah yang memilih untuk berbuat dosa, karena kemungkinan itu pun tetap ada walaupun sebelumnya manusia diciptakan segambar dan seturut dengan Allah. Agustinus pernah menjelaskan, sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa, kita bisa memilih untuk tidak berdosa (posse non peccare) atau justru memilih berdosa di hadapan Allah (posse peccare). Namun di dalam anugerah-Nya, setelah dosa menyeruak di dalam diri semua orang tanpa terkecuali, Tuhan tetap mengizinkan kehendak bebas kita tidak dicabut seketika. Ini pun dibuktikan melalui pengurbanan Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, yang memberikan kehidupan kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya dan memampukan mereka untuk memilih tidak berbuat dosa.

Nyatanya, di dalam keberdosaan kita, ketidakpastian pun melekat pada kita. Kita takut salah mengambil keputusan. Mulai dari soal jodoh, jurusan kuliah dan kampusnya, tempat kerja, sampai kepada daily life seperti hari-ini-mau-makan-apa dan pergi-naik-apa saat hujan tiba. Ketidakpastian ini menyebabkan kebingungan, kan? Mau stuck saja, waktu terus berjalan. Mau melangkah, risiko atas keputusan kita pun belum tentu bisa ditanggung.

Kabar baiknya adalah selalu ada keindahan di dalam ketidakpastian yang kita miliki.

Keindahan ini tidaklah selalu berupa hal-hal spektakuler, tetapi bisa dalam wujud pengenalan kita terhadap Tuhan maupun diri sendiri yang makin diperkaya. Keindahan ini pula dapat tampak dari pengalaman iman kita dalam mengambil keputusan-keputusan tertentu. Bahkan sekalipun terbaca klise (karena ed letter dibaca, kan, ya, bukan diomongkan secara lisan HEHE), keindahan di dalam ketidakpastian juga bisa berupa pengharapan yang melampaui akal pikiran kita sebagai manusia. Oleh karena itu, kali ini Minbi mengajak Ignite People untuk membagikan pengalaman mengenai ketidakpastian yang menyibakkan keindahan tersendiri, maupun pandangan Alkitabiah yang dapat memperkaya pengenalan kita terhadap Tuhan di balik kemisteriusan-Nya.


Selamat berkarya!   

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER